<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221</id><updated>2012-01-30T06:23:13.720-08:00</updated><title type='text'>menjadi</title><subtitle type='html'>i'm just a lone traveler in the land of amrikiyah. these are my works, my thoughts. most of these writings were produced long time ago, and the good thing about my old writings is that they are fiction. Fiction writing is definetely a luxury these days :(</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>19</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-113713172823775046</id><published>2006-01-12T21:51:00.000-08:00</published><updated>2006-01-15T04:29:06.446-08:00</updated><title type='text'>Pembantu dan Tukang Becak (fiction)</title><content type='html'>&lt;a href="http://photos1.blogger.com/blogger/7243/835/1600/bec2.jpg"&gt;&lt;img style="FLOAT: right; MARGIN: 0px 0px 10px 10px; CURSOR: hand" alt="" src="http://photos1.blogger.com/blogger/7243/835/400/bec2.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penarik becak di Manhattan, Gagas cukup kenal liku-liku jalan di sana. Walau downtown dan midtown kelihatannya datar-datar saja, namun ia tahu semakin ke atas sebuah tempat di peta Manhattan, semakin menanjak ke atas jugalah jalan-jalannya. Maka, ketika seorang nyonya tua menawarkan lima puluh dolar untuk membawanya dari 33rd ke 87th street di Upper West Side, dia pikir-pikir dulu. Lebih dari lima puluh blok. Penamaan jalan di New York memang memudahkan orang membayangkan lokasi sebuah tempat. Semakin kecil nomor jalannya, semakin dekat ke downtown di selatan, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;Lima puluh dolar uang yang banyak, tapi perjalanannya juga jauh dan melelahkan. Tanjakan di uptown jelas semakin terjal. Tapi dia belum mendapatkan apa-apa sejak membawa keluar becaknya dari pangkalan. Ia tahu tak ada penarik becak kulit putih yang akan mengiyakan tawaran ini, namun ia melihatnya sebagai penglaris untuk memulai hari. Upper West Side adalah daerah tuan dan nyonya kaya, mungkin ia akan mendapat penumpang lagi di sana. Lagipula, kalau mereka ingin ke bawah, jalan-jalan akan menurun nantinya.&lt;br /&gt;Hari yang dingin untuk musim semi, tapi tak cukup dingin untuk menahan keringatnya. Ia berhenti dan membuka jaket menjelang masuk Central Park. Jalan di dalam taman jelas lebih nyaman ketimbang harus berhenti di setiap persimpangan. Pedalnya memberat, walau dia sudah  masuk ke tansmisi paling ringan, tanda bahwa tanjakan semakin menantang. Sesekali ia harus mengerem juga, karena banyak orang menyeberang. Sialan, hari ini banyak sekali orang jogging siang-siang. Mengapa ada banyak orang yang tidak perlu mencari uang?&lt;br /&gt;Si Nyonya senang sekali dengan pilihan rute ini. Ia pun bercerita kenangan-kenangan. Cerita-cerita itu sederhana saja, kencan pertama dengan pacar di skating rink, perpisahan dekat the plaza waktu sang pacar berangkat perang. Naik becak, perjalanan adalah tujuan, dan pemandangan memanjakan angan-angan. Gagas lalu membayangkan cerita-cerita si Nyonya dalam gambar hitam putih, seperti foto dan film tua. Jangan-jangan cherry blossom indah magenta ini pun dulunya hitam putih belaka?