Buaya dan Kancil (fiksi)
Pada saat-saat seperti inilah buaya merasa perutnya sangat lapar. Dinginnya air sungai menambah rasa nyeri di lambungnya. Jika hingga petang ini aku tidak juga mendapatkan makanan, mungkin aku tidak akan bisa melihat matahari esok, pikirnya.
“Kancil memang binatang yang sangat kurang ajar,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Selain menyiksa perutku, ia juga membuatku malu pada teman-teman. Di mana harga diriku sebagai buaya terkuat di hilir ?
Buaya membiarkan arus sungai mendorong tubuhnya perlahan-lahan ke arah rumpun alang-alang di pinggir sungai. Ada sebuah bagian di tempat itu yang terkena sinar matahari langsung pada siang hari seperti sekarang ini. Ia harus naik ke darat dan merayap sedikit untuk menuju tempat itu. Biasanya ia tidak terlalu menyukai sinar matahari, namun entah mengapa saat ini sinar matahari terasa begitu menenangkan. Di sini, ia bisa berpikir dengan lebih jernih.
Buaya sangat takut kini. Ia khawatir pada kelangsungan wibawa kaum buaya. Apa yang kupikirkan tadi, sehingga membiarkan kancil menipu dan mempermainkan buaya, yang terkenal kejam di seluruh penjuru hutan ini ? Kuakui kancil adalah seekor binatang yang licik, tapi bukankah buaya seharusnya cukup cerdik untuk menghadapi tipuan semacam itu ?
Jauh di lubuk hatinya, buaya tidak menyalahkan kancil. Segala kejadian ini wajar dalam kehidupan memangsa dan dimangsa di hutan. Semua binatang akan menjadi korban atau pemenang. Yang merisaukannya kini adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul mengenai kekuasaan yang ia miliki di sungai ini.
Ketika muncul di pinggir sungai pagi ini, ketenangan kancil memang sempat membuat buaya ragu-ragu. Tapi rasa sombong, sekaligus terharu melihat kerelaan kancil menyerahkan diri sebagai sarapan telah membuatnya lengah.
“Wahai bapak buaya yang mulia, izinkanlah hamba menghaturkan sembah sujud mewakili seluruh kaum kancil di hutan ini.”
“Hmmh …? Ya…ya…ya… ayo sini lehermu !”
“Adalah suatu kehormatan untukku untuk menjadi santapanmu. Tentu bapak menyadari bahwa daging kancil adalah daging yang paling enak. Kelembutan dan aromanya, kerenyahan dan rasanya, tidak ada yang menandingi, bahkan oleh menjangan, celeng, domba, atau sapi sekalipun.”
Hah… ? Apa betul ? “Apa lagi yang kau tunggu kalau begitu ? Ayo, lehermu…!”
“Sabar bapak kami buaya, yang maha perkasa, sabar. Walau begitu enak namun tentu bapak bisa lihat ukuran kami begitu kecil. Perut bapak besar sekali. Mana cukup seluruh tubuhku ini memenuhinya ? Rahang bapak besar dan kuat. Tubuhku akan tercerna dengan sekali telan.”
“Yaaah… lalu bagaimana ? Kau punya usul ?”
“Begini bapak buaya. Ada lima ratus ekor kancil di sisi hutan sini. Semua mati-matian ingin menjadi santapan buaya. Namun apakah jumlah itu mencukupi semua buaya yang ada di sungai ini ?”
“Haah…? Cukup cukup cukup. Tapi kenapa harus semua buaya ? Aku mampu menghabiskan semuanya. Sungguh.”
“Kami tidak mau menjadi penyebab hancurnya masyarakat hewan mulia idola kami. Jika hanya bapak yang mendapat bagian, kolega bapak pasti akan iri. Mereka akan mengincar bapak. Jika mereka bekerja sama…”
“Ya ya… aku mengerti. Tak usah kau teruskan. Lalu usulmu bagaimana, Cil ?”
