Ningsih (fiksi)
NingsihApa benar kali ini terbukti bahwa kanker otak disebabkan gelombang telepon genggam ? Lalu mengapa pemerintah merasa perlu menarik semua jenis ponsel dari peredaran ?
Ponselku. Telepon genggam yang sangat aku sayang. Kuning warnanya, seperti pisang. Kubeli dengan uang tabungan dari gajiku bekerja selama delapan bulan. Sejak pagi ini aku tak bisa menemukannya, dan sungguh, kini aku tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, aku tak mau menyerahkannya pada pemerintah.
Tak cukup kah peringatan pemerintah yang tertera di sisi ponsel selama ini ? Tertulis tegas dan jelas: PERINGATAN PEMERINTAH: GELOMBANG TELEPON GENGGAM MUNGKIN BISA MENGGANGGU KESEHATAN. Dicetak timbul, tulisan itu tak mungkin tak terbaca orang. Kalau ternyata penarikan kembali seluruh telepon genggam itu masih didasarkan pada faktor kemungkinan, maka tuntaslah sudah usaha pemerintah menjajah warga negaranya.
Ponsel yang amat kusayang. Kudapatkan dia dari sebuah toko di daerah Roxy, delapan bulan yang lalu. Bekas artis, kata si penjual. Dia pasti bilang begitu pada semua orang seperti aku, pendatang baru. Kini, kuakui aku sangat tergantung pada benda sialan itu.
Komunikasi. Kegiatan sederhana, tapi bertanggung jawab penuh pada pembentukan peradaban manusia. Dulu orang ber-auwo. Atau pukul bedug. Atau bikin asap api unggun aneka rupa. Itu saja. Sekarang, telepon genggam adalah kunci kehidupan.
Di mana dia ? Terakhir kulihat dia seharusnya tadi malam. Tadi malam aku … tunggu… aduh, aku lupa… di mana sih aku meletakkannya ?
Jangan sembarangan, ponselku itu bukan ponsel asal-asalan. Selain konon dulunya milik artis, kemampuannya tak perlu diragukan. Gelombangnya tersambung langsung ke satelit, dan sejak itu, semua pelosok dunia berada di genggaman.
Selain fungsi telepon genggam, Ningsih -demikian aku memanggilnya- juga berfungsi sebagai fax-modem, dan mini note-book. Ia mampu menyimpan empat ratus nomor telepon. Kalau engselnya dibuka, kita bisa mengetik apa saja di tubuhnya. Kalau tiba-tiba mendapat inspirasi puisi, tinggal tulis di situ. Kalau mau ketikan itu dikirim ke telepon lain, tinggal pencet. Mau kirim pesan ke jaringan komputer di seluruh dunia, juga tinggal tekan. Mau menerima pesan tertulis ? Bisa juga, walau kesannya menjadi agak primitif.
Ningsih juga mampu berfungsi sebagai kalkulator. Bingung dengan neraca bulanan ? Ningsihlah yang akan menyelesaikan. Penunjuk waktu ? Tentu saja ada. Ningsih juga berfungsi sebagai remote televisi, radio dan sound system, microwave, alarm mobil, dan printil-printil lain dalam kehidupan manusia. Dan kini, karena dia tak ada, aku tak bisa menyalakan apa-apa.
Di mana, ya ? Di kolong meja tidak ada. Di dapur juga, pun di antara sandaran sofa. Kutelusuri juga gudang dan teras. Apartemenku sebenarnya tak terlalu luas. Tapi percuma, Ningsih lenyap tak berbekas.
Aku ingat saat-saat menyenangkan bersamanya. Bermain ? Ningsih mampu melakukan semua game yang tersedia. Dari catur hingga ular tangga, tetris sampai liga sepak bola. Adikku yang duduk di bangku SMU kadang-kadang meminjamnya. Nada panggilnya bisa diprogram atau direkam. Ningsih memiliki seluruh lagu the Beatles di memorinya. Juga lagu-lagu Yuni Shara.
