Tuesday, March 29, 2005

selamat hari paskah (essay)

(for some mailing list/list serve/e-groups)

meskipun saya bukan penganut yang terang-terangan dari agama-agama 'yang diijinkan beroperasi' di indonesia, tapi yaaah... masa nggak boleh? hihihi...

tanpa bermaksud mengurangi makna hari-hari besar ini bagi teman-teman yang merayakannya, harus diingat bahwa perayaan paskah, natal, atau valentine's day, yang semuanya berbasis pada peringatan kejadian besar dalam sejarah agama Kristen, bisa juga dilihat dari sudut pandang konsumerisme atau kapitalisme. Ini kelihatan terutama di kota-kota besar di pesisir amrik yang penduduknya banyak yang malas ke gereja tapi tetap membeli coklat berbentuk telur paskah, membeli hadiahdan pohon natal, dan bunga mawar merah dan ke restoran pada malam valentin. Pokoknya toko-toko rame deh (apa lagi ada teman Kristen yang bilang hari valentin itu sebetulnya cuma nebang nama, padahal orang pingin merayakan awal mating season burung-burung).

Teman sekelasku yang keturunan yahudi malah ikut membeli pohon natal dan meletakkan hadiah natal dalam kaus kaki buat pacarnya. Dia mengklaim natal bukan event-nya orang Kristen lagi. Paskah ini aku dapet banyak coklat berbentuk telur dari semua bule yang ketemu di hari itu, dan kita bisa melihat perayaan hari valentin bahkan dilakukan siapa saja di kota besar di indonesia. Selama ada yang bisa dijual, ritual dan peringatan sakral pun bisa dipaksa menjadi profan. Bukan hanya hari besar agama, Helloween, Thanksgiving, dan Independence Day, semua perayaan dimanfaatkan, tradisi dijadikan alat penggenjot penjualan. Promosi dan sale besar-besaran memaksa orang untuk ikut ambil bagian. Kapitalisme memang hebat.

(sebetulnya, di tangan lain (on the other hand), merayakan sesuatu tanpa alasan yang jelas itu wajar aja juga sih, apalagi kalau kasusnya orang-orang yang gak punya kepercayaan apa-apa lagi itu. Semua orang perlu perayaan, semua orang perlu ritual-nya masing-masing, seperti apa pun bentuknya. Ada yang selalu menunggu 'Desperate Housewives' hari minggu, ada yang rutin buka situs porno, ada yang rajin membuka blog cowok -trus ketahuan yang punya blog lagi- hehehe.. Semua wajar kok, tapi itu semua soal lain. Kita kan lagi ngomongin makna hari besar keagamaan.)

Pergeseran perayaan hari besar agama ini dari sakral menjadi profan juga sudah terjadi di konteks hari lebaran, yang kebetulan juga punya tradisi pakai baju baru. Untung Matahari Departement Store atau Pasaraya belum terjun ke bisnis kambing kurban. Or should I put it this way: untung belum ada orang yang menyumbang kambing gara-gara nonton iklan: "kambing gagah agar anda tampak keren dan dermawan di hari raya, everything is about image".

Sekali lagi, saya sangat bersukur punya teman-teman yang masih bisa merasakan esensi dari suatu perayaan hari besar, bukan sekedar karena tradisi dan ikut-ikutan, apalagi menjadi korban iklan.

(hehehe.. walau saya salah-gunakan argumen anti tradisi ini juga kalau dibangunin pagi-pagi untuk solat hari raya: "males ah, ngantuk, itu kan cuma tradisi. solat wajib aja gak pernah, masak yang nggak wajib dibela-belain...?")

selamat paskah semuanya