“Bagaimana kalau bapak mengumpulkan teman-teman bapak berjejer hingga ke seberang sungai. Aku akan menghitungnya. Jika cukup, aku segera membawa seluruh kancil dari hutan ke sini, dan bapak dan semua teman bapak akan berbahagia di hari ini.”
Pada saat itu buaya tidak sempat memikirkan konsep sumber daya yang berkelanjutan. “Kau adalah wujud nyata dari pengabdian yang sesungguhnya. Aku bangga padamu, Cil. Aku boleh memanggil kamu dengan ‘Cil’ bukan ? Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak pilih harimau, singa, serigala atau ular saja ? Apa yang membuatmu memilih buaya ?”
Kancil kelihatan kaget dengan pertanyaan itu. “Hah ? Hmm… . Kupikir karena buaya hidup di air dan darat sekaligus. Hal itu adalah sebuah perwujudan dari keseimbangan yang sejati.”
“Ternyata kau juga pribadi yang menyenangkan untuk bicara masalah-masalah eksistensial semacam itu. Sayang sekali dagingmu enak untuk dimakan. Ayo, naik punggungku, kita kumpulkan semua buaya yang ada di sini.”
Maka buaya dan kancil memanggil dan meyakinkan semua buaya yang ada. Karena buaya lain sangat menghormati buaya pertama, usaha pengumpulan itu tidak berlangsung terlalu lama.
“Hebat ! Sungai selebar ini bisa tertutup oleh seluruh buaya yang ada. Perkiraanku, mungkin ada seratus lebih buaya. Tapi untuk memastikan, akan kuhitung semuanya. Bisa saya mulai sekarang bapak ?”
“Tentu. Silahkan dimulai.”
Maka kancil melangkahi deretan buaya itu. Ia menghitung setiap buaya yang ia injak. Menghitung dan menghitung hingga akhirnya sampai di seberang sungai.
“Berapa banyak, Cil ? Cil ? Kancil ?” Suaranya nyaris tidak terdengar di sisi sungai yang satu.
“Wahai kancil yang bijaksana, berapakah jumlah kami semua ?”
“Ha…ha…ha…ha…ha… . Buaya-buaya bodoh, dan kau adalah yang terbodoh. Ha…ha…ha… . Apakah di dunia ini ada mahluk yang lebih bodoh daripada kamu ? Guoblok. Ha…ha…ha… . Aku memang ingin menyeberang. Sungai ini lebar dan arusnya cukup kuat. Tanpa kalian aku tidak bisa sampai di sini. Terima kasih atas kebaikan hati kalian semua. Atau aku harus bilang, kebodohan kalian semua ? Ha…ha…ha… , selamat tinggal.”
Kata-kata terakhir kancil masih terngiang-ngiang di kepala buaya hingga saat ini. Ia memejamkan matanya. Hancurlah kewibawaan yang telah dibangunnya dengan bersusah payah selama ini.
“Bagaimana saya bisa membedakan yang mana kaki kancil dan yang mana batang kayu ?” seekor buaya muda pernah bertanya sambil terisak-isak, “saya ditipu, ampuni saya karena saya percaya pada kancil yang licik.”
Ketika itu bapak buaya menjawab, “bagaimana kijang-kijang yang kita makan selama ini bisa membedakan yang mana tubuh buaya dan yang mana batang kayu terapung ? Mereka yang keliru akan mati, dan yang waspada akan lolos. Ini bukan masalah bagaimana kau bisa membedakan yang mana musuh atau makananmu. Ini masalah bagaimana cara bertahan hidup. Ini masalah menjadi pemenang atau korban. Kau telah ditipu kancil, dan kau telah menjadi korban.”
“Bagaimana saya bisa bertahan hidup, bapak ? Bagaimana agar saya bisa menjalani sisa hidup tanpa menjadi korban? Saya takut.” Tanya buaya lain yang masih kecil.
Buaya ingat betul apa jawabannya waktu itu. “Rasa takut adalah musuh terbesar kita. Kau harus memeranginya dengan belajar. Kau harus mencari tahu. Jika kau tahu apa yang harus kau lakukan, kau tak akan merasa takut.”
