Wednesday, May 16, 2001

ALIAS -Ling Kelinting/Tinker Bell- (fiksi)

Ling Kelinting tampak kesal. Sepagian ini ia cemberut. Keningnya berkerut.

Kenapa ia tidak mencintaiku? Kenapa ia tidak memilihku, dan malah perempuan itu? Bisakah ia menari di udara sepertiku? Bisakah ia melepaskannya dari kesulitan? Heeei, siapa yang membantu dia dan adik-adiknya terbang dari kamarnya di London hingga ke tempat ini?

Ia terbang, sayapnya yang kecil bercahaya sedikit lebih terang dari cahaya tubuhnya. Ia terbang dan terbang, secepat-cepatnya, hingga udara pagi dan titik-titik embun yang dingin menyegarkan tubuhnya. Titik-titik embun itu tentu kecil saja bagi manusia biasa, namun bagi Ling, setitik embun cukup untuk menghambat laju terbangnya. Ia tersenyum lagi memikirkan Peter Pan, kesayangannya.

Apa aku tidak punya perasaan, sehingga aku tidak mempedulikan perasaannya? Tentu saja aku punya perasaan, aku mencintainya sangat. Maksudku, betapa egoisnya perasaanku, sehingga menyalahkannya karena memilih Wendy.

Ia kini memilih berhenti di atas sebuah ranting pohon yang masih hijau. Ranting itu baru, daun-daun yang tumbuh si atasnya belum lagi berbentuk. Ia mencium bau yang segar. Tentu itu wangi daun yang baru tumbuh itu. Tatapannya kosong sekarang.

Wendy Wendy Wendy. Seorang manusia biasa. Ada apa dengannya sehingga ia memilih manusia biasa? Yah, tentu saja, Peter Pan pun sebetulnya manusia biasa. Ia hanya memilih untuk hidup di sini, bukan di dunia normal tepat Wendy berasal, dan menolak untuk tumbuh. Tidak bisakah ia melihat itu? Ia menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Dalam waktu singkat, Wendy akan menjadi tua. Mereka tak akan bisa bersama.

Ia menatap ke bawah, ke semak-semak dan bunga liar yang tumbuh di antara mereka. Matahari belum juga muncul dari Timur. Ia tak tahu harus berbuat apa, lalu hanya menutup matanya.

Oooh begitu lagi. Siapa aku hingga menghakimi mereka? Aku kan bukan pacar Peter Pan. Aku tak berhak mengatur hidupnya.

Sambil berpikir begitu, ia menggeleng. Ia menggeleng sambil terbang. Ia menggeleng begitu kuat sehingga serbuk-serbuk cahaya bertaburan. Beberapa ulat yang sedang asik makan daun terkena taburan serbuk-serbuk itu, dan mulai ikut berterbangan. Mereka tampak mulai kebingungan. Ling Kelinting melihat hal ini, lalu mengembalikan mereka ke tempat semula dengan tongkat ajaibnya.

Lagi pula, walau kami dekat, dan ia sering mengatakan betapa pentingnya aku baginya, aku tidak yakin dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Hei, beberapa kali aku menciumnya, dan ia menciumku. Apa itu semua ada artinya? Apa ia mencintaiku? Tidak. Ya. Tidak. Ya. Tidak ya tidak ya ya ya ya tidak. Aduuuh, betapa tersiksanya.

Ia meninggalkan pohon itu, lalu terbang di permukaan sebuah telaga. Kadang-kadang, beberapa katak yang masih terjaga hingga saat seperti ini mencoba menjilat karena menyangkanya seekor lalat. Atau melihat cahayanya yang terang, mungkin seekor kunang-kunang. Tapi pagi ini semua katak telah hilang. Mungkin mereka terlalu lelah bernyanyi sepanjang malam. Mungkin juga mereka sengaja membiarkan. Jelas, hari ini dia tampak muram.

Hai, apa yang aku lakukan ini? Apa aku mulai menyalahkannya? Apa ia pernah mengatakan cinta? Tidak. Pernahkah ia memberi tanda-tanda suka? Tidak juga. Pernah memberi iming-iming, janji atau perhatian lebih kepadaku? Tidak tentu saja. Jadilah, aku harus berhenti menimpakan kesalahan kepadanya.