Tunggu. Ha… ha… ha… tentu saja. Aku kan tinggal meneleponnya. Nanti dia bernyanyi, dan suaranya tinggal kuikuti. Repotnya, aku tidak punya telepon kabel biasa. Buat apa ? Aku akan minta tolong satpam meneleponnya dari telepon kartu di bawah sana.
Aku menunggu di dalam. Seharusnya suaranya sudah terdengar sekarang. Mungkin harus dicoba kembali. Kusuruh pak satpam menelepon lagi. Tapi apartemenku tetap sepi dan sunyi, tak terdengar suara apa-apa. Kini yang bisa kulakukan hanyalah menunggu.
Ningsih juga menjadi agenda harianku. Ia mengingatkanku pada janji-janji yang kubuat, dan mengatur pembuatan janji-janji berikutnya. Menambah sesuatu pada kemampuannya, ia jugalah yang memilih dengan siapa aku ingin bicara. Pada bulan yang ke enam, ia mulai berani mengatur kapan aku harus mengecat ruangan, merubah posisi perabot, atau mengecek air aki mobilku. Orang-orang lain mungkin menganggap hal itu keterlaluan, tapi bagiku itulah yang namanya kepedulian. Kupikir, mungkin seharusnya orang-orang mulai menggaji telepon genggam mereka, bukankah hubungan semacam ini sudah mengarah pada eksploitasi loyalitas bawahan ?
Bagaimana pun aku tidak pernah menganggap Ningsih sebagai sekertaris atau pegawai biasa. Hubungan kami lebih dari itu semua. Ialah yang mencukurkan kumis dan janggutku dua hari sekali. Ia jugalah yang membangunkanku setiap pagi. Biasanya dimulai dengan mesra, tapi kalau aku tidak segera bangun ia ngambek. Sungguh. Aku tidak tahu apakah telepon genggam lain juga bisa ngambek kalau si pemilik mengacuhkan apa yang mereka lakukan.
Hal yang paling mendekatkan aku dengan Ningsih mungkin adalah suaranya. Suara Ningsih kuatur agar mirip dengan suara Ningsih, pacarku yang dulu. Kini ia memilih untuk bekerja di kota kecil. Ia juga suka ngambek kalau aku tidak segera bangun pagi-pagi. Kalau sudah ngambek, ia tak mau bicara berhari-hari. Di masa-masa akhir hubungan kami, ia tak pernah ngambek lagi. Sebaliknya ia sangat kolokan, dan tergantung padaku dalam segala bidang kehidupan. Kadang-kadang aku lupa kenapa aku melepasnya dulu. Apakah cintaku masih ada ? Tidak, tidak. Pikiran semacam itu tak boleh kubiarkan.
“…hilang permataku… hilang harapanku… yang kutunggu sejak dulu kalaaa…”
Aha, itu dia. Aku tahu ia ada di sini. Ia tak ke mana-mana. Ia tak akan pernah ke mana-mana. Tidak ke pemerintah, pemberontak, siapa saja.
“Bagaimana kamu bisa begitu yakin ?” Sahutnya.
“Ooo… sekarang kamu membaca pikiran ?” Jawabku. Ternyata di antara halaman majalah di atas meja makan.
“Maaf,” suaranya ditajamkan. Seksi. “Tapi antenaku masih sangat baik.”
Aku tak bisa menahan senyumku. Ia memang sedang ngambek. “Kamu nggak akan ke mana-mana, sayangku. Ayo, dong, senyum. Yuk, nonton tivi. Tolong nyalain sinetron Indonesia.”
“Kamu akan dipenjara bila tak menyerahkanku kepada pemerintah.”
“Kenapa takut dipenjara ? Selain kamu, aku nggak punya siapa-siapa. Lagi pula, kalau aku dipenjara, apa kamu nggak mencintaiku lagi ? Kamu mau menunggu, kan ?”
Ningsih diam saja. Akhir-akhir ini ia memang sangat perasa. Mungkin terlalu banyak mendengar lagu-lagu Yuni Shara.