Kini ia sendiri yang menjadi korban. Ia tak lagi pasti apa yang ia ketahui dan tidak. Ia tidak lagi pasti akan segala hal.
Hingga terdengar suara auman, dekat sekali di telinganya yang kecil.
“Ghrrrrrrr… abang buaya… .”
Harimau ! Banyak harimau ! Bersama kancil. Apa lagi yang ia inginkan sekarang ini ? Ketakutannya muncul lagi. Muncul dalam bentuk yang paling melumpuhkan.
“Ghrrrrrrr… apakah ehm… jumlah seluruh buaya yang ada di sini cukup banyak ?
“Kenapa bertanya ?”
“Kancil ini bilang bahwa hutan di seberang sungai sana banyak domba-domba gemuk berkeliaran. Aku dan teman-teman ingin memburu mereka, lalu berbagi dengan seluruh buaya yang ada. Bukan begitu kancil ?
Kancil mengangguk. Wajahnya kelihatan tegang.
Buaya tiba-tiba merasa begitu yakin pada dirinya.
“Kau pasti ingin menghitung jumlah buaya dulu, bukan ?”
“Ya. Grrrrrrrrhauuummm… .”
“Itu bisa kuatur. Tunggu di sini.”
Tak lama kemudian rombongan buaya telah berderet hingga ke seberang sungai, dan rombongan harimau mulai menghitung mereka. Ketua rombongan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada kancil, dan meminta ijin untuk memanggilnya ‘Cil’.
Buaya tersenyum menang ketika harimau terakhir menginjak tubuhnya. Beberapa saat kemudian terdengarlah bunyi berdebur di tengah sungai. Deburan ini disusul oleh suara auman dan raungan sahut menyahut. Seluruh buaya mendapatkan santap siang yang nikmat.
Bapak buaya memandang kancil yang sejak tadi terpesona memandang semua kejadian itu. “Mengapa kau kelihatan heran?”
Kancil tidak menjawab selama beberapa lama. Ia menarik napas, lalu tersenyum. “Aku kecil, aku lemah, dan aku bersyukur karena keterbatasanku. Aku selalu merasa takut, dan rasa itu yang membuatku tetap hidup.”
Mudaiyah (fiksi)
Kupilin kumisku, kulilitkan peluit di pergelangan tangan, dan kulangkahkan kakiku keluar dari lorong. Lapangan rumput ini semakin baik keadaannya dibandingkan saat terakhir aku ke sini. Tribun yang tidak terlalu besar disesaki penonton, yang mungkin kurang banyak memiliki alternatif hiburan. Bendera dan spanduk beraneka warna berkibar-kibar. Rumput hijau, langit biru, udara segar dan sorak sorai penonton yang membahana. Sore yang indah untuk sebuah pertandingan sepakbola.
“Heeeei… wasiiiiit ! Awas kooweeeee !!” Hmmm…, aku berusaha menahan senyum. Sudah ada yang memanggil-manggil. Mereka semua pasti sayang padaku.
Di dalam lorong tadi kapten kedua kesebelasan sudah sempat kukuliahi sedikit. Kupastikan mereka mengerti, dan bisa menghargaiku. Musim kali ini memang agak berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Terbatasnya dana. Jadwal yang berubah-ubah. Tidak terlalu masalah buatku memang. Sebuah pertandingan selalu menjadi saat-saat yang menyenangkan. Betapa pun jeleknya cuaca. Betapa pun kotornya permainan.
Penjaga garis sedang memeriksa telapak sepatu pemain. Penonton betul-betul memenuhi seluruh stadion. Pengawas pertandingan berbicara mengenai segerombol penonton yang berusaha menerobos masuk. Mungkin sudah waktunya stadion ini diperbesar kapasitasnya.
Sriyono ! Dia di sini ! Di stadion ini !
“Yon !” kusapa dia, “Apa kabar ?”
“Burhan… ! Oh, maaf. Siap, letnan !” Ia berdiri tegak dan memberi hormat.
“Aah… , sudahlah, aku nggak pakai seragam, kok.”
Ia tersenyum, “Kenapa nggak bilang dulu mau ke sini ?”
