Monday, June 07, 2004

Mana Bintangmu Mana Bintangku (essay)

Her World Indonesia, Agustus 2004
Mana Bintangmu Mana Bintangku

Ada teman yang memutuskan menikah tidak lama setelah berkenalan dengan pasangannya. Mengagetkan, karena selama ini dia dikenal ultra selektif dan menghindari menjalin hubungan serius. Ketika ditanya alasannya, dia menjawab selama ini dia menunggu seseorang berbintang libra. Ia percaya pada astrologi, dan menurutnya zodiak mereka berdua sangat cocok. Serta merta semua teman laki-laki yang mendengar tertawa terbahak-bahak, walau dia berkeras itulah alasannya memutuskan menikah. Mungkin anda merasa hal ini tidak terlalu aneh untuk ditertawakan, tapi bayangkanlah kalau teman saya itu bukan perempuan. Ya, dia laki-laki, dan si pengantin perempuan kebetulan juga sangat percaya ramalan bintang.

Astrologi dianggap bukan merupakan penjelasan yang rasional mengenai tindakan seseorang. Makanya si pengantin laki-laki ditertawakan teman-teman. Apalagi, katanya laki-laki itu rasional dan perempuan emosional. Tapi saya bukan sedang ingin membahas stereotip kampungan itu. Saya malah penasaran, kalau betul astrologi tidak rasional, kenapa dia bisa terus bertahan? Mengapa tindakan manusia ada yang rasional dan ada yang tidak?

Dulunya manusia sangat tergantung pada kondisi alam. Mereka makan dari apa yang tersedia di alam, mau berburu, atau mengumpulkan tumbuhan yang bisa dimakan. Ketika peradaban sudah lebih maju, manusia mulai bisa mengakali alam dengan menanam sendiri hasil bumi mereka. Namun, tentu saja segala kegiatan perladangan masih sangat tergantung pada alam. Hutan harus dibuka, harus dibakar agar bisa ditanami. Kalau sudah sering ditanami, kesuburan tanah berkurang, hasil bumi tidak maksimal lagi. Maka, manusia harus berpindah-pindah tempat tinggal agar selalu mendapatkan hasil bumi yang baik. Lalu manusia menemukan saluran irigasi dan pupuk alami agar tanah selalu gembur. Namun banyak hal masih bergantung pada keadaan cuaca. Jika hujan kurang, sumber air mengering, irigasi pun tersendat. Jika hujan terlalu banyak, tanaman terendam. Jika ada serangan hama, lenyap sudah panen semusim.

Keadaan yang sepenuhnya bergantung pada alam ini menegaskan posisi manusia yang tidak berdaya. Untuk itu mereka membuat penjelasan yang memuaskan, bahwa ada kekuatan lain, kekuatan besar yang mampu mengatur alam yang menentukan nasib mereka. Maka, sejak semula kemunculan manusia dan bertahan hingga saat ini, kepercayaan kepada roh halus, arwah nenek moyang, penunggu pohon, batu, sungai, pantai, gunung, jadi-jadian, atau kalong wewe menjadi sangat mudah dipahami. Beberapa orang yang berpikir lebih sistematis mengeluarkan acuan berupa primbon-primbon berupa catatan pola yang menjelaskan kondisi alam pada setiap munculnya bencana atau berkah. Salah satunya menghubungkan nasib manusia dengan posisi bintang yang terlihat dari bumi, itulah astrologi.

Kesadaran rasionalitas seperti yang kita miliki sekarang mulai tumbuh di Eropa pada masa pencerahan. Saat itu, pengaruh kekuatan keagamaan dalam politik dan kehidupan sehari-hari masyarakat mulai berkurang. Ilmu pengetahuan dianggap memenuhi standar apabila telah melalui pengujian dan ada bukti yang muncul berulang-ulang.

Muncullah batasan baru mengenai apa yang dapat diterima sebagai hal yang rasional dan tidak. Hantu, arwah, penunggu jembatan yang oleh orang tertentu katanya bisa terlihat tapi tidak bisa dilihat semua orang itu: tidak rasional. Primbon dan astrologi nyatanya sering tidak akurat, berarti ada masalah dengan cara orang jaman dulu mencatat, itu juga berarti: tidak rasional.

Menjadi orang modern berarti menjadi orang yang bertanggung jawab. Kalau bilang sakit dan tidak bisa masuk ke kantor, harus membawa bukti surat dokter, boss tidak akan menerima alasan bolos karena disantet atau kesurupan. Kalau bilang harga belanja barang naik, harus bisa menunjukkan kwitansinya. Untuk tanggung jawab pada orang lain, standar rasionalitas ditetapkan berdasarkan standar yang sama. Untuk diri masing-masing, jelas standar ini lebih longgar.

Orang bebas memilih hidupnya seperti apa, mau percaya pada apa, mau melakukan apa. Teman saya tadi bilang, semua buku astrologi mengatakan zodiak libra tidak cocok untuknya. Anehnya, dia bilang, semua cewek yang ia taksir berbintang libra. Karena tidak pernah merasa cocok atau tertarik pada cewek-cewek dengan zodiak yang disarankan, ia merasa perempuan libra adalah perempuan yang akan membuatnya bahagia. Karena itu, ia fokus mencari perempuan libra.

Sampai sekarang ternyata manusia masih tergantung pada kekuatan lain dalam menjalani hidupnya. Orang masih percaya ramalan bintang, susuk, santet, pelet, hantu, atau nalurinya sendiri. Bahkan, kepercayaan pada agama yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara rasional menurut ukuran modernisme barat, saat ini berperan besar sekali dalam menentukan nasib umat manusia. Ilmu pengetahuan modern belum bisa menjawab semua pertanyaan manusia, maka kepercayaan pribadi setiap orang memiliki rasionalitasnya sendiri-sendiri.

Mengejar sesuatu karena keyakinan yang terbentuk dari pengalaman, bukankah itu rasionalitas juga? Saya suka sekali es krim, dan karenanya pingin makan es krim setiap kali habis makan dan mau tidur. Saya tahu saya bisa jadi kebanyakan lemak. Kata ahli kesehatan, apa yang saya lakukan tidak rasional. Tapi kalau saya melakukan sesuatu yang membuat saya senang, itu rasional sekali kan? Kalau seseorang menuruti ramalan bintang karena selama ini dia rasa benar, wajar saja kan?