Thursday, January 12, 2006

Pembantu dan Tukang Becak (fiction)



Sebagai penarik becak di Manhattan, Gagas cukup kenal liku-liku jalan di sana. Walau downtown dan midtown kelihatannya datar-datar saja, namun ia tahu semakin ke atas sebuah tempat di peta Manhattan, semakin menanjak ke atas jugalah jalan-jalannya. Maka, ketika seorang nyonya tua menawarkan lima puluh dolar untuk membawanya dari 33rd ke 87th street di Upper West Side, dia pikir-pikir dulu. Lebih dari lima puluh blok. Penamaan jalan di New York memang memudahkan orang membayangkan lokasi sebuah tempat. Semakin kecil nomor jalannya, semakin dekat ke downtown di selatan, dan sebaliknya.
Lima puluh dolar uang yang banyak, tapi perjalanannya juga jauh dan melelahkan. Tanjakan di uptown jelas semakin terjal. Tapi dia belum mendapatkan apa-apa sejak membawa keluar becaknya dari pangkalan. Ia tahu tak ada penarik becak kulit putih yang akan mengiyakan tawaran ini, namun ia melihatnya sebagai penglaris untuk memulai hari. Upper West Side adalah daerah tuan dan nyonya kaya, mungkin ia akan mendapat penumpang lagi di sana. Lagipula, kalau mereka ingin ke bawah, jalan-jalan akan menurun nantinya.
Hari yang dingin untuk musim semi, tapi tak cukup dingin untuk menahan keringatnya. Ia berhenti dan membuka jaket menjelang masuk Central Park. Jalan di dalam taman jelas lebih nyaman ketimbang harus berhenti di setiap persimpangan. Pedalnya memberat, walau dia sudah masuk ke tansmisi paling ringan, tanda bahwa tanjakan semakin menantang. Sesekali ia harus mengerem juga, karena banyak orang menyeberang. Sialan, hari ini banyak sekali orang jogging siang-siang. Mengapa ada banyak orang yang tidak perlu mencari uang?
Si Nyonya senang sekali dengan pilihan rute ini. Ia pun bercerita kenangan-kenangan. Cerita-cerita itu sederhana saja, kencan pertama dengan pacar di skating rink, perpisahan dekat the plaza waktu sang pacar berangkat perang. Naik becak, perjalanan adalah tujuan, dan pemandangan memanjakan angan-angan. Gagas lalu membayangkan cerita-cerita si Nyonya dalam gambar hitam putih, seperti foto dan film tua. Jangan-jangan cherry blossom indah magenta ini pun dulunya hitam putih belaka?
Mereka keluar taman, dan lalu lintas di atas sini memang tak seramai daerah sibuk di bawah sana. Betul dugaan Gagas, Sang Nyonya turun di depan sebuah gedung apartemen mewah. Dia memberikan tip sepuluh dolar, menjadi awal yang bagus untuk hari ini. Setoran becak tiga puluh dolar di musim semi, dan jumlah yang sama sudah ia kantongi sendiri. Kalau benar ia bisa mendapat penumpang turun ke midtown, maka hampirlah tercapai setengah targetnya untuk sepanjang hari. Mungkin ia bisa mentraktir Carol nonton film malam nanti? Tapi apa bisa mendapatkan penumpang di daerah ini?
Aku harus menjauhi jalan besar, ke tempat orang-orang tak mudah bertemu taksi. Tapi kenapa sepi sekali di sini? Ah, itu ada perempuan dengan tas belanja. Wait a minute, she wears… kebaya…!!!
*