&lt;br /&gt;Mereka keluar taman, dan lalu lintas di atas sini memang tak seramai daerah sibuk di bawah sana. Betul dugaan Gagas, Sang Nyonya turun di depan sebuah gedung apartemen mewah. Dia memberikan tip sepuluh dolar, menjadi awal yang bagus untuk hari ini. Setoran becak tiga puluh dolar di musim semi, dan jumlah yang sama sudah ia kantongi sendiri. Kalau benar ia bisa mendapat penumpang turun ke midtown, maka hampirlah tercapai setengah targetnya untuk sepanjang hari. Mungkin ia bisa mentraktir Carol nonton film malam nanti? Tapi apa bisa mendapatkan penumpang di daerah ini?&lt;br /&gt;Aku harus menjauhi jalan besar, ke tempat orang-orang tak mudah bertemu taksi. Tapi kenapa sepi sekali di sini? Ah, itu ada perempuan dengan tas belanja. Wait a minute, she wears… kebaya…!!!&lt;br /&gt;*&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;&lt;br /&gt;Carol telah mengembalikan becaknya ke pangkalan dan membayar uang setoran. Kini ia menanti dan menanti. Dicobanya menelepon Gagas, tapi ponselnya mati. Jarang-jarang Gagas membuatnya cemas begini. Dia penarik becak ulung, seringkali perolehannya di atas tukang becak lain. Aneh, padahal dia jarang mangkal di pusat-pusat wisata. Turis-turis jelas bukan buruan utamanya. Padahal, turislah yang biasanya memberi tip paling banyak. Ditambah lagi, dengan penampilannya, Gagas akan lebih mudah dipercaya turis-turis luar negeri, apalagi dari Asia.&lt;br /&gt;Aneh, tak biasanya dia ingkar janji. Mana orang itu? Aku baru berniat mentraktirnya nonton film setelah makan malam. Kalau sudah terbiasa bersama, makan seorang diri sungguh tidak menyenangkan. Kuharap ia sudah makan dan kami masih bisa nonton pemutaran terakhir. Bagaimana ya ketika bertemu dengannya nanti? Sudah bolehkah aku merajuk, sedikit?&lt;br /&gt;Darn. Move orang ini lambat sekali. Memang aku yang harus menyesuaikan diri. Enam bulan selalu bersama, dan belum pernah ia menyentuhku. Well, tapi dia selalu manis, siap membantu, dan kupikir, reaksi kimia antara kami tidak terbantahkan. Kami menikmati saat-saat bersama, dan seharusnya sekarang sudah tiba waktunya kami bercinta. Sialan. Aku akan berhenti menjadi perempuan baik-baik saat bertemu dengannya nanti.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Namanya Asih. Lengkapnya Rumiasih. Dua puluh tiga tahun. Bekerja sebagai pembantu rumah tangga di keluarga diplomat Indonesia. Asih Asih Asih. Hihihi… namanya, apa ya artinya?&lt;br /&gt;“Saya ndak tahu, ndak ada artinya…”&lt;br /&gt;“Oooh….”&lt;br /&gt;Pemalu. Atau misterius?&lt;br /&gt;“Sudah pernah jalan-jalan ke Times Square? Kita belanja sayuran di sana saja mau…? Dekat sana ada toko besar buat belanja juga.”&lt;br /&gt;“Ndak. Saya ditunggu. Lagipula, nyonyah saya pakai kartu diskon toko sayuran di seratus sepuluh street itu.”&lt;br /&gt;“Pulangnya naik apa? Sama saya lagi ya? Saya tunggu, masih gratis.”&lt;br /&gt;“Jangan aah… pokoknya nanti saya bayar.”&lt;br /&gt;“Lho, tadi katanya pakai kartu subway dari nyonyah?”&lt;br /&gt;“Iya, becaknya saya bayar pakai uang saya sendiri.”&lt;br /&gt;“Waduh, nggak perlu…”&lt;br /&gt;“Nggak pa pa…”&lt;br /&gt;Gengsian. Oke.