Thursday, December 18, 2003

Mari Menakuti Diri Bersama Televisi (essay)

Her World Indonesia Februari 2004

Mari menakuti diri bersama televisi
Wahai hantu-hantu. Kapan kau mati lagi?

Kemarin teman saya baru cerita, kalau Rio--anaknya yang masih SD jadi penakut betul. Tapi lucunya dia tidak mau ketinggalan acara lihat hantu setiap malam. Sementara pembantu mereka yang baru datang dari kampung, juga jadi ketakutan ditinggal di rumah sendirian. Konon ini gara-gara dia pernah nonton acara televisi yang menayangkan rekonstruksi pembunuhan di sebuah pasar.
Sejak menjelang siang kita sudah disodori berita kriminal. Narkoba, penipuan, pemerasan, penggelapan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, penodongan, pencopetan, penculikan, korupsi, kolusi, atau mutilasi. Semua dengan visualisasi blak-blakan, entah rekonstruksi atau liputan langsung di lapangan. Kerap kali mayat dengan darah menggenang atau pelaku yang babak belur dipukuli massa disorot jelas-jelas. Terkadang ketika si bonyok disorot kamera, tanpa ragu penegak hukum juga ikut main pukul.
Menjelang tengah malam, nyali kita diuji lagi. Kali ini oleh hantu-hantu yang gentayangan ke ruang televisi kita. Jin, setan, dedemit, arwah penasaran, siluman, jadi-jadian, gendruwo, lelembut, pocong, kalongwewe, tuyul, leak, sundel bolong, kuntilanak, semua ada. Seperti kesuksesan formula berita kriminal, hantu sekarang juga punya jam tayang sendiri di semua stasiun televisi swasta. Tidak main-main, hantu juga punya nilai jual tinggi. Saking memikatnya “fenomena penampakan” para makluk itu, kini satu stasiun televisi tidak cukup hanya memiliki satu acara tentang hantu.
Seperti orang-orang dewasa, si kecil Rio tak mau ketinggalan kesempatan ngobrolin ‘hantu yang muncul tadi malam’ dengan teman-teman di sekolah. Walau begitu, harga yang harus dibayar Rio berat juga. Sudah lama dia memilih rute yang lebih panjang tiap pulang-pergi sekolah. Karena di jalur biasa, dia harus melewati ‘rumah hantu’ yang katanya sudah pernah masuk tv. Ia juga tak mau ditinggal di rumah, dan kadang panik berlebihan kalau sadar ia sedang sendirian. Terima kasih acara-acara hantu-hantu. Rio kini diharapkan menjaga rumah sepulang sekolah, karena si pembantu takut. Terima kasih acara-acara kriminal.
*
Dalam film ‘Bowling for Columbine’, Michael Moore kebingungan karena bangsa Amerika punya angka kematian oleh senjata api yang tertinggi di dunia. Apakah penyebabnya lirik musik rock atau video game seperti selalu digembar-gemborkan orang? Atau sejarah kekerasan bangsa Amerika menunjukkan mereka sendiri memang bangsa yang kejam?Toh negara-negara lain juga memiliki hal-hal tersebut. Jerman dan jepang adalah bangsa yang gandrung oada musik rock dan video game, dan sejarah kekerasan bangsa mereka juga terkenal, ingat kamp konsentrasi Nazi atau budak romusha Jepang? Tapi kenapa sekarang angka kematian karena senjata api di kedua negara itu bisa tetap rendah? Yang paling aneh, Kanada yang kulturnya dekat dengan Amerika Serikat dan banyak rakyatnya memiliki senjata api, angka kematian karena senjata apinya kok rendah sekali?
Moore sangat heran ketika tahu pintu rumah orang Kanada tak pernah dikunci. Mereka seperti tak punya rasa takut. Angka kejahatan di sana memang rendah. Ketika ditanya, mereka balas mengherankan orang Amerika yang tak bisa mempercayai tetangga padahal telah puluhan tahun tinggal bersama.