Carol telah mengembalikan becaknya ke pangkalan dan membayar uang setoran. Kini ia menanti dan menanti. Dicobanya menelepon Gagas, tapi ponselnya mati. Jarang-jarang Gagas membuatnya cemas begini. Dia penarik becak ulung, seringkali perolehannya di atas tukang becak lain. Aneh, padahal dia jarang mangkal di pusat-pusat wisata. Turis-turis jelas bukan buruan utamanya. Padahal, turislah yang biasanya memberi tip paling banyak. Ditambah lagi, dengan penampilannya, Gagas akan lebih mudah dipercaya turis-turis luar negeri, apalagi dari Asia.
Aneh, tak biasanya dia ingkar janji. Mana orang itu? Aku baru berniat mentraktirnya nonton film setelah makan malam. Kalau sudah terbiasa bersama, makan seorang diri sungguh tidak menyenangkan. Kuharap ia sudah makan dan kami masih bisa nonton pemutaran terakhir. Bagaimana ya ketika bertemu dengannya nanti? Sudah bolehkah aku merajuk, sedikit?
Darn. Move orang ini lambat sekali. Memang aku yang harus menyesuaikan diri. Enam bulan selalu bersama, dan belum pernah ia menyentuhku. Well, tapi dia selalu manis, siap membantu, dan kupikir, reaksi kimia antara kami tidak terbantahkan. Kami menikmati saat-saat bersama, dan seharusnya sekarang sudah tiba waktunya kami bercinta. Sialan. Aku akan berhenti menjadi perempuan baik-baik saat bertemu dengannya nanti.
*
Namanya Asih. Lengkapnya Rumiasih. Dua puluh tiga tahun. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga diplomat Indonesia. Asih Asih Asih. Hihihi… namanya, apa ya artinya?
“Saya ndak tahu, ndak ada artinya…”
“Oooh….”
Pemalu. Atau misterius?
“Sudah pernah jalan-jalan ke Times Square? Kita belanja sayuran di sana saja mau…? Dekat sana ada toko besar buat belanja juga.”
“Ndak. Saya ditunggu. Lagipula, nyonyah saya pakai kartu diskon toko sayuran di seratus sepuluh street itu.”
“Pulangnya naik apa? Sama saya lagi ya? Saya tunggu, masih gratis.”
“Jangan aah… pokoknya nanti saya bayar.”
“Lho, tadi katanya pakai kartu subway dari nyonyah?”
“Iya, becaknya saya bayar pakai uang saya sendiri.”
“Waduh, nggak perlu…”
“Nggak pa pa…”
Gengsian. Oke.
“Iya, yang ini tokonya. Stop di sini.” Asih turun dari becak. “Ini uangnya.” Ia mengulurkan uang tiga dolar.
Gagas tersenyum. Tiga dolar untuk dua puluh blok lebih. Ia mengurungkan niatnya untuk menolak uang itu. “Terima kasih, mbak. Saya tunggu di sini ya?”
“Tapi saya mungkin lama lho…?”
“Nggak apa-apa.”
Asih tersenyum. “Mas namanya siapa?”
Mereka berkenalan. Gagas menunggu Asih hampir satu jam, lalu ia pun mengantarkan Asih pulang. Asih kelihatan senang, ia tidak perlu menjinjing tas belanjaan naik turun tangga kereta subway. Sampai di rumahnya, ia membayar lagi tiga dolar.
“Sini saya bantu”
“Ndak usah, saya bisa sendiri kok, kan tinggal naik lift.”
“Saya bantu bawa sampai lift?”
“Ndak perlu, itu doorman saya datang, biasanya dia yang bantu.”
“Apa kamu sibuk setelah ini?”
Asih kelihatan kaget.
“Hmmm.. eh.. saya… harus mulai masak.”
“Yaah, sayang sekali. Ini malam sabtu, dan malam ini akan hangat lhoo… . Kalau begitu, mungkin kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”
Doorman apartemen menyapa Asih dan mengambil keranjang belanjaan. Ia menunggu.
“Hmmm.. saya bawa belanjaannya ke atas, nanti saya turun lagi. Tapi kita harus kembali ke sini jam lima ya?”
“I promise.”
Malam itu Gagas tidak bertemu Carol.
*
Sejak betemu Asih, Gagas hampir tidak pernah lagi bekerja. Setiap hari ia plesiran bersama Asih. Seperti hari ini. Asih memakai kaca mata hitam dan Gagas membawa belanjaan. Asih kelihatan senang sekali.
“Seneng ya kamu?”
“Iya… habis rame…”
“Kok seneng cari yang rame…?”
“Belum pernah. Saya sudah dua tahun di sini, tapi belum sempat ke mana-mana. Gak ada yang nemenin”
Mereka menyusuri East Village, Soho dan Chinatown. Di Chinatown Asih masuk ke salon kecantikan. Gagas menunggu di luar sambil merokok dan melihat-lihat. Asih keluar dari salon, dan jantung Gagas hampir berhenti melihatnya. Rambut Asih kini berwarna coklat kemerahan.
“Kenapa rambutmu di-cet…?
“Kan bagus begini… . Eh, bagus kaaan?”
“Eh, Bagus bagus… hehehe… bagus kok.”
“Makasih, sekarang kita makan yuuk, aku traktir. Habis itu temenin aku belanja ya? Aku mau beli oleh-oleh buat temen-temen di kampung.”
“Memang kapan mau pulang?”
“Kontrakku masih enam bulan lagi. Mas Gagas kapan pulang?”
“Ehm… aku gak tau…”
Keduanya diam sebentar. Gagas lalu tersenyum.
“Yuuk, katanya mau cari oleh-oleh. Di sebelah sana tuh tempatnya.”
*
Carol mengernyitkan dahi.
Mana mungkin Gagas jatuh cinta padanya? Dia baru saja kenal. Apa yang ia ketahui mengenai perempuan sundal itu? Love at first sight? No way. There’s no such thing.
Sudah jelas, Gagas rindu kampung halamannya. Dia memang sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Ayahnya, dulu seorang tukang becak, telah lama meninggal dunia. Ibu Gagas yang bekerja keras membiayai sekolah anaknya. Gagas lulus sekolah tinggi pelayaran. Sepuluh tahun yang lalu, ketika sampai di sini, ia tidak pernah kembali ke kapalnya yang bersandar di pelabuhan. Nekat, nekat. Modalnya hanya selembar foto kopi paspor, karena paspor aslinya ditahan sebagai jaminan oleh nahkoda. Nekat. Sejak itu dia bekerja di restoran atau di konstruksi bangunan. Sampai akhirnya ia melihat pangkalan becak di Manhattan.
Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.
Betapa tidak rasionalnya dia. Bersamaku dia lebih memiliki masa depan. Menikah denganku berarti memutihkan statusnya di negara ini. Tapi masalah ini bukan soal status. Kupikir ia sudah bisa melupakan asal-usulnya. Ini salahku. Seharusnya kularang ia makan di restoran Indonesia setiap minggu. Atau seharusnya kubuang potret ibunya sedari dulu. Tapi manalah mungkin aku tega berbuat itu?
Ini pilihannya. Dia harus memilih, perempuan itu atau aku? Huh, laki-laki memang selalu emosional dan terburu-buru. Ketika waktu berlalu, dia akan tahu ini cinta monyet yang semu. I mean, for God’s sake, betapa cocoknya kami, begitu saling melengkapi. Seharusnya sedari awal aku lebih cepat menerkamnya.
Hampir setiap hari ia pelesir bersama perempuan terkutuk itu. Ini sudah minggu kedua. Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.
*
“Nunez, Asih sudah turun?”
Nunez, si Doorman apartemen Asih kelihatan lega melihat Gagas. Ia berlari menghampiri, dan dengan tergesa-gesa mencoba bicara, sulit sekali, mengingat bahasa Inggrisnya yang pas-pasan.
“Mister Gagas, Asih pergi. Seluruh keluarga pergi. Mister diplomat dipindah ke Geneve… mendadak…! Mereka semua pergi. Baru saja…! Berangkat ke bandara…!”
Muka Gagas berubah pucat. Ia belum pernah ke bandara dan naik pesawat. Ia mengambil ponselnya.
“Carol, eh, hari ini kamu belum narik kan? Temani aku ke bandara. Asih pergi, aku harus menyusulnya. Apa? … Aku belum pernah ke bandara. Kamu harus pergi dengan saya. … Please, kamu harus menolong temanmu. … Carol, ini soal hidup dan mati. … Apa? … Ehm, Nunez, bandara mana? … Newark…! Kita bertemu di mana? Ya… ya… tempat itu aku tahu. … Baik, kita bertemu di sana.”
*
Dalam kereta api dari bandara. Carol tidak tahu apa dia harus senang atau kasihan pada Gagas. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya lurus ke depan, seolah-oleh ada pemandangan indah di terowongan gelap di luar jendela kereta subway.
“Gagas, cut it off. Memangnya gampang cari pesawat terbang di bandara? Kamu seharusnya bertanya nama maskapainya, jadi kita tidak perlu berputar-putar di setiap terminal…”
Gagas tidak bisa berkata-kata.
“Come on, Gas. Dia tidak berharga. Apa yang kamu tahu tentang dia? Dari ceritamu, kamu tertarik pada dia hanya gara-gara dia pakai baju yang sama dengan yang ada di foto ibumu.”
“Saya naksir berat…”
“Naksir berat? Kamu ter-obses sama dia…”
“Cinta itu obsesi.”
“Obsesi itu untuk remaja, Gagas. Cinta itu rasional. Seperti yang kita punya.”
Gagas kelihatan agak kaget pada keterus-terangan Carol. Ia menolehkan wajahnya sedikit, walau matanya tetap memandang ke luar jendela.
“Apa yang kita punya?”
“Hey, kalau kamu tidak bertemu perempuan sundal itu kita sudah bersama sekarang.”
“Jangan memanggil dia sundal”
“Ya, maaf. Tapi jangan bilang kamu nggak merasakan apa yang saya rasakan, jangan bilang kamu tidak menikmati semua percakapan kita. Percakapan yang membuat kita selalu pulang larut malam dan terlambat berangkat menarik becak. Kita punya banyak waktu susah dan senang bersama. Tujuan hidup kita sama, dan aku bisa gila kalau gak dengar suara ketawamu.”
Gagas masih tertegun, tapi air mukanya berubah.
“Kamu cuma kangen ibu kamu. Kamu pasti kepingin bisa pulang.”
Gagas tidak berkata apa-apa. Dia terdiam lama, bahkan ketika mereka sudah berganti kereta. Carol pun memilih menahan diri. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Barisan orang pulang kerja menyerbu gerbong mereka.
“Hati-hati dompetmu.”
Carol memegang dompet di tas punggungnya. Dia menoleh, Gagas sedang menatapnya.
“Hati-hati bibirmu.”
Gagas memegang pipi Carol, lalu mencium bibirnya. Carol kaget, tapi dia membalas ciuman itu.
“Gas, maaf ya aku bilang kamu kangen pingin pulang. Kapan-kapan aku ikut kamu liburan ke sana. Sekarang, yuk kita makan malam di… apa nama restoran kecil itu? Warteg?”
Gagas tersenyum dan mengangguk, mereka berciuman lagi.
*
Kereta berhenti, rel kereta api dan stasiun yang mereka lalui kini melayang di atas jalan. Gagas dan Carol berjalan turun tangga sambil berpegangan tangan. Di anak tangga terakhir, tepat di depan warteg, Gagas memperlambat jalannya.
Di pintu masuk warteg, Asih sedang duduk sambil memegang kopernya. Asih melihat Gagas, lalu melompat dan memeluknya.
“Aku kabur Mas, aku gak mau ikut ke Jenewa. Aku mau di sini sama Mas Gagas.”
Semua terpaku. Bahkan pegangan tangan Gagas dan Carol belum terlepas.