“Aku nggak tau kamu masih di sini.” Ya. Ia masih di sini. Pangkatnya kini pembantu letnan dua. Dua puluh tahun yang lalu kami sama-sama ditempatkan di sini setelah lulus sekolah calon bintara. Saat itu, belum banyak kasus pencurian kayu jati di daerah ini. Tiga tahun bersama, hingga aku dipindahkan ke kota lain. Sangat mungkin catatan karirku inilah yang membuatku dipilih memimpin pertandingan hari ini, tapi hingga saat ini tak ada yang memintaku melakukan apa-apa.
“Kamu sendiri di mana sekarang ?”
“Kerawang.”
“Waah… kamu senang ya, sekarang ? Secapa itu bagaimana, Han ?”
“Yaah… sama saja… .” Tak enak rasanya membicarakan hal ini dengan Yono.
“Heh, Han, Mudaiyah di sini sekarang.”
Apa ? Mudaiyah ? Di sini ? Sekarang ? “Siapa ?”
“Jangan bilang kamu lupa Mudaiyah, Han. Itu dia.”
Mudaiyah dulu tinggal di dekat posku yang terletak sebelas kilometer sebelah Barat stadion ini. Tidak terlalu ramai, tapi mungkin karena aku cocok dengan alam dan masyarakatnya, tempat itu selalu terasa indah. Dan Mudaiyah menyempurnakannya.
Di sanalah dia, mengenakan kaus berwarna merah menyala, seperti warna tim tuan rumah, duduk di tempat duduk pemain cadangan. Wanita di pinggir lapangan memang bukanlah hal yang aneh bagi sepakbola di negara ini. Rambutnya kini dipotong pendek, dan berat badannya tampak bertambah. Tapi Mudaiyah tetap cantik seperti dulu.
“Ayo, Pak. Kita mulai.” Para pemain sudah siap. Pertandingan akan dimulai.
“Oke, Yon, saya masuk.” Oh, aku harus menanyakannya pada Yono.
“Bagaimana situasi di luar, Yon ?”
“Hingga saat ini terkendali, Pak.” Tangan kanannya diangkat ke atas dahi. Sepak bola memang duniaku, namun keamanan adalah hidupku.
Para hakim garis telah selesai memeriksa jala gawang dan bendera penjuru. Kedua kapten tim bersalaman, dan undian dengan uang logam dilakukan. Entah siapa yang memenangkan undian itu, mereka toh sudah besar dan mampu mengurus diri mereka sendiri.
Iyah, Iyah, Iyah. Kalau saja saat itu aku bisa menikahimu… . Pertama kali kulihat dia, usianya masih delapan belas belas tahun. Saat itu ia menyuguhkan minuman pada kami yang sedang bertamu. Kulitnya menyilaukan, dan rambutnya yang bergelombang sebahu membakar hatiku. Dadanya yang penuh menusuk jantungku. Aku lumpuh. Untung Sriyono bisa melanjutkan pembicaraan dengan bapaknya.
Peluit awal pertandingan kutiup keras-keras. Tim tuan rumah punya kesempatan untuk menyerang. Kelihatannya Mudaiyah bersemangat sekali. Hei, kenapa dia berhenti. Tunggu, ada masalah. Seorang pemain tuan rumah tergeletak di dekat kotak penalti lawan. Sial, aku tak lihat bagaimana kejadiannya. Kutiup peluit. Tendangan bebas. Pemain tamu protes. Kuhampiri penjaga garis yang sejak tadi mengangkat benderanya.
“Bagaimana, lihat jelas ?”
“Pelanggaran, pak.”
Untung saja. Protes pemain tamu tak kugubris. Tendangan bebas ini adalah tendangan bebas. Dan kuberi tanda boleh langsung. Kucuri pandang ke sisi lapangan.
Kutarik napas panjang. Kutiup peluit keras-keras. Bola ditendang, tapi kiper menangkapnya. Ia memegang bola dan memain-mainkannya sebentar sambil menunggu teman-temannya mengisi posisi. Tak terlalu lama, bola ditendang jauh ke depan. Melambung tinggi ke udara. Seperti angan-angan kami dulu.
