Tuesday, October 30, 2001

Bahasa Visual (essay)

(lupa ini dibikin untuk apa, mungkin dikirim ke mana gitu tapi gak dimuat. Well, anyway...)

“Hamlet didn’t say that, believe me, I know Shakespeare well…”
“He said that, believe me, I know Mel Gibson well.”
Cher (Alicia Silverstone), Clueless

Ingat saat-saat indah ayah mendongengkan kancil? Atau pertama kali membaca serial ‘Si Imung’? Tradisi bercerita, dan mendengar cerita, yang berabad-abad dibangun dengan bahasa lisan dan tulisan, sekarang tidak lagi populer di antara anggota keluarga. Mau cerita kancil dan Imung? Ada kartun dan sinetronnya di televisi.

Proses komunikasi visual, telah menjadi sebuah ajang penting dalam hidup modern sehari-hari. See look watch stare view observe witness lihat tonton tatap pandang saksi (pasti masih ada kata yang ketinggalan) semua berkaitan dengan proses persepsi yang melibatkan mata (eit… perceive sendiri sehari-hari juga berarti ‘melihat’, walau sebetulnya terkait juga dengan indera yang lain). Memang nggak segampang itu: selalu ada kombinasi. Televisi atau film yang visualnya sangat dominan, misalnya, tetap banyak mendasarkan penyampaian pesannya pada suara.

Bagaimana pun, dibandingkan dengan bentuk komunikasi lain: yang didasarkan pada sensor manusia: sonor, peraba, perasa, penciuman, dan yang dihasilkan kebudayaan manusia: bahasa lisan dan tulisan (eit lagi… tulisan sampai titik tertentu visual juga), bentuk ini semakin merajalela dan menjadi bagian penting dalam kebudayaan manusia. Poster-poster agitasi, lay out majalah, atau petunjuk instruksional pemakaian mesin cuci, semuanya dominan menggunakan gambar.

Dalam proses terbentuknya kebudayaan sebuah masyarakat, komunikasi merupakan prasyarat penting (di sisi lain, cara komunikasi sangat ditentukan oleh kebudayaan yang mengaturnya). Di sini kita bisa melihat bahwa selain kebudayaan dalam konteks besar seperti kebudayaan etnik, ada konteks-konteks kebudayaan yang lebih kecil: dalam kebudayaan Jawa ada kebudayaan Yogya yang berbeda dengan kebudayaan Semarang, di dalamnya ada kebudayaan tukang becak Yogya, berbeda dengan kebudayaan mahasiswanya, lalu pasti banyak perbedaan antara kebudayaan mahasiswa psikologi UGM dengan seni rupa ISI, dan antara mahasiswa psiko antar angkatan dan klik pun ada perbedaan. Semuanya terbentuk karena bentuk dan proses komunikasi yang berbeda dalam komunitas itu.

Dalam perkembangan kebudayaan manusia, munculnya bahasa dianggap sebagai revolusi komunikasi yang pertama. Setelah itu, muncul tulisan. Penemuan mesin cetak yang memungkinkan penyebaran pemikiran manusia melalui penggandaan tulisan merupakan revolusi ketiga. Tidak terlalu lama setelah itu, televisi dengan kemampuannya membentuk opini publik dalam skala global dan waktu singkat dianggap merupakan revolusi keempat. Dalam perang AS lawan Afghanistan saat ini, juga terjadi perang wacana antara jaringan tv barat versus wacana Arab yang berujung tombak pada liputan stasiun tv CNN dan Al Jazheera, membagi dua opini penonton di seluruh dunia.

Televisi, dan film, mengubah cara manusia memandang dirinya. Sejak adanya televisi, presiden Amerika tidak pernah lagi terlalu gemuk, karena yang tidak terlihat bagus di televisi tidak akan dipilih masyarakat. Kebudayaan visual pun dipersalahkan sebagai penyebab mandegnya proses pemikiran manusia, yang paling kelihatan adalah bagaimana kekuatannya menghilangkan kebiasaan membaca (Michel de Cherteau menyebutnya “the cancerous growth of vision”), dan mendidik kita semua untuk terbuai oleh budaya instan: jagoan muncul, penjahat muncul, masalah memuncak, jagoan membereskan, penjahat kalah. Ini semua membantu manusia untuk semakin frustasi menghadapi kehidupan nyata -bagaimana mungkin Tommy Suharto tidak pernah tertangkap?-, dan kembali mengurung diri dalam buaian dunia virtual yang menenangkan.