Queens, NYC, 12 Januari 2006
birthday present for Dhyta

Tuesday, May 24, 2005

Welcome to the Global Village (essay)

KosMag Magazine, NYC, issue 2, May 2005
http://www.kosmag.com/

Marshal McLuhan is right; we do live in a global village. People in a village in India or Malaysia can talk about Prince Charles’ latest marriage like he’s one of their neighbors. They can watch the whole event “with their own eyes” on television, and gather gossip about this trans-oceanic neighbor’s impending marriage from that magic box and tabloid page 6 news. With globalization, the whole world is given a chance to be a part of Prince Charles’ marriage; global media provides people in the world new identities and new boundaries.

The main problem with this new global media culture is power imbalance. Mass media, the most powerful cultural agent, always acts as a propaganda machine for the whole capitalist industry. Indeed, they are supported by and depend on fashion and household industry, food chains, sports, apparel, and other consumer impulses to fund film and television programs. Not only does mass media create global culture but it creates global consumers. It creates myths about these products and consumption, making people in the world attach new meanings to stuff they buy and the money they spend. A diamond ring is not merely a stone with metal around your finger, it is a sign of wealth, beauty, loyalty, and eternity. Having a cell phone symbolizes reliability, connectivity. Not being able to discuss the latest box office smash –or the royal marriage- around the water cooler can make one feel out of the loop. Wearing expensive clothes simply makes people confident. And damn, consuming always makes me feel good.