“Pak Burhan tunggu di dalam saja, sebentar lagi mungkin bapak pulang.”
Waktu itu aku sama sekali tak ingin bertemu bapaknya. “Aku memang pingin ketemu kamu. Nggak apa-apa?”
Dia tersenyum. Manis. “Waduuh… lagi berantakan, Pak.”
“Aah…, nggak, rapi begini, kok. Kamu yang bereskan ?”
Senyumnya tidak hilang, “Bukan, hi… hi…”
“Kamu kok udah gede makan coklat ?”
“Lho… . Nggak boleh, toh ?”
“Ya boleh. Memang kamu suka ?”
“Iya… .”
Sejak itu aku selalu membawakan coklat untuknya.
Kedua tim bermain keras. Kondisi lapangan yang bergelombang dan tidak rata memang membuat pemain sulit bermain cantik.
Ia memang Mudaiyah. Senyumnya masih semanis dulu.
“Mas Burhan lebih ngganteng kalo nggak pake seragam.”
“Masa ? Biasanya cewe’ suka cowo’ pake seragam.”
“Aku nggak, tuh… . Aku bukan cewe’ kayak ‘gitu. Aku suka ‘liat Mas Burhan pake kaos.”
Permainan makin keras. Penonton pun ikut terpancing.
“Mas, katanya mau kawin ? Aku nggak sabar, Mas… .” Ia memelukku dari belakang, menggigiti daun telingaku. Aku terkejut. Hampir saja skuter yang kukendarai terpelanting.
“Ya… ya… . Aku belom bisa kawin. Mungkin tahun depan, itu pun komandanku harus setuju.”
“Kalau aku hamil, bagaimana ?”
Sekali lagi skuter-ku hampir terpelanting. “Hamil ? Kamu hamil ?”
“Nggak, kok. Tapi kalau iya, bagaimana ?”
“Waduuh… nggak tau. Tapi pokoknya kamu nggak boleh hamil.”
“Hi… hi… hi… . Masa hamil nggak boleh ? Kalo udah kawin ?”
Aku tersenyum, membayangan aku telah menikah dengannya selalu membuatku bahagia. “Boleh.”
Oooo… pelanggaran yang sangat keras. Kali ini penyerang tim tamu tergeletak. Bek tuan rumah harus kuganjar kartu kuning. Tentu saja dia dan teman-temannya protes. Itu sih biasaaa… . Tendangan bebas. Penonton semakin riuh. Bola diambil penyerang lawan. Tendangan keras. Merobek jala gawang tim tuan rumah. Tim tamu bergembira. Terlalu bergembira, mungkin. Penonton mulai menimpuki lapangan. Ritual paduan suara pun mulai terdengar, “Wasit… goblok… ! Wasit… goblok…!” Kupingku sudah cukup tebal.
“Mas Burhan harus pergi dari sini ? Kenapa ?”
“Belum tahu, Jeng. Tapi kata Yono, minggu lalu ia melihat bapakmu bicara dengan pak komandan di kantor. Mungkin karena itu.”
“Mbok ya aku diajak.”
“Ya nggak mungkin, Jeng. Tunggulah aku di sini. Aku pasti kembali.”
Setahun kemudian, kudengar Mudaiyah dikawinkan oleh orang tuanya. Maka ruang dan waktu yang menyebalkan itu membawa pargi Mudaiyahku. Tapi seorang kawan menolongku, dan memotivasiku untuk bisa melanjutkan pendidikan. Aku menikah dengan seorang gadis di sana, bekerja keras, dan berhasil masuk sekolah calon perwira. Sekarang anakku berusia empat belas tahun.
Lho, ini ada apa lagi ? Sial. Kali ini aku betul-betul meleng. Mudaiyah memang begitu menggoda. Untuk dimiliki, disentuh, didengar, dan dipikirkan.
Para pemain tuan rumah mengangkat tangan mereka sambil memandangiku. Ada apa ? Kuhampiri lagi penjaga garis.