Lalu kepada siapa? Wendy? Tak membuatnya adil juga. Aku tak pernah tau persis bagaimana perasaannya. Sering terlihat Wendy tidak menyukai gaya Peter yang arogan dan urakan. Menolak untuk terus tumbuh dewasa? Tidak terdengar benar-benar merupakan tipe pilihannya. Ya, mereka bukan pasangan yang ideal, tapi kata siapa cinta harus muncul karena banyaknya hal yang sama?

Kini ia mendarat di daun teratai. Beberapa ekor ikan berenang mendekatinya dan mengucapkan selamat pagi. Ia membalas ucapan itu.

Tentu saja untuk orang seperti Peter, Wendy sangat menarik. Ia keibuan, dan Peter tak pernah merasakan belai kasih sayang orang tua. Ia telaten, santun, namun jujur menyatakan pikiran dan perasaannya. Beberapa kali aku melihat gairah dalam mata Peter ketika memandangnya.

Ling menarik napas panjang. Ia membaringkan tubuhnya yang letih karena semua penerbangannya yang panjang hanya di pagi ini. Ia memejamkan mata, mencoba menikmati tidur sejenak di daun teratai yang dingin ini. Tidak, ia terlalu gelisah. Ia membalikkan tubuhnya, tengkurap, lalu memandang bayangan wajahnya di permukaan air dari sisi daun.

Lihatlah aku. Apa yang begitu menarik dari diriku bagi seorang Peter Pan? Dibandingkan tubuhku, ia raksasa. Tentu baginya aku hanyalah peri kecil yang kebetulan sering menolongnya. Tidak, lebih buruk. Aku hanya cahaya kecil yang berpendar berterbangan di sekitarnya.

Ia tidak tahan dengan segala pikiran itu. Ia merasa lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba membuktikan dirinya tidak lumpuh. Ia berdiri, lalu terbang kembali. Ia menggeliat. Tubuhnya segar sekali.

Hei, ya ampun. Masalah komunikasi. Apakah ia benar-benar mengerti arti semua kelintinganku? Aku tak bisa bicara, dan walaupun kebetulan ia tak pernah salah mengerti aku di saat-saat menghadapi kapten Hook, aku tidak yakin ia memahami bahasaku sepenuhnya. Tak tahulah, kami tidak pernah betul-betul duduk berdua dan membicarakan ini semua.

Ia berhenti di sebuah taman bunga. Bukan taman sebenarnya, karena tidak ada yang merawat tumbuhan di sana. Secara alami, tempat ini begitu indah, bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu berterbangan, dan semuanya mengucapkan selamat pagi. Ling mencoba membalas semua sapaan. Ia kenal hampir semuanya, walau usia kupu-kupu begitu singkat. Setiap hari ia memang menyempatkan diri datang ke sini, terutama saat ini, saat ia merasa butuh mencurahkan isi hati. Tapi tentu, bunga-bunga dan kupu-kupu ini tak akan mengerti.

Oooh, Peter. Kau begitu hidup. Menyenangkan. Jagoan. Tak mau kalah, arogan urakan dan gengsian, hi hi.. bukankah itu semua yang kuinginkan? Hmmmhh.. angan-angan. Membayangkan aku bersamanya hanya merupakan mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan. Mimpi yang akan kubawa kemanapun ku pergi. Sambil selalu berharap kau mendapatkan kebahagiaan sejati.

Ling Kelinting menarik napas panjang. Ia mencoba tersenyum walau air matanya jatuh ke rumput, menyatu dengan embun-embun yang masih dingin di pagi itu. Bagaimana pun, tetes air matanya mudah dibedakan karena masih memendarkan cahaya.

Yang kumau hanya roman dengan orang tertentu, yang kucintai sepenuh hatiku. Terlalu banyakkah itu?

Matahari telah terbit sekarang. Cahayanya sedikit menghangatkan tubuhnya. Tetes air matanya jatuh kembali, kali ini mendarat di kelopak bunga dan memercik menjadi tetesan-tetesan lebih kecil, memendarkan cahaya yang lebih banyak, bagai percik-percik kembang api.

Ia menarik napas panjang lagi. Dalam hatinya ia merasakan kebahagiaan tak terkira.