Monday, May 31, 2004

Ayah dan Anaknya (essay)

Her World Indonesia May 2004

Anak adalah titipan Tuhan, kata orang. Tapi kata orang tua, anak adalah mainan baru.
Ayah dan Anaknya

Teman saya baru menjadi seorang ayah, dan ia sedang senang-senangnya. Ia tersenyum setiap saat, kadang tertawa-tawa sendiri dan berniat berhenti merokok karena ia percaya anaknya cemberut setiap saat mencium bau mulutnya saat digendong. Punya anak, bagi setiap orang dalam keadaan normal pasti membahagiakan. Namun, seperti diakuinya sendiri, kebahagiaan terbesar adalah karena anaknya laki-laki. Tentu saja kebahagiaan ini akan tetap sama jika anaknya perempuan. Namun, memang anak laki-laki seringkali menjadi bonus yang menambah kebahagiaan ayah-ayah mereka. Man and their sons, what is it with them? Ada apa memangnya dengan anak laki-laki buat ayah-ayah?
Selain alasan-alasan kerepotan menjaga anak perempuan, biasanya ayah-ayah memberi alasan dengan anak laki-laki mereka bisa lebih bersenang-senang. Seorang teman bilang ia ingin anaknya laki-laki agar bisa diajak main bola. Seorang teman yang lain ingin segera mengajarkan cara menyupir mobil. Seorang kerabat membayangkan anaknya menjadi ahli aroma kopi, seperti dirinya. Semua bercerita dengan mata berbinar-binar, membayangkan waktu bermain-main dengan anak mereka.
Memikirkan bahwa anak laki-laki adalah mainan baru ayah mereka agak mengerikan, walau pikiran seperti itu terus muncul. Apakah ibu-ibu juga ingin bermain-main dengan anak perempuan mereka? Ternyata iya juga. Rekan perempuan yang duduk di sebelah saya di kantor bilang jika nanti anaknya perempuan ia ingin mendandaninya dan mengajaknya bermain boneka, masak-masakan, dan ketika lebih besar tentu saja mengajaknya belanja dan masak betulan.
Barangkali memang bukan sekedar permainan. Keinginan bermain dengan anak-anak mungkin memang bagian dari rencana pendidikan jangka panjang. Ayah ibu memiliki harapan yang pinginnya bisa dicapai oleh anak-anak mereka, dan mereka berusaha mendorong anak-anaknya mencapai harapan itu. Rajin olah raga, jago mengoprek mesin mobil, menjadi professional yang handal, mahir mengerjakan tugas-tugas rumah tangga adalah harapan yang biasa dibebankan kepada anak-anak kita.
Bagaimana dengan anak-anaknya? Anak-anaknya sih tinggal untung-untungan saja, selain tidak bisa memilih jenis kelamin apa, mereka juga tidak bisa memilih orang tua yang cocok dengan minat mereka (kalau-kalau mereka punya minat bawaan sejak dalam kandungan), atau setidaknya mereka harus pasrah menunggu minat apa yang diarahkan orang tua mereka. Paling-paling masalah yang lagi-lagi muncul adalah seberapa besar toleransi ayah ibu terhadap minat dan keinginan anaknya?
Kenapa harus anak laki-laki kalau ingin ngajar nyetir? Padahal mahal sekali kalau semua perempuan harus punya supir sendiri. Kenapa harus merasa kehilangan bonus kalau ingin main bola bersama tapi yang lahir anak perempuan? Pasti ini sebabnya tim nasional sepakbola puteri Indonesia jadi bulan-bulanan di Sea Games kemarin. Dan kenapa pula kalau anak perempuan menjadi pencium aroma kopi, atau anak laki-laki jago masak sejak kecil?
Peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat kita diharapkan berbeda, dan pembedaan ini memang masih keras. Dan semua orang sadar, masa-masa bayi hingga anak-anak akan menjadi sangat penting sebagai tahapan awal proses pencarian identitas diri yang mungkin berlangsung seumur hidup. Ayah ibu di sini masih panik mendengar anak laki-lakinya semakin rajin berlatih menari kontemporer untuk acara tujuh belasan. Mereka masih cemberut dan mengomel panjang pendek ketika anak perempuannya ikut menjadi kiper dalam permainan bola lima lawan lima bersama sepupu-sepupu laki-laki dalam acara pertemuan keluarga.
Padahal, contohnya saja saya, yang berharap kemungkinan bagi saya bisa lebih terbuka. Saya sih senang-senang saja dengan apa yang saya lakukan sekarang, tapi mungkin saja saya bisa lebih bahagia kalau menjadi penata busana atau bekerja di salon. Atau mungkin juga saya malah lebih senang jika bisa menjadi petani atau nelayan. Sayang, tidak pernah ada yang mengajarkan bercocok tanam atau mengajak jalan-jalan menangkap ikan.
Peran ayah ibu mengarahkan minat dan kemampuan anak memang masih diperlukan, tapi untuk anak saya nanti saya tidak mau kalau malah menyempitkan pilihan. Saya percaya minat dan spesialisasi harus dicari bukan karena pengalaman yang terus menerus di satu bidang kegiatan (apalagi dari jenis kelamin seseorang), tapi dari pilihan sadar setiap orang bahwa mereka tidak suka melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Bagaimana mereka bisa tahu mereka tidak suka, kalau mereka tak pernah mencoba? Setelah mencoba banyak hal, tentu pilihan pada minat dan spesialisasi akan didasari pada perasaan senang melakukan pilihan itu. Bersyukur sekali orang-orang yang dihargai keahliannya di satu bidang karena menggemari bidang itu. Senang sekali mencari nafkah sambil melakukan hobi kita.
Cara mendidik anak, seperti cara kita membuat pilihan-pilihan hidup kita, adalah proses trial and error yang berlangsung terus menerus. Waktu teman saya pertama tadi bilang ia pikir-pikir untuk berhenti merokok, saya segera mendukungnya. “Hebat, kamu akan memberi anakmu lebih banyak pilihan.” Minimal kan dia bisa merokok sendiri kalau memang mau, tidak perlu dirokoki bapaknya. Maka ayah-ayah, ajak sajalah anak perempuan kalian bermain bola atau silat, atau ijinkan saja anak laki-laki ikut masak-masak dan main boneka.

1 Comments:

At Thursday, March 17, 2005 9:35:00 AM, Blogger ana said...

Kamu membuat aku semakin bersyukur memiliki kedua orangtuaku,nda...karena mereka telah mengajarkan aku bagaimana menjadi diriku sendiri sejak aku masih amat sangat kecil sekali...

 

Post a Comment

<< Home