“Saya ketutupan. Penalti ?”
“Ya, Pak.” Ia menurunkan bendera yang sejak tadi diangkatnya tinggi-tinggi, “handsball.”
Baik. Kutunjuk titik putih, sambil meniup peluit. Sekarang pemain tamu protes.
“Lho, kenapa ? Kenapa ?” tanya mereka.
“Handsball.”
“Hen ? Siapa yang hen ? Dia sendiri yang hen ! Kamu ini, kalo buta jangan jadi wasit !” Mereka semua mengelilingiku.
Aku mundur. Ini gawat. Mereka terus menghampiri. Penjaga garis datang membantu. Ia pun kini dikelilingi. Aku berjuang mencapai tempatnya berdiri. Penonton bersorak-sorak gembira. Beberapa benda mendarat di sekitarku.
“Siapa yang handsball ?”
“Anu, pak, mereka tabrakan. Dua-duanya hen.”
Waduh… ini masalah serius. Ini salahku. Apapun yang terjadi, seorang wasit harus selalu memperhatikan bola.
“Siapa yang kena bola lebih dulu ?”
“Kelihatannya bek-nya, pak. Betul, Pak.”
Kelihatannya ? Sialan betul orang ini. Pemain tamu masih mendesakku. Beberapa bahkan mulai berani mendorong-dorong bahuku. Aku harus berkonsultasi dengan siapa ? Pengawas pertandingan adalah satu-satunya orang yang masih bisa kutanya. Aku berlari ke tribun Barat.
“Anda ndak meliat sendiri ?”
“Posisi saya ketutupan, Pak.”
“Mosok wasit ketutupan? Gemana kamu ini? Dari sini, saya yakin penyerang tuan rumah hens lebih dulu. Situasi gawat, tapi itu yang bener. Terserah anda sekarang.”
Enak betul dia, sekarang terserah aku. Sambil berjalan ke lapangan kembali, aku melirik ke tempat cadangan tim tuan rumah. Di sana, Mudaiyah, dengan segala keindahannya, menatapku. Ya, saat inilah ia menyadari siapa aku. Matanya melebar, dan mulutnya membuka. Aku tak tahu apakah jantungku berdetak lebih keras atau berhenti. Cantiknya.
“Mas Burhan… ,” aku memang tidak mendengar suaranya, tapi aku tahu itulah yang dikatakannya.
Tugas lebih dahulu. Kutiup peluit. Kutunjuk arah gawang tim tuan rumah. Tidak ada penalti. Pemain tamu bertepuk tangan.
Tapi pemain tuan rumah kini balik berlari mengejarku. Aku mundur. Sialan… . Aku sangat siap berlari bolak-balik di lapangan. Namun berlari sprint menghindari kejaran adalah hal yang berbeda. Napasku sudah tersengal-sengal. Pemain cadangan pun mengejarku. Dan mereka lebih dekat. Aku mencoba menghindari dorongan dan pukulan mereka. Sriyono mencoba menghalau, tapi ia dan anak buahnya lebih sedikit dan tidak berdaya.. Para penonton melompati pagar pembatas. Lapangan kini dipenuhi manusia. Bersamaan dengan itu, pintu besar stadion terbuka, dan massa dari luar stadion serempak masuk. Mereka semua ikut menyerbu lapangan.
Aku mencoba berlari kembali ke arah tribun. Di sana, Mudaiyah memanggil-manggil dengan panik. Akhirnya, sepasukan polisi yang tersisa di sana bisa melindungiku.
Toh wajahku lebam dan kepalaku bocor terkena lemparan botol. Mudaiyah merawatku di ruang ganti dengan penuh kesedihan. Ia menangis. Aku tak pernah melihatnya menangis.
“Jangan menangis. Mau coklat ?”
Ia tersenyum. “Kamu nakal, kenapa nggak jadi penalti, toh ?”
“Aku nggak konsentrasi tadi, mikirkan kamu.”
Air matanya menetes. Ia tersedu sebentar, lalu pergi. Aku tak pernah melihat Mudaiyah lagi setelah itu.