Thursday, July 17, 2003

Anak Laki Nggak Cengeng (essay)

Her World Indonesia September 2003

Kesalahan perempuan terbesar, mereka nggak pernah bisa paham bahwa laki-laki itu manusia juga, punya perasaan juga. Bedanya, laki-laki dilarang nangis.

Boys don’t Cry

Dua hari yang lalu kami bertiga berkumpul. Seorang teman saya, laki-laki, menceritakan pacarnya yang hanya menangis tersedu-sedu ketika mengira dirinya sedang selingkuh. Susah sekali menjelaskan duduk perkara sebenarnya kalau sedu-sedan sudah menggantikan bahasa lisan. Aduuh, kenapa menangis itu selalu menutup pikiran perempuan?
Teman yang lain perempuan, dan dia tentu saja sebal. Nangis itu alami buat semua perempuan yang merasa disakiti! Dan believe me, we know just everything about being hurt. Sakit bulanan, melahirkan... . Secara mental juga, kami ada di dunia ini untuk kalian sakiti, dasar laki-laki kurang ajar! Kalian mengaku-ngaku diri kalian lebih kuat, lebih jago nyetir, lebih rasional, mana? Hati pacarnya hancur malah bilang perempuan nggak punya pikiran!! Menangis itu tanda bahwa perempuan lebih kuat. Dasar kaum nggak punya perasaan!
Jangan omong sembarangan ya? Si teman pertama jadi ikut tersinggung. Kamu kira laki-laki itu cuma gumpalan daging yang kebetulan gerak-gerak kesana-kemari? For your information, we do have feelings. Itulah kesalahan perempuan terbesar, mereka nggak pernah bisa paham bahwa laki-laki itu manusia juga. Punya otak punya hati juga.
Ya dan dengan bodonya laki-laki pikir perempuan nggak punya otak, potong si perempuan. Artinya laki-laki nggak punya dua-duanya. Kalau punya otak kenapa mikir begitu, kalau punya perasaan kenapa nggak nangis aja?
Ngaco, kalau dua-duanya nangis kapan selesainya masalah, kata si laki-laki.
Si perempuan tertawa senang. Iya iya kamu punya perasaan. Waktu kamu dengan bodohnya bilang perempuan nggak punya pikiran, kamu pasti sedang panik dan takut kehilangan pacar yang kamu sayang. Dasar bego, udahlah nangis aja, apa gunanya punya kelenjar air mata? Abis nangis pasti lega. Iya, kalau sudah lega bisa lebih gampang ngomong sama dia. Dia lalu menyanyikan lagu kelompok Dewa yang menekankan pentingnya menangis bagi kesehatan jiwa.
Tapi si teman pertama bertahan. Aaah… sudahlah, apa katamu tadi? Menangis itu kompensasi bagi kekuatan perempuan? Hehehe, jangan-jangan kalimat itu dikarang oleh laki-laki juga. Soalnya pada akhirnya, toh laki-laki juga yang diuntungkan. Kalau menangis wajar buat perempuan, artinya nggak apa-apa kalau laki-laki bikin perempuan nangis. Kalau memang perempuan mau sejajar dengan laki-laki, mustinya perempuan kayak laki-laki, nggak gampang nangis juga.
Si teman perempuan melotot lalu mulai mengomel panjang pendek lagi. Karena kami memang selalu berkumpul untuk obrol-obrol dan ketawa haha-hehe maka saya pun cuma ketawa-ketawa. Haha-hehe.
*
Menangis memang ekspresi paling dasar dalam kehidupan manusia. Kita menangis jauh sebelum kita belajar tertawa, apalagi dari ekspresi yang lebih rumit, seperti tersenyum bijak, mengerutkan dahi, bergosip atau membuat lambang =) di sms kita. Dulu kita menangis seketika, dan seiring dengan semakin tingginya kemampuan untuk mengontrol emosi, kadar menangis kita pun turun drastis di masa remaja hingga dewasa.
Apa yang menghubungkan perasaan manusia dengan isak tangis dan keluarnya air mata? Selain menangis masih ada jantung berdebar, keringat dingin, gemetar, gagap, merinding, kebelet pipis mendadak, tertawa dan lain-lain. Bagaimana fisik manusia bisa memahami perasaan yang berkecamuk dalam hati seseorang? Belum ketahuan apakah binatang mengalami juga jantung berdebar atau kebelet pipis, tapi saya belum pernah melihat ayam menangis atau anjing tertawa. Anjing pun berkata, aku juga belum pernah tuh melihat manusia menggoyang-goyang ekor kalau lagi senang.
Apa menangis dan bentuk ekspresi refleks lainnya memang hanya bentuk reaksi fisik terhadap perintah otak saja? Lalu apa fungsinya? Kalau ditanya pada dokter, fungsi keluarnya air mata adalah membersihkan debu dan kotoran yang menempel di mata. Tapi hubungannya dengan kondisi mental seseorang? Bukankah sedih dan senang sama-sama bisa memunculkan tangis? Kenapa emosi bisa memunculkan ekspresi sekuat tangisan kalau tidak ada fungsinya?
Saya percaya kalau orang bilang menangis melepas beban. Beban emosi yang tertumpah keluar saat menangis membuat perasaan lebih lapang (tapi kalau bahagia, untuk apa menangis? Apa emosi senang menjadi beban yang harus dilepas juga?). Sebetulnya semua orang yang tumbuh dewasa, apapun jenis kelaminnya, juga tidak diharapkan gampang mewek. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup seseorang diharapkan memiliki kematangan emosional yang lebih baik. Ini berarti, kalau sudah besar orang tak boleh lagi merengek-rengek minta dibelikan es krim.
Masalahnya laki-laki diharapkan budaya untuk bisa lebih menahan naluri ini. Mereka diharamkan emosional. Padahal, mereka juga ditempatkan sebagai penyangga keluarga. Kalau satu keluarga bangkrut, bukan si ibu yang dipertanyakan, tapi ayah. Tuntutan-tuntutan dari masyarakat lebih besar pada laki-laki. Beban yang tidak enteng, tapi bagaimana menuntaskannya? Semua masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin, artinya semua masalah harus dipikirkan dalam-dalam. Bukan dengan menangis.
Waduh, mungkin itu jawaban kenapa depresi lebih banyak menyerang lelaki! Karena itu laki-laki antusias sekali pada obat peningkat kemampuan seksual! Dan makanya mereka doyan ngebut di jalan! Dan aduh, pantas saja iklan obat rambut rontok selalu pakai model laki-laki!
Wah, tengkyu! Mendingan saya nangis sekarang agar tak botak daripada menangis juga nanti gara-gara botak.