Wednesday, January 06, 1999

pas ditinggal teman (essay)

Langit begitu luas, dan ke sanalah teman-teman satu persatu meninggalkanku. Ke timur, ke utara, timur laut, barat laut, tenggara, tak habis-habisnya. Cepat sekali, menerjang waktu.
Langit yang luas memang memberikan seribu satu pilihan tujuan. Dan semua teman-teman berjalan tanpa beban mengayun langkah menuju kebebasan. Kebebasan yang indah… kebebasan yang menyenangkan.
Kupaksakan senyumku, dan kuucapkan kata-kata perpisahan indah, yang mungkin kutujukan untuk diriku sendiri. Gumpalan awan kelam dan langit hitam di gelapnya malam memintaku mengucapkan janji-janji. Maka, sambil berjanji akan menanti mereka kembali, kupaksakan senyumku sekali lagi.
Indahnya perjalanan antar galaksi. Indahnya melihat daratan keberangkatan dari kejauhan. Oooo… pelabuhan impian. Tinggalkan sekarang, sekaligus jadikan tujuan. Pulang… pulang… pulang…
Dan sambil mengawasi satu persatu temanku lenyap dari pandangan, gumpalan awan kelam dan langit hitam di kejauhan membisikan permintaan untuk mengemasi barang-barang. Tapi kenapa harus pergi jika nanti harus kembali ?
Fajar menyingsing, gumpalan awan kelabu mulai berkilau keemasan dan langit hitam kini memerah terpanggang. Sambil tersenyum mereka menjawab bersamaan, mengingatkan bahwa kembali pulang tidak berdiri sendiri sebagai tujuan.
Aku belum mengerti. Mungkin aku memang harus mulai mengemasi barang-barang. (Depok, Januari 1998)