And who can blame Hong Kong hip-hop artists with oversized costumes doing what they like if the image can make money? Can we really tell perennial couch potatos how unproductive their lives have become by channel surfing from one gossip show to soap operas? But then, who is considered responsible for resisting these vehicles for capitalist propaganda?

The dynamics of supply and demand within global culture can be surprising. Hollywood movies have difficulties reaching Indian audiences, where the preference lies with Bollywood musicals. Similarly, there are almost no imported programs in prime time Indonesian television, even though producing local programs is at least four times more expensive than buying the imported ones. On the other hand, mainstream industry is losing when it comes to competing with newer forms of underground-non-industrial media. In 1997, I heard ska for the first time at an underground stage in a Jakarta ghetto. Around the same time the economic crisis crippled Indonesia and it was years before I finally saw an “original” ska music video on Indonesian MTV.

Our global community has to be understood in terms of how, regionally, the dominant economy is latent to be the dominant culture. We can say Hollywood dominated the world, but Bombay’s Bollywood is more powerful in South Asia and Egypt’s social industries dictate much of the media culture in the Middle East. Just like New York and Los Angeles culture represents the United States’ global cultural face, a Jakarta dialect is considered the coolest everyday language by youth in Indonesian big cities. A friend of mine from Jakarta went to college in another town and got a side job as a radio DJ. Because he speaks in a Jakarta dialect, he became more and more popular and ended up taking over the station.

Since competition exists within industries, it is hard to predict what is going to be popular among whom. Native celebrities might be more popular than Hollywood actors in smaller towns, domestic brands can be more popular than “expensive” Levi’s, but at the same time, these local “brands” might be following trends coming from international influences. On the other hand, it is hurtful to see how multinational companies co-opt the “ethnic” without crediting local artisans or giving much thought to context and usage. But this tide also has a flip-side. When some of my colleagues visited a remote village in Indonesia that can only be reached by walking five hours from the closest river in the middle of Borneo, they asked if some local artists could give them tattoos of traditional patterns. This seemingly harmless request reflected a classic division between generations. Traditional tattoos could only be found on elder members of the village while the younger generation relied on “western” tattoos. The tattoo artists in the closest city decorated their client’s bodies with “classic” symbols like the Buddhist swastika, yin yang signs, anchors or “ethnic” patterns from Hawaii, Aboriginal tribes, or Irish celtic symbols. Some people in that village even had tattoos of airplanes or words like, “I love you”. Not until members of the younger generation saw that people from the outside valued their traditional patterns did they begin exploring their own identity.

While large corporations take local images out of context, they also make efforts to tailor their products to successfully market to specific communities. To be successful in Asia, American fast food chains adapt and offer familiar flavors to reach the Asian consumer tongue. In addition to the American triumverate of ketchup, mustard, and mayonnaise, all fast food chains in Indonesia serve hot chili ketchup as the most crucial condiment along with rice options. Pizza Hut and Burger King offer pizza, pasta and burgers using “local” ingredients and recipes. Coca-Cola has renamed their original product as “classic” when they had to differentiate the taste –and the ingredients– for a more and more segmented market. All western restaurants in predominantly Muslim populations have to have a halal sign, pork-free and special handling of the meat in accordance to Islamic teaching, to serve the local community.
Some would say that these localized changes show that multinationals care about their consumers. Naah, the only thing they care about is money. Still, I don’t know whether McLuhan happy or upset with this situation. I still don’t care about Prince Charles Marriage, but I know shopping makes me feel good, and I always miss eating my KFC with rice and hot chili sauce.

Tuesday, March 29, 2005

selamat hari paskah (essay)

(for some mailing list/list serve/e-groups)

meskipun saya bukan penganut yang terang-terangan dari agama-agama 'yang diijinkan beroperasi' di indonesia, tapi yaaah... masa nggak boleh? hihihi...

tanpa bermaksud mengurangi makna hari-hari besar ini bagi teman-teman yang merayakannya, harus diingat bahwa perayaan paskah, natal, atau valentine's day, yang semuanya berbasis pada peringatan kejadian besar dalam sejarah agama Kristen, bisa juga dilihat dari sudut pandang konsumerisme atau kapitalisme. Ini kelihatan terutama di kota-kota besar di pesisir amrik yang penduduknya banyak yang malas ke gereja tapi tetap membeli coklat berbentuk telur paskah, membeli hadiahdan pohon natal, dan bunga mawar merah dan ke restoran pada malam valentin. Pokoknya toko-toko rame deh (apa lagi ada teman Kristen yang bilang hari valentin itu sebetulnya cuma nebang nama, padahal orang pingin merayakan awal mating season burung-burung).

Teman sekelasku yang keturunan yahudi malah ikut membeli pohon natal dan meletakkan hadiah natal dalam kaus kaki buat pacarnya. Dia mengklaim natal bukan event-nya orang Kristen lagi. Paskah ini aku dapet banyak coklat berbentuk telur dari semua bule yang ketemu di hari itu, dan kita bisa melihat perayaan hari valentin bahkan dilakukan siapa saja di kota besar di indonesia. Selama ada yang bisa dijual, ritual dan peringatan sakral pun bisa dipaksa menjadi profan. Bukan hanya hari besar agama, Helloween, Thanksgiving, dan Independence Day, semua perayaan dimanfaatkan, tradisi dijadikan alat penggenjot penjualan. Promosi dan sale besar-besaran memaksa orang untuk ikut ambil bagian. Kapitalisme memang hebat.

