Tewut (fiksi)
Malam yang dingin, menjelang pukul dua belas. Cahaya pucat neon menyapu kantor yang kosong menambah dingin udara dalam ruangan. Bunyi berdengung -entah dari mana- dan bunyi tuts yang ditekan menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara lalu lintas malam, nun jauh di bawah sana.Pras kembali berpikir untuk berhenti saja. Pendingin udara brengsek! Ia menaikkan retsleting jaketnya. Matanya perih karena telah seharian bekerja. Saat-saat begini, kapuk dipan ruang istirahat yang sudah hampir rata dengan alasnya itu terasa sangat menggoda. Betapa lembutnya. Betapa hangatnya.
Tidak. Hari ini gilirannya mengawasi angka-angka itu. Komputer. Internet. Monitor. Pekerjaannya di sebuah lembaga keuangan swasta memang mengharuskannya memantau perkembangan valuta, bursa efek, harga saham dan bunga bank di seluruh dunia, dari waktu ke waktu. Kalau terjadi perubahan yang signifikan, ia harus membuat laporan.
Pras mencoba menguatkan dirinya. Sial sekali mendapatkan giliran di malam yang dingin ini, dan sial sekali harus mengelilingi dunia seorang diri. Darman dan Jamil mungkin sudah sampai di Kemang, memesan minuman, dan sudah memulai diskusi politik ronde kesekian. Semua orang memang harus bicara politik sekarang.
Mungkin ada baiknya aku menyendiri saat ini. Sendirian, aku bisa punya waktu untuk memikirkan hidupku. Apakah aku memang harus pindah pekerjaan? Untuk apa? Pekerjaanku tidak berat. Membosankan? Ya, tapi sebanding dengan imbalannya. Lalu karir? Pantaskah pekerjaan ini untuk seorang sarjana ekonomi sepertiku? Ah, pada saat seperti sekarang ini, punya pekerjaan saja sudah bagus.
Mengawasi data dari internet bisa sangat menyenangkan. Kadang, jika memang sangat bosan, kan tinggal membuka sumbat jaringan. Informasi. Itu sudah semua yang dibutuhkan.
Jangan salah, ia tak pernah lalai bertugas. Hanya saja, angka-angka itu kadang begitu menjemukan. Kali ini pun begitu. Untuk melawan kantuk, ia menyalakan komputer lain, dan membuka pesan-pesan pribadinya. Tak ada yang baru. Kini ia bingung. Mau ngobrol, atau nonton? Ngobrol enak. Temannya pun banyak. Tapi malam begitu dingin. Akhirnya ia menuju jaringan pertunjukan bayaran. Cukup masukkan nomor rekening bank, ia bisa langsung menyaksikan wanita-wanita cantik bercengkrama telanjang. Ia tersenyum kecil. Siapa cewek baru berambut poni ini?
“Liat apa, Mas…?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
Pras kaget. Ia mencoba berdiri menutupi layar monitornya sambil menoleh ke belakang. Terlihatlah seorang laki-laki berpakaian rapi. Ia belum pernah melihat laki-laki ini. Usianya mungkin tidak terlalu terpaut jauh, dan wajahnya memancarkan keramahan dan ketenangan yang luar biasa. Tiba-tiba, Pras merasa sangat tenteram.
“Aaah… , ndak mas, ini lho, cewek-cewek bugil. Malem-malem begini sepi, mas. Ngomong-ngomong, mau cari siapa tho, mas ?”
“Anu, nama saya Tewut. Saya ada perlu sama mas Prasetyo. Satpam suruh saya cari ke sini.”
“Lhaa… . Prasetyo itu ya saya sendiri. Ada apa, toh, mas ?”
“Lhoo… , sampeyan ini mas Prasetyo ? Kebetulan sekali.” Tewut mencari posisi duduk, lalu duduk di sisi Pras, “Mas ini gagah betul. Maaf lho mengganggu malam-malam begini.”
“Ndak apa-apa…”
“Saya ini datang membawa kebahagiaan untuk mas.”
Kebahagiaan ? Aku ? Orang ini aneh betul. Tapi aku kok percaya kepadanya. “Ehmm… kenapa saya ? Kebahagiaan apa ? Mas ini siapa toh ? Jangan maen-maen lho mas…”
“Jangan kaget ya mas, saya ini gendruwo. Tugas saya memberikan kebahagiaan bagi orang-orang kesepian seperti mas ini.”
Hening sebentar.
“Hmm… .” Pras menarik napas dalam-dalam, beberapa kali, lalu menjawab, “Bagaimana kau bisa membahagiakan aku ?”
“Mas Pras bersedia ikut saya…?”
Pras mengangguk. “Bagaimana…”
“Begini… .” Tiba-tiba monitor, tuts, dan suara dengung pendingin udara menghilang. Langit-langit yang pucat kini menjadi langit gelap. Sunyi. Bintang bertaburan. Nyanyian katak dan tarian kunang-kunang.
“Ini kampung Drono? Ya. Ini kampungku.”