Di akhir film, Moore menuding televisi dan media lain yang selalu menakut-nakuti orang Amerika. Walau kemudahan memiliki senjata dan tingkat kriminalitas tetap menjadi faktor terpenting, peran media memang sangat kuat. Ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan yang berlebihan orang Amerika pada lingkungannya pasti terbentuk oleh sesuatu. Lalu, apakah acara televisi di Indonesia juga menjurus ke situ?
*
Sebagai bisnis yang butuh keuntungan, pengelola stasiun televisi dan rumah produksi memang sangat mengacu pada rating. Rating ini menunjukkan banyaknya penonton yang menyaksikan acara mereka. Semakin tinggi rating berarti semakin banyak penonton suatu acara, maka semakin mudah mencari pemasang iklan.
Di sisi lain, program “reality show” ini banyak mendapat kritikan. Semisal dua produser sukses acara tv, Aaron Spelling (BH 90210, Melrose Place) dan David E. Kelley (Ally McBeal, The Practice) yang menganggap acara sejenis itu membodohi orang Amerika. Semua percaya semuanya nyata. Padahal, si penegak hukum yang kita lihat main pukul, misalnya, mungkin memang overacting karena ada kamera di dekatnya. Namun, orang sudah terlanjur percaya dan rating acara ini tinggi.
Maka, tak heran jika lebih banyak berkembang acara yang tidak mendidik dan membiarkan orang tenggelam dalam ketakutan. Dari sini juga kita bisa bercermin melihat wajah sendiri, masyarakat kita, yang masih sering mencari jalan pintas kriminal, punya orang-orang sadis, yang penegak hukumnya masih suka main pukul, dan masih lebih percaya pada kekuatan supranatural daripada kekuatan diri mereka sendiri. Masalahnya, memang orang nonton karena ingin bercermin? Walau takut, orang tetap menonton karena rasa takut memberikan sensasi. Teorinya, kalau mau takut tapi terlalu takut untuk takut sungguhan, jangan lompat dari air terjun, naik saja kereta luncur di taman ria, jangan cari setan di kuburan, tonton saja film horor atau acara hantu-hantuan, penasaran pingin tau seperti apa mayat terpotong-potong, lihat saja acara kriminal. Semuanya tak betul-betul dialami langsung. Orang ternyata kepingin takut, asal dengan dosis yang tepat.
Ninuk Kleden-Probonegoro, peneliti seni pertunjukan dari LIPI, juga menguatkan pendapat ini. “Mula-mula memang ngeri, tapi sekarang ini acara (hantu-hantuan) itu nggak ada mistik-mistik dan sakralnya lagi, semua sudah profan, semata-mata hiburan. Buat saya orang menonton acara seperti itu sudah seperti menonton lenong saja,” katanya, sambil mengingatkan bahwa fenomena populer kembalinya dunia mistik bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Ketakutan pun menjadi barang dagangan yang laku dijual.
Tapi kalau Moore gelisah karena acara kriminal di Amerika ia anggap menyebabkan tingginya angka kematian dengan senjata api, saya gelisah karena orang Indonesia sudah overdosis dan ketagihan dengan rasa takut. Mereka keasikan ditakut-takuti, khawatir berlebihan, dan selalu menyalahkan faktor di luar diri mereka untuk setiap kegagalan. Mereka tumbuh menjadi bangsa pengecut, yang bahkan tak berani bermimpi.
Tunggu dulu, televisi juga punya sinetron yang menjual mimpi, gosip selebritis. Apa itu tidak menggugah orang untuk sukses seperti mereka? Ya, sinetron tentang orang kaya memang banyak, dan ratingnya juga tinggi. Tapi seperti kata pembuatnya, sinetron semacam itu ditujukan untuk melupakan kesulitan hidup sehari-hari penontonnya. Acara gosip pun hanya menggali masalah pribadi, tak peduli pada keahlian si seleb. Terakhir saya lihat, mereka sedang membahas alasan kenapa belum sempat menata rumah setelah 3 bulan menikah. Penting banget enggak, sih...