(sebetulnya, di tangan lain (on the other hand), merayakan sesuatu tanpa alasan yang jelas itu wajar aja juga sih, apalagi kalau kasusnya orang-orang yang gak punya kepercayaan apa-apa lagi itu. Semua orang perlu perayaan, semua orang perlu ritual-nya masing-masing, seperti apa pun bentuknya. Ada yang selalu menunggu 'Desperate Housewives' hari minggu, ada yang rutin buka situs porno, ada yang rajin membuka blog cowok -trus ketahuan yang punya blog lagi- hehehe.. Semua wajar kok, tapi itu semua soal lain. Kita kan lagi ngomongin makna hari besar keagamaan.)

Pergeseran perayaan hari besar agama ini dari sakral menjadi profan juga sudah terjadi di konteks hari lebaran, yang kebetulan juga punya tradisi pakai baju baru. Untung Matahari Departement Store atau Pasaraya belum terjun ke bisnis kambing kurban. Or should I put it this way: untung belum ada orang yang menyumbang kambing gara-gara nonton iklan: "kambing gagah agar anda tampak keren dan dermawan di hari raya, everything is about image".

Sekali lagi, saya sangat bersukur punya teman-teman yang masih bisa merasakan esensi dari suatu perayaan hari besar, bukan sekedar karena tradisi dan ikut-ikutan, apalagi menjadi korban iklan.

(hehehe.. walau saya salah-gunakan argumen anti tradisi ini juga kalau dibangunin pagi-pagi untuk solat hari raya: "males ah, ngantuk, itu kan cuma tradisi. solat wajib aja gak pernah, masak yang nggak wajib dibela-belain...?")

selamat paskah semuanya

Thursday, October 28, 2004

Ramadan in NYC (essay)

(assignment for an awkward international student class, well, it was OK though)

This is the first time for me to have a Ramadan fast outside Indonesia. It is good, actually, to have this different experience. Fasting is always a good challenge for me, and doing it in a place where you don’t have an ‘infrastructure’ for it is just adding the challenge even more. It is hard to keep your fasting continue, for everyday in the whole month, from sunrise to sunset, we have to drop our desire to eat, drink, have sex, we have to control all of our emotion from being angry or upset, and avoiding bad thinking. It is basically a meditation process, when we are expected to contemplate about what we have been doing in the past one year, be focus in doing good deeds to others, while we are obliged to continue our everyday activities like usual.

In Jakarta, you can see families gather at home just before sunset to open their fast together. When the sunset time comes, mosques sign the fasting time is over by sounds of big drum, loudspeaker, or in some places with a canon, and we have to open our fast immediately. They would start with some sweets and cookies, and after about thirty minutes after their stomach had the softer food, they start to eat real dinner. It is a community moments. When we live outside family house or when we can not go home in time for sunset, there are people who open their fast everywhere. Restaurants offer special menu, the appearance of seasonal food and drinks kiosks on the streets, or free foods and drinks in mosques. We are also suggested to have a breakfast before sunrise. Again, we usually do that with our family or housemates. It is like a whole month fest.

I am not considering myself as a religious person, as once or twice here I opened my fasting with beer (alcohol is forbidden for all Moslem ever) and continued the night with other kinds of drink. But doing this daytime meditation is somehow fun. Here, the challenge is more. While I can enjoy my family cooking if I go home to my family house, here I have to cook (yes I cooked!!) and prepare everything by myself. I can go and open my fast in restaurants, like I usually did in Jakarta, but here, nobody share the same moment with me. I even have to wake up in 4.30 AM and heat the food by myself. I am not complaining here, I’m saying it is even more fun!!! I face more challenge to do all those things here. For some reason, I don’t really want to go to local mosque. Well, maybe later, but celebrating I am doing a religious ritual is not the main reason I enjoy this whole new experience. I love the idea of the communal fest, but here, in the capital of dream of the world, I rejoice who I am and what I am. If there is really God out there, he let me ritualize being me – for a whole month.


Sunday, August 08, 2004

day 1 (essay)

(for some mailing list/list serve/e-groups)

Musafir... Engkau bebas tiada ikatan...
Musafir... Berkelana sepanjang masa...
Musafiir... Apakah yang kau cari...
Musafiir... Ke mana jalan hidupmuuuu....?
(Panbers... atau the Rollies ya?)

Dari mana datangnya suara lagu berirama Melayu itu? Di sini? In the middle of downtown Philladelphia yang walaupun baru saja hujan tapi panasnya luar biasa? Ooh... mungkin itu karena saya masih pakai raincoat dan backpack yang berat ini makin keras menarik-narik pundak minta turun. Tapi dari mana asalnya lagu itu...? Di sekitar saya cuma ada seorang gembel bule
dan temennya, afro-american. Nah lhoo... tuh kedengeran lagi. Saya dengerkan baik-baik dan ternyata... lagu itu keluar tanpa sadar dari mulut saya sendiri.

Acara hari minggu paling ideal: mencari-cari internet cafe dengan backpack berat (yang ternyata setelah lihat di peta) hampir jalan kaki separuh kota. Hahaha... hari yang indah, burung-burung bernyanyi, sirine polisi meraung-raung, dan kebanyakan toko tutup. Salah saya sendiri, nggak sempat ngeprint alamat Pre-academic program ini sebelum berangkat sehingga sampai di sini nggak tau alamatnya dan bingung musti ke mana. Tanya orang2, semua bilang nggak ada yang namanya internet cafe di sana karena orang kayak mereka punya akses internet sendiri di rumah. Yeah sure. Toh ketika setelah jalan 2 jam, dapet juga dan ternyata gratisan (asal kalo sopan beli makanan dan minuman lah), toh orang banyak yang ngantri. Segera setelah makan dan buka TOA di email, cabut ke alamat yang dituju. Lucunya ya itu tadi, dari tadi saya jalan di jalan itu, ternyata jalan itu menuju ke tempat yang dicari, walau saya udah lebih separuh jalan on foot.