*
Malam yang dingin, mungkin sudah pukul dua belas. Cahaya pucat lampu neon yang keluar dari sela-sela pagar menambah dingin udara malam itu. Bulan tidak muncul. Gemerisik daun dan bunyi jangkrik yang sesekali terdengar menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara televisi penduduk yang belum dimatikan.
Perjalanan mereka berdua dilanjutkan melalui persawahan hingga pinggiran sungai. Pras duduk di atas sebuah batu besar, dan memandang buih-buih putih terbawa aliran sungai di antara batu-batu. Sebuah tanggul buatan jaman Belanda di dekatnya membuat arus sungai mengeluarkan suara keras, dan suara jangkrik serta katak ikut hanyut di dalamnya. Tewut memberikan sebuah lampu senter. Tidak jauh dari tempat duduknya, tampak seekor ular kecil yang berjuang berenang melawan arus.
“Mau ke mana ular itu?” Pras bertanya dalam hati.
“Pulang. Bertahun-tahun kau ndak pernah pulang, mengapa? Ayo pulang sekarang.”
“Nggak. Hari terlalu malam. Mari duduk di sini saja, berdiam-diam.”
“Kalau itu memang membuatmu bahagia… .”
Pras menarik napas sedalam-dalamnya. Air matanya menitik.
“Kau menangis? Ada apa?”
“Aku berjanji nggak akan pulang sebelum jadi orang.”
“Kamu orang yang sempurna bagi gendruwo sepertiku.”
Pras tersenyum. Tewut tersenyum. Senyum Tewut membuat tenteram.
“Mari pergi. Ada tayuban di dukuh dua. Atau kau lapar?”
Pras mengangguk.
Langit tiba-tiba memerah. Angin dingin bertiup kencang. Pras dan Tewut duduk saling berhadapan. Seorang pelayan datang membawa meja, lalu mencatat pesanan. Pras memandang ke kanan. Matahari terbit dari balik deretan bukit. Di sebelah kiri, gunung bromo masih tidur berselimut kabut. Turis dan warga setempat lewat sambil memberi hormat.
“Mengapa di sini?” tanya Pras, agak canggung.
“Tempat ini indah sekali.”
Tak ada yang bisa membantah hal itu.
“Tewut, ngomong-ngomong, apa yang bisa kulakukan padamu untuk menebus ini semua?”
Tewut tersenyum, “Ini tugasku. Kau hanya harus menikmati.” Matanya. Matanya yang membuat hati tenteram.
Setelah makan mereka ke panti pijat, lalu ke Bali, dan tidur-tiduran di pantainya bersama orang-orang bule. Pras senang sekali. Tewut gendruwo yang sangat menyenangkan. Semua yang berpapasan tersenyum atau melambaikan tangan. Ia memang tidak kelihatan berbeda dengan manusia biasa, hanya saja setiap ia melangkahkan kaki Pras selalu mendengar suara ‘teuut…, teuut…, teeut… .’ Pras menduga dari situlah tewut memperoleh namanya. Sebetulnya Pras baru tahu jika gendruwo bisa melayani manusia. Ia pernah mendengar cerita jin dari lampu wasiat yang memberikan apa saja yang diminta manusia, tapi permintaannya dibatasi hanya tiga. Ia bebas. Tewut benar-benar memanjakannya.
“Waaah… seger aku, Wut. Ke mana kita setelah ini ?”
“Mau masuk keputrenan kraton ?”
“Ha… ? Ada siapa di sana jaman sekarang ?”
“Belum mengerti juga ? Ruang dan waktu bukan penghalang buat kita. Aku pilihkan tempat dan saat yang terbaik untukmu.”
Maka Pras dan Tewut muncul di Kraton Solo pada akhir abad ke sembilan belas. Semua orang menyambut mereka, dan melayani dengan penuh suka cita. Mereka tinggal di sana selama berminggu-minggu. Pras betah sekali berada di sana, hingga suatu saat, ia teringat pada pekerjaannya. Pada ibunya.
“Wut, mari pulang, Wut…”
“Ndak mau tinggal di sini saja? Sudah tugasku membahagiakanmu.” Seorang wanita menghampiri, dan menciumi wajah Pras lalu dadanya.
“Aku seneng. Terima kasih banyak. Tapi aku harus pulang, Aku punya pekerjaan.”
“Apa kamu ndak berbahagia di sini? Mari ke bulan.”
“Aku senang, Tewut, sahabatku, tapi bersenang-senang terus nggak membuat orang berbahagia.”
“Kalau berhenti kamu ndak bisa kembali lagi. Padahal kamu ndak suka keseharianmu.”
“Aku nggak bisa di sini selamanya. Orang nggak bisa melepaskan diri dari keseharian hidup. Aku juga nggak bisa.”
“Kalau keseharian hidup ndak membahagiakanmu, mungkin kamu harus lepaskan semuanya.”
“Apa namanya hidup tanpa kesehariannya? Memang seringkali menyebalkan, namun itulah segala yang kita miliki.”