&lt;br /&gt;“Iya, yang ini tokonya. Stop di sini.” Asih turun dari becak. “Ini uangnya.” Ia mengulurkan uang tiga dolar.&lt;br /&gt;Gagas tersenyum. Tiga dolar untuk dua puluh blok lebih. Ia mengurungkan niatnya untuk menolak uang itu. “Terima kasih, mbak. Saya tunggu di sini ya?”&lt;br /&gt;“Tapi saya mungkin lama lho…?”&lt;br /&gt;“Nggak apa-apa.”&lt;br /&gt;Asih tersenyum. “Mas namanya siapa?”&lt;br /&gt;Mereka berkenalan. Gagas menunggu Asih hampir satu jam, lalu ia pun mengantarkan Asih pulang. Asih kelihatan senang, ia tidak perlu menjinjing tas belanjaan naik turun tangga kereta subway. Sampai di rumahnya, ia membayar lagi tiga dolar.&lt;br /&gt;“Sini saya bantu”&lt;br /&gt;“Ndak usah, saya bisa sendiri kok, kan tinggal naik lift.”&lt;br /&gt;“Saya bantu bawa sampai lift?”&lt;br /&gt;“Ndak perlu, itu doorman saya datang, biasanya dia yang bantu.”&lt;br /&gt;“Apa kamu sibuk setelah ini?”&lt;br /&gt;Asih kelihatan kaget.&lt;br /&gt;“Hmmm.. eh.. saya… harus mulai masak.”&lt;br /&gt;“Yaah, sayang sekali. Ini malam sabtu, dan malam ini akan hangat lhoo… . Kalau begitu, mungkin kapan-kapan kita bisa ketemu lagi.”&lt;br /&gt;Doorman apartemen menyapa Asih dan mengambil keranjang belanjaan. Ia menunggu.&lt;br /&gt;“Hmmm.. saya bawa belanjaannya ke atas, nanti saya turun lagi. Tapi kita harus kembali ke sini jam lima ya?”&lt;br /&gt;“I promise.”&lt;br /&gt;Malam itu Gagas tidak bertemu Carol.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sejak betemu Asih, Gagas hampir tidak pernah lagi bekerja. Setiap hari ia plesiran bersama Asih. Seperti hari ini. Asih memakai kaca mata hitam dan Gagas membawa belanjaan. Asih kelihatan senang sekali.&lt;br /&gt;“Seneng ya kamu?”&lt;br /&gt;“Iya… habis rame…”&lt;br /&gt;“Kok seneng cari yang rame…?”&lt;br /&gt;“Belum pernah. Saya sudah dua tahun di sini, tapi belum sempat ke mana-mana. Gak ada yang nemenin”&lt;br /&gt;Mereka menyusuri East Village, Soho dan Chinatown. Di Chinatown Asih masuk ke salon kecantikan. Gagas menunggu di luar sambil merokok dan melihat-lihat. Asih keluar dari salon, dan jantung Gagas hampir berhenti melihatnya. Rambut Asih kini berwarna coklat kemerahan.&lt;br /&gt;“Kenapa rambutmu di-cet…?&lt;br /&gt;“Kan bagus begini… . Eh, bagus kaaan?”&lt;br /&gt;“Eh, Bagus bagus… hehehe… bagus kok.”&lt;br /&gt;“Makasih, sekarang kita makan yuuk, aku traktir. Habis itu temenin aku belanja ya? Aku mau beli oleh-oleh buat temen-temen di kampung.”&lt;br /&gt;“Memang kapan mau pulang?”&lt;br /&gt;“Kontrakku masih enam bulan lagi. Mas Gagas kapan pulang?”&lt;br /&gt;“Ehm… aku gak tau…”&lt;br /&gt;Keduanya diam sebentar. Gagas lalu tersenyum.&lt;br /&gt;“Yuuk, katanya mau cari oleh-oleh. Di sebelah sana tuh tempatnya.”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Carol mengernyitkan dahi.&lt;br /&gt;Mana mungkin Gagas jatuh cinta padanya? Dia baru saja kenal. Apa yang ia ketahui mengenai perempuan sundal itu? Love at first sight? No way. There’s no such thing.