Hehehe... kenapa nggak sempet buka email? Terutama karena saya percaya bakalan bisa buka email di apartemen Sheila di NY, sehari sebelumnya. Ternyata waktu sampai di JFK dan menunggu 3 jam dan tidak ada seorang pun yang jemput, saya baru sadar bahwa telah terjadi miscommunication. Sheila lagi ada di DC dan dia tidak buka email di sana, jadi belum tahu saya jadi datang lebih cepat ke NY duluu!!! Mati gue. Tapi nyantai, orang tenang jago berenang, orang kalem jago nyelem. Setelah dapet koin quarter dan bisa nelepon dia, saya ambil van bandara untuk ke alamat apartemennya. Bareng-bareng orang lain, sangat reliable dan cukup murah dibanding taksi: $19 dan kita diantar sampai alamat yang dituju, kasihlah tip 10% atau $1 per koper besar yang kita bawa, ).

Sebelnya... atau senengnya... saya diantar terakhir, jadi bener-bener dikasih kesempatan tour of Manhattan!!! Huahaha... gedung-gedung itu bener2 ada ternyata.. tapi jalan2 lebih kecil dari perkiraan saya pas nonton film, jadi saya agak-agak berasa di dufan selama di NY... nyata tapi kayak nggak real. And it was Saturday night!! Lampu nyala-nyala, di mana-mana
orang hang out, cewek-cewek nyeberang jalan dengan dada bergetar setiap melangkah dan baju warna-warni typical summer, cowok-cowok metroseksual yang wangi jemput cewek atau cowoknya, atau sisa-sisa biker atau jogger keluar dari central park sambil ketarik-tarik anjingnya yang segede Scooby Doo.

Hehe... tapi roomate Sheila yang cewek Hawaii itu agak bete waktu bukain pintu buat saya. Iyalah saya nyampe akhirnya jam 11 malem, huahaha... dia juga ngakunya nggak tau di mana stasiun -atau tepatnya halte ngetem- bus China Town. Jadilah minggu pagi saya jalan kaki sambil nanya2 orang arah ke sana, and grrreat >:( orang-orang Cina itu pada nggak tau lho!!
And I believe them, they can hardly speak English so why bother going to another city in the first place? Untungnya, ternyata lagi-lagi, saya berjalan ke arah yang benar (Jawa banget ya mikirnya untung terus) sehingga akhirnya ada yang tau tempatnya, mungkin karena udah nggak jauh dari tokonya. Jadilah saya naik $12 bus from Chinatown NY to Chinatown Philly. Naik Greyhound it will be $25-40.

U-Penn is the overall rank #3 university in US right now. Coba ke sini deh kalo mau. They are member of Ivy league, a very prestigious club with 7 oldest University in US. U-Penn sendiri kampus tertua ke4 di US, pendirinya Benjamin Franklin, dan banyak, sekali historical building di sekolah ini. Pokoknya ini sekolah bagus!!! Herannya, walau kota dan kampusnya bagus, saya gak abis pikir kenapa banyak gembel dan sirine meraung-raung non-stop. Maybe the economic is not so good afterall.

Well, that's the story. Ambillah yang baik-baik, jangan tiru yang jelek-jelek. Buat yang mau brangkat jangan lupa (pinjem kata-kata orang-orang tua sebelum saya brangkat) "jangan lupa sembahyang, jangan cari orang bule" (maksudnya hispanik atau asia timur boleh dong?). Jangan lupa, nikmati lagi lagu-lagu dangdut dan Melayu. I kinda miss those things right now.

Musafir... Engkau bebas tiada ikatan...
Musafir... Berkelana sepanjang masa...
Musafiir... Apakah yang kau cari...
Musafiir... Ke mana jalan hidupmuuuu....?

(Panbers... atau the Rollies ya?)

Monday, June 07, 2004

Mana Bintangmu Mana Bintangku (essay)

Her World Indonesia, Agustus 2004
Mana Bintangmu Mana Bintangku

Ada teman yang memutuskan menikah tidak lama setelah berkenalan dengan pasangannya. Mengagetkan, karena selama ini dia dikenal ultra selektif dan menghindari menjalin hubungan serius. Ketika ditanya alasannya, dia menjawab selama ini dia menunggu seseorang berbintang libra. Ia percaya pada astrologi, dan menurutnya zodiak mereka berdua sangat cocok. Serta merta semua teman laki-laki yang mendengar tertawa terbahak-bahak, walau dia berkeras itulah alasannya memutuskan menikah. Mungkin anda merasa hal ini tidak terlalu aneh untuk ditertawakan, tapi bayangkanlah kalau teman saya itu bukan perempuan. Ya, dia laki-laki, dan si pengantin perempuan kebetulan juga sangat percaya ramalan bintang.

Astrologi dianggap bukan merupakan penjelasan yang rasional mengenai tindakan seseorang. Makanya si pengantin laki-laki ditertawakan teman-teman. Apalagi, katanya laki-laki itu rasional dan perempuan emosional. Tapi saya bukan sedang ingin membahas stereotip kampungan itu. Saya malah penasaran, kalau betul astrologi tidak rasional, kenapa dia bisa terus bertahan? Mengapa tindakan manusia ada yang rasional dan ada yang tidak?