Walau bahasa gambar sangat dominan sebelum ditemukannya huruf (ingat lukisan di dinding piramid atau relief candi-candi?), komik bisa dibilang merupakan titik awal kesadaran manusia akan keterbatasan bahasa verbal, lisan atau pun tulisan, dalam penyampaian pesan. Gambar menyampaikan ribuan kata. Antropologi talah lama menggunakan fotografi dan film untuk mengumpulkan data dan mempresentasikan hasil penelitian. Sebuah novel berjilid-jilid cukup menjadi film berdurasi 2 jam. Toh, itu tidak menghilangkan kekuatan bahasa verbal, terutama dalam menyampaikan pemikiran atau perasaan manusia, sesuatu yang tidak terjangkau oleh bahasa gambar. Ingat film-film yang diangkat dari buku harian orang-orang, bagian ketika orang yang bersangkutan mengungkap pikiran dan perasaanya dibuat dalam bentuk narasi, yang juga verbal.

Bahasa gambar, seperti bahasa lisan dan tulisan, juga memiliki strukturnya sendiri. Dibangun perlahan-lahan oleh industri film, linguistik gambar bisa dibandingkan langsung dengan bahasa verbal. Rangkaian kata-kata “ibu-sedih-dimarahi-ayah” secara sintagmatik bermakna khusus karena setelah dirangkaikan, makna setiap kata melengkapi lainnya. Secara paradigmatik setiap kata bisa diganti: sedih diganti senang, dimarahi diganti disayang, atau bahkan sesuatu yang aneh secara kultural; kita bisa merangkaikan: “ibu-senang-dimasak-ayah”. Walau maknanya terasa mustahil, toh kalimat tersebut memiliki makna yang spesifik. Demikian juga bahasa gambar: Bayangkan urutannya: “gambar ibu menyapu-gambar ayah datang dan memarahi ibu sambil membuang sampah di lantai-gambar ibu menangis”. Secara sintagmatik menyampaikan makna “ibu menangis dimarahi ayah”. Jika gambar ayah datang diubah dengan membawa kompor dan penggorengan, lalu gambar ibu menangis diganti ibu tersenyum-senyum di atas penggorengan, maka maknanya pun berubah.

Tidak hanya di televisi dan film, visual culture, muncul hampir setiap saat dalam kehidupan sehari-hari orang modern, dan telah menjadi representasi wacana manusia sehari-hari. Dalam lift, kabin ATM, keluar masuk kantor, tempat parkir, bandara, supermarket, kita selalu dipantau oleh kamera-kamera pengawas. Kamera ada di mana-mana, dalam insiden 911 bahkan tabrakan pesawat pertama terekam oleh 2 kamera! Ironisnya, sebegitu banyak kamera pengawas yang dipasang untuk ‘menolong kehidupan manusia’ tidak serta merta berarti bisa menolong kehidupan manusia. Penculikan Jamie Bulger, usianya 6-7 tahun, dari sebuah pusat perbelanjaan di Liverpool tahun 1993 bisa direkam prosesnya dari berbagai kamera yang tersedia, tanpa ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan.

Internet dan multi media saat ini telah memasuki dimensi lain dari proses komunikasi: interaktif. Email, mailing-list, dan game-game interaktif yang bisa dimainkan dari kamar masing-masing membentuk cara baru berkomunikasi instan tanpa harus mengadakan tatap muka. Penelitian antropologis Bayu Aji Wicaksono menunjukkan bahwa bentuk komunikasi ini seperti ini sama sekali tidak mengurangi potensi untuk membentuk kebudayaan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, malah bagi orang-orang dengan kecenderungan untuk berbicara dengan bahasa tulisan ketimbang lisan cara ini lebih efektif (2001). Dengan hilangnya prasyarat tatap muka, bentuk masyarakat juga tidak ditentukan lagi oleh batasan geografis. Munculah masyarakat ahli biokompresi nuklir dunia, atau masyarakat pemburu UFO, yang tidak pernah saling bertemu, tapi sangat intens saling berkomunikasi dan memiliki nilai serta normanya sendiri.

Apa kita ada di jalan yang salah? Atau ini cuma proses perkembangan peradaban manusia; dan kita sedang berada di titik penting lahirnya cara baru melihat diri kita sendiri? Clifford Geertz selalu berkata bahwa manusia terperangkap dalam jaring-jaring makna yang mereka bangun sendiri, dan kini jaring-jaring itu bisa dilihat.