Jadi, kalau ada penggambaran orang kaya, tak pernah ditunjukkan usaha keras mereka memperoleh kekayaannya. Orang pun terbiasa melihat kekayaan yang instan. Tuh lihat, orang kaya juga enggak pernah kerja. Maka, kalau mau jadi orang kaya, cari cara yang gampang saja. Apa contoh yang paling mudah ditiru? Bisa dengan menipu, memeras, korupsi, mencuri, menodong, mencopet, atau memalak. Cara lain yang bukan kriminal juga bisa. Bisa memohon pada jin, arwah, memedi, tuyul, siluman, dan teman-teman lainnya.
*
Ketika saya tanya seorang teman, yang merupakan produser program hantu di sebuah stasiun televisi, ia menenangkan saya “Tenang...” katanya, “Nanti juga ilang. Orang bakal bosen sendiri...” Masalahnya, kalau kita pura-pura percaya pada hukum permintaan dan penawaran untuk acara televisi di Indonesia, berarti kita juga pura-pura tak tahu bahwa permintaan yang paling didengar bukan permintaan penonton, tapi permintaan pemasang iklan. Cukup banyak acara yang khusus dibuat atas pesanan pemasang iklan, atau dibintangi bintang iklan yang bersangkutan.
Di sisi lain, rating penonton harus tinggi, agar si pemasang iklan tak pergi dan sukur-sukur bisa mendatangkan lagi iklan lain. Bagaimana cara membuat acara dengan rating yang tinggi? Gampang. Bikin acara yang mirip dengan acara lain yang sudah terbukti sukses. Pengiklan jadi agen penting dalam proses ini karena mereka bersama industri televisi membentuk standar apa yang harus dilihat oleh masyarakat. Selera penonton pun telah terbentuk oleh standar ini. Ini menjadi puisi kehidupan yang satir: Industri membutuhkan penonton, tapi penontonnya dibentuk oleh industri. Kapitalisme memang hebat.
Lalu apa karena kesuksesan satu program semua harus dibuat seragam? Apakah penonton suka program nggak mutu karena kebutuhan mereka, atau karena mereka tak punya pilihan? Saat ini televisi adalah media paling dominan. Kekuatannya membentuk masyarakat besar sekali. Harus ada yang memulai membuat program berguna, atau kita berjalan makin cepat tapi cuma di tempat.
Dalam bisnis televisi, rating dan iklan memang dijadikan tuhan. Tapi saya tak mau bisnis televisi hancur gara-gara pengiklan pergi. Saya yakin industri televisi akhirnya bisa percaya diri dengan kreatifitas baru dan meninggalkan ‘politik massa mengambang’ mereka. Akan ada banyak ide membuat program yang mematangkan karakter penontonnya, namun tetap menghibur. Masalahnya, berapa lama lagi kita harus menunggu?
Kunci jawaban dari masalah ini dipegang oleh individu-individu di bagian kreatif industri televisi dan iklan. Saya percaya mereka tahu bahwa industri televisi Indonesia telah kehilangan jutaan penonton yang terdidik dan punya posisi tawar lebih tinggi. Penonton semacam ini memang masih terbatas, namun daya beli mereka tinggi, dan merupakan pasar penting. Dengan meningkatnya perekonomian dan perkembangan teknologi komunikasi, jumlah penonton seperti ini akan bertambah banyak. Apakah industri televisi dan iklan rela kehilangan pasar potensial ini?
Jadi akhirnya saya bilang pada bapaknya Rio si anak yang jadi penakut: “Didik sajalah anakmu jadi orang pintar, yakinkan sekolahnya sudah mengajar dengan betul. Biasakan dia lihat film-film bagus dan film dokumenter pengetahuan, kan nggak susah dapetinnya?” kalau berhasil, mungkin ini bisa menjadi puisi kehidupan yang lebih indah: program bagus bikin anak pintar, dan anak pintar hanya mau menonton program bagus.

0 Comments:

Post a Comment

<< Home