Dulunya manusia sangat tergantung pada kondisi alam. Mereka makan dari apa yang tersedia di alam, mau berburu, atau mengumpulkan tumbuhan yang bisa dimakan. Ketika peradaban sudah lebih maju, manusia mulai bisa mengakali alam dengan menanam sendiri hasil bumi mereka. Namun, tentu saja segala kegiatan perladangan masih sangat tergantung pada alam. Hutan harus dibuka, harus dibakar agar bisa ditanami. Kalau sudah sering ditanami, kesuburan tanah berkurang, hasil bumi tidak maksimal lagi. Maka, manusia harus berpindah-pindah tempat tinggal agar selalu mendapatkan hasil bumi yang baik. Lalu manusia menemukan saluran irigasi dan pupuk alami agar tanah selalu gembur. Namun banyak hal masih bergantung pada keadaan cuaca. Jika hujan kurang, sumber air mengering, irigasi pun tersendat. Jika hujan terlalu banyak, tanaman terendam. Jika ada serangan hama, lenyap sudah panen semusim.

Keadaan yang sepenuhnya bergantung pada alam ini menegaskan posisi manusia yang tidak berdaya. Untuk itu mereka membuat penjelasan yang memuaskan, bahwa ada kekuatan lain, kekuatan besar yang mampu mengatur alam yang menentukan nasib mereka. Maka, sejak semula kemunculan manusia dan bertahan hingga saat ini, kepercayaan kepada roh halus, arwah nenek moyang, penunggu pohon, batu, sungai, pantai, gunung, jadi-jadian, atau kalong wewe menjadi sangat mudah dipahami. Beberapa orang yang berpikir lebih sistematis mengeluarkan acuan berupa primbon-primbon berupa catatan pola yang menjelaskan kondisi alam pada setiap munculnya bencana atau berkah. Salah satunya menghubungkan nasib manusia dengan posisi bintang yang terlihat dari bumi, itulah astrologi.

Kesadaran rasionalitas seperti yang kita miliki sekarang mulai tumbuh di Eropa pada masa pencerahan. Saat itu, pengaruh kekuatan keagamaan dalam politik dan kehidupan sehari-hari masyarakat mulai berkurang. Ilmu pengetahuan dianggap memenuhi standar apabila telah melalui pengujian dan ada bukti yang muncul berulang-ulang.

Muncullah batasan baru mengenai apa yang dapat diterima sebagai hal yang rasional dan tidak. Hantu, arwah, penunggu jembatan yang oleh orang tertentu katanya bisa terlihat tapi tidak bisa dilihat semua orang itu: tidak rasional. Primbon dan astrologi nyatanya sering tidak akurat, berarti ada masalah dengan cara orang jaman dulu mencatat, itu juga berarti: tidak rasional.

Menjadi orang modern berarti menjadi orang yang bertanggung jawab. Kalau bilang sakit dan tidak bisa masuk ke kantor, harus membawa bukti surat dokter, boss tidak akan menerima alasan bolos karena disantet atau kesurupan. Kalau bilang harga belanja barang naik, harus bisa menunjukkan kwitansinya. Untuk tanggung jawab pada orang lain, standar rasionalitas ditetapkan berdasarkan standar yang sama. Untuk diri masing-masing, jelas standar ini lebih longgar.

Orang bebas memilih hidupnya seperti apa, mau percaya pada apa, mau melakukan apa. Teman saya tadi bilang, semua buku astrologi mengatakan zodiak libra tidak cocok untuknya. Anehnya, dia bilang, semua cewek yang ia taksir berbintang libra. Karena tidak pernah merasa cocok atau tertarik pada cewek-cewek dengan zodiak yang disarankan, ia merasa perempuan libra adalah perempuan yang akan membuatnya bahagia. Karena itu, ia fokus mencari perempuan libra.

Sampai sekarang ternyata manusia masih tergantung pada kekuatan lain dalam menjalani hidupnya. Orang masih percaya ramalan bintang, susuk, santet, pelet, hantu, atau nalurinya sendiri. Bahkan, kepercayaan pada agama yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara rasional menurut ukuran modernisme barat, saat ini berperan besar sekali dalam menentukan nasib umat manusia. Ilmu pengetahuan modern belum bisa menjawab semua pertanyaan manusia, maka kepercayaan pribadi setiap orang memiliki rasionalitasnya sendiri-sendiri.

Mengejar sesuatu karena keyakinan yang terbentuk dari pengalaman, bukankah itu rasionalitas juga? Saya suka sekali es krim, dan karenanya pingin makan es krim setiap kali habis makan dan mau tidur. Saya tahu saya bisa jadi kebanyakan lemak. Kata ahli kesehatan, apa yang saya lakukan tidak rasional. Tapi kalau saya melakukan sesuatu yang membuat saya senang, itu rasional sekali kan? Kalau seseorang menuruti ramalan bintang karena selama ini dia rasa benar, wajar saja kan?