&lt;br /&gt;Sudah jelas, Gagas rindu kampung halamannya. Dia memang sudah lama tidak pulang ke Indonesia. Ayahnya, dulu seorang tukang becak, telah lama meninggal dunia. Ibu Gagas yang bekerja keras membiayai sekolah anaknya. Gagas lulus sekolah tinggi pelayaran. Sepuluh tahun yang lalu, ketika sampai di sini, ia tidak pernah kembali ke kapalnya yang bersandar di pelabuhan. Nekat, nekat. Modalnya hanya selembar foto kopi paspor, karena paspor aslinya ditahan sebagai jaminan oleh nahkoda. Nekat. Sejak itu dia bekerja di restoran atau di konstruksi bangunan. Sampai akhirnya ia melihat pangkalan becak di Manhattan.&lt;br /&gt;Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;Betapa tidak rasionalnya dia. Bersamaku dia lebih memiliki masa depan. Menikah denganku berarti memutihkan statusnya di negara ini. Tapi masalah ini bukan soal status. Kupikir ia sudah bisa melupakan asal-usulnya. Ini salahku. Seharusnya kularang ia makan di restoran Indonesia setiap minggu. Atau seharusnya kubuang potret ibunya sedari dulu. Tapi manalah mungkin aku tega berbuat itu?&lt;br /&gt;Ini pilihannya. Dia harus memilih, perempuan itu atau aku? Huh, laki-laki memang selalu emosional dan terburu-buru. Ketika waktu berlalu, dia akan tahu ini cinta monyet yang semu. I mean, for God’s sake, betapa cocoknya kami, begitu saling melengkapi. Seharusnya sedari awal aku lebih cepat menerkamnya.&lt;br /&gt;Hampir setiap hari ia pelesir bersama perempuan terkutuk itu. Ini sudah minggu kedua. Carol menggeleng-gelengkan kepalanya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;“Nunez, Asih sudah turun?”&lt;br /&gt;Nunez, si Doorman apartemen Asih kelihatan lega melihat Gagas. Ia berlari menghampiri, dan dengan tergesa-gesa mencoba bicara, sulit sekali, mengingat bahasa Inggrisnya yang pas-pasan.&lt;br /&gt;“Mister Gagas, Asih pergi. Seluruh keluarga pergi. Mister diplomat dipindah ke Geneve… mendadak…! Mereka semua pergi. Baru saja…! Berangkat ke bandara…!”&lt;br /&gt;Muka Gagas berubah pucat. Ia belum pernah ke bandara dan naik pesawat. Ia mengambil ponselnya.&lt;br /&gt;“Carol, eh, hari ini kamu belum narik kan? Temani aku ke bandara. Asih pergi, aku harus menyusulnya. Apa? … Aku belum pernah ke bandara. Kamu harus pergi dengan saya. … Please, kamu harus menolong temanmu. … Carol, ini soal hidup dan mati. … Apa? … Ehm, Nunez, bandara mana? … Newark…! Kita bertemu di mana? Ya… ya… tempat itu aku tahu. … Baik, kita bertemu di sana.”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Dalam kereta api dari bandara. Carol tidak tahu apa dia harus senang atau kasihan pada Gagas. Wajahnya pucat pasi. Tatapannya lurus ke depan, seolah-oleh ada pemandangan indah di terowongan gelap di luar jendela kereta subway.&lt;br /&gt;“Gagas, cut it off. Memangnya gampang cari pesawat terbang di bandara? Kamu seharusnya bertanya nama maskapainya, jadi kita tidak perlu berputar-putar di setiap terminal…”&lt;br /&gt;Gagas tidak bisa berkata-kata.&lt;br /&gt;“Come on, Gas. Dia tidak berharga. Apa yang kamu tahu tentang dia? Dari ceritamu, kamu tertarik pada dia hanya gara-gara dia pakai baju yang sama dengan yang ada di foto ibumu.”&lt;br /&gt;“Saya naksir berat…”&lt;br /&gt;“Naksir berat? Kamu ter-obses sama dia…”&lt;br /&gt;“Cinta itu obsesi.”&lt;br /&gt;“Obsesi itu untuk remaja, Gagas. Cinta itu rasional. Seperti