“Bersamaku kamu bisa lepaskan semua yang menyebalkan.”
“Yang jelas aku ndak ingin melepaskan pekerjaanku.”
Tewut menarik napas sebentar. “Kalau itu maumu… .” Maka mereka muncul di pojok dinding, di bawah tangga darurat, di bawah tanah gedung kantor Pras. Gemuruh mesin-mesin besar menambah gerah hawa ruangan. Di sekitar mereka tampak tulang-belulang dan serpihan sisa daging binatang entah apa. Pras kaget sekali. “Apa ini ? Kenapa kita di sini ?”
“Kucing, tadinya. Kita selalu di sini. Kita ndak pernah ke mana-mana.”
“Maksudmu aku makan kucing ini ? Selama ini ?”
“Ya.”
Pras terdiam. Ia menaiki anak tangga. Makan kucing tidak merisaukannya betul. Tapi kenyataan bahwa semua yang ia alami hanyalah permainan Tewut, menyakiti hatinya.
”Aku betul-betul ingin membuatmu bahagia. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal selamanya di sana.” Tewut menyusul naik di belakangnya.
“Aku ndak mau tinggal di … .” Pras tak meneruskan kalimatnya, tapi wajahnya marah sekali. “Kamu memberi kebahagiaan palsu… .”
“Yang penting adalah apa yang ada di hatimu. Rasa senang itu tidak palsu, tapi sesuatu yang murni. Sejati.”
“Panca inderaku ditipu. Perasaanku ditipu. Nggak ada yang murni soal itu. Semua orang ingin yang nyata, bukan hanya bayangan. Sesuatu yang benar-benar ada, bukan angan-angan.”
“Kamu tidak pernah mau pulang. Kamu menghindari kenyataan.”
Pras tidak menjawab. Mereka naik tangga sambil terdiam. Untuk beberapa lama.
Akhirnya Pras berhenti. “Jelaskanlah padaku kesejatian.”
Tewut terkejut. Ia masih terdiam. Air mata telah membasahi kedua pipinya.
“Aku tidak memahami kesejatian. Keahlianku membuat tiruan.”
“Justru karena kamu pemalsu yang ahli, maka seharusnya kamu sangat memahami kesejatian.”
Tewut terdiam lagi.
“Satu-satunya kesejatian yang kupahami adalah… sampeyan bapakku.”
Sekarang Pras tak bisa berkata-kata. “… Hah… eh… aku belum punya istri… .”
“Sampeyan betul bapakku. Kami gendruwo dilahirkan dari pria-pria masturbasi.” Ia mengusap air matanya.
Pras tidak berkata apa-apa.
“Kami adalah anak-anak yang tidak diinginkan. Tidak dipedulikan. Tidak dipikirkan. Sampeyan tahu bagaimana rasanya tumbuh sendirian? Tak punya ibu, dan bapaknya ndak peduli? Bahkan tahu punya anak pun ndak? Dengan bentuk seperti yang sampeyan lihat ini?“ Sambil berkata demikian, wujud Tewut perlahan-lahan berubah. Pakaiannya yang rapi menghilang. Otot-otot tangan dan kakinya membesar. Kulitnya menjadi gelap… gelap sekali. Wajahnya kini tidak beraturan, dan seluruh permukaan tubuhnya ditutupi benjolan dan cairan, di antara bulu yang tidak terawat.
Pras sangat terkejut. Ia tidak kuat memandang tubuh Tewut. Bau busuk dari tubuh itu menusuk hidungnya dengan tajam. Ingin rasanya menangis.
“Semua mahluk membenci kami. Di alam kami, gendruwo selalu dicurigai. Aku ndak pernah menyalahkanmu karena melahirkanku, tapi tolong hargai aku, seperti sampeyan menghargai manusia lain.”
Pras belum bisa bicara. Sejak remaja, setiap waktu lenggangnya, ia memang jarang bisa menemukan hiburan lain… .
“Eeh… maafkan aku. Hmmm… berapa umurmu ?”
Tewut tersenyum sambil mengusap air matanya, “Sampeyan lupa aku ndak punya keterbatasan ruang dan waktu.”
“Heh… iya betul… Apa yang kau inginkan sekarang ?” Pras memegang bahu Tewut.
“Ndak banyak. Aku ingin bisa memanggilmu bapak. Aku ingin membahagiakanmu. Dan jangan mengajakku berdebat soal kesejatian, karena aku dilahirkan oleh kepalsuan.”
*
Malam yang dingin, hampir jam satu. Cahaya pucat neon menyapu kantor yang kosong menambah dingin udara dalam ruangan. Bunyi berdengung -entah dari mana- dan bunyi tuts yang ditekan menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara lalu lintas malam, nun jauh di bawah sana.
Pras memandang monitornya, sendirian. Angka-angka. Cewek-cewek telanjang. Ia matikan semuanya. Malam ini ia akan pulang. Benar-benar pulang.
Depok, Januari 00