Monday, May 31, 2004

Ayah dan Anaknya (essay)

Her World Indonesia May 2004

Anak adalah titipan Tuhan, kata orang. Tapi kata orang tua, anak adalah mainan baru.
Ayah dan Anaknya

Teman saya baru menjadi seorang ayah, dan ia sedang senang-senangnya. Ia tersenyum setiap saat, kadang tertawa-tawa sendiri dan berniat berhenti merokok karena ia percaya anaknya cemberut setiap saat mencium bau mulutnya saat digendong. Punya anak, bagi setiap orang dalam keadaan normal pasti membahagiakan. Namun, seperti diakuinya sendiri, kebahagiaan terbesar adalah karena anaknya laki-laki. Tentu saja kebahagiaan ini akan tetap sama jika anaknya perempuan. Namun, memang anak laki-laki seringkali menjadi bonus yang menambah kebahagiaan ayah-ayah mereka. Man and their sons, what is it with them? Ada apa memangnya dengan anak laki-laki buat ayah-ayah?
Selain alasan-alasan kerepotan menjaga anak perempuan, biasanya ayah-ayah memberi alasan dengan anak laki-laki mereka bisa lebih bersenang-senang. Seorang teman bilang ia ingin anaknya laki-laki agar bisa diajak main bola. Seorang teman yang lain ingin segera mengajarkan cara menyupir mobil. Seorang kerabat membayangkan anaknya menjadi ahli aroma kopi, seperti dirinya. Semua bercerita dengan mata berbinar-binar, membayangkan waktu bermain-main dengan anak mereka.
Memikirkan bahwa anak laki-laki adalah mainan baru ayah mereka agak mengerikan, walau pikiran seperti itu terus muncul. Apakah ibu-ibu juga ingin bermain-main dengan anak perempuan mereka? Ternyata iya juga. Rekan perempuan yang duduk di sebelah saya di kantor bilang jika nanti anaknya perempuan ia ingin mendandaninya dan mengajaknya bermain boneka, masak-masakan, dan ketika lebih besar tentu saja mengajaknya belanja dan masak betulan.
Barangkali memang bukan sekedar permainan. Keinginan bermain dengan anak-anak mungkin memang bagian dari rencana pendidikan jangka panjang. Ayah ibu memiliki harapan yang pinginnya bisa dicapai oleh anak-anak mereka, dan mereka berusaha mendorong anak-anaknya mencapai harapan itu. Rajin olah raga, jago mengoprek mesin mobil, menjadi professional yang handal, mahir mengerjakan tugas-tugas rumah tangga adalah harapan yang biasa dibebankan kepada anak-anak kita.
Bagaimana dengan anak-anaknya? Anak-anaknya sih tinggal untung-untungan saja, selain tidak bisa memilih jenis kelamin apa, mereka juga tidak bisa memilih orang tua yang cocok dengan minat mereka (kalau-kalau mereka punya minat bawaan sejak dalam kandungan), atau setidaknya mereka harus pasrah menunggu minat apa yang diarahkan orang tua mereka. Paling-paling masalah yang lagi-lagi muncul adalah seberapa besar toleransi ayah ibu terhadap minat dan keinginan anaknya?
Kenapa harus anak laki-laki kalau ingin ngajar nyetir? Padahal mahal sekali kalau semua perempuan harus punya supir sendiri. Kenapa harus merasa kehilangan bonus kalau ingin main bola bersama tapi yang lahir anak perempuan? Pasti ini sebabnya tim nasional sepakbola puteri Indonesia jadi bulan-bulanan di Sea Games kemarin. Dan kenapa pula kalau anak perempuan menjadi pencium aroma kopi, atau anak laki-laki jago masak sejak kecil?
Peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat kita diharapkan berbeda, dan pembedaan ini memang masih keras. Dan semua orang sadar, masa-masa bayi hingga anak-anak akan menjadi sangat penting sebagai tahapan awal proses pencarian identitas diri yang mungkin berlangsung seumur hidup. Ayah ibu di sini masih panik mendengar anak laki-lakinya semakin rajin berlatih menari kontemporer untuk acara tujuh belasan. Mereka masih cemberut dan mengomel panjang pendek ketika anak perempuannya ikut menjadi kiper dalam permainan bola lima lawan lima bersama sepupu-sepupu laki-laki dalam acara pertemuan keluarga.
Padahal, contohnya saja saya, yang berharap kemungkinan bagi saya bisa lebih terbuka. Saya sih senang-senang saja dengan apa yang saya lakukan sekarang, tapi mungkin saja saya bisa lebih bahagia kalau menjadi penata busana atau bekerja di salon. Atau mungkin juga saya malah lebih senang jika bisa menjadi petani atau nelayan. Sayang, tidak pernah ada yang mengajarkan bercocok tanam atau mengajak jalan-jalan menangkap ikan.
Peran ayah ibu mengarahkan minat dan kemampuan anak memang masih diperlukan, tapi untuk anak saya nanti saya tidak mau kalau malah menyempitkan pilihan. Saya percaya minat dan spesialisasi harus dicari bukan karena pengalaman yang terus menerus di satu bidang kegiatan (apalagi dari jenis kelamin seseorang), tapi dari pilihan sadar setiap orang bahwa mereka tidak suka melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Bagaimana mereka bisa tahu mereka tidak suka, kalau mereka tak pernah mencoba? Setelah mencoba banyak hal, tentu pilihan pada minat dan spesialisasi akan didasari pada perasaan senang melakukan pilihan itu. Bersyukur sekali orang-orang yang dihargai keahliannya di satu bidang karena menggemari bidang itu. Senang sekali mencari nafkah sambil melakukan hobi kita.
Cara mendidik anak, seperti cara kita membuat pilihan-pilihan hidup kita, adalah proses trial and error yang berlangsung terus menerus. Waktu teman saya pertama tadi bilang ia pikir-pikir untuk berhenti merokok, saya segera mendukungnya. “Hebat, kamu akan memberi anakmu lebih banyak pilihan.” Minimal kan dia bisa merokok sendiri kalau memang mau, tidak perlu dirokoki bapaknya. Maka ayah-ayah, ajak sajalah anak perempuan kalian bermain bola atau silat, atau ijinkan saja anak laki-laki ikut masak-masak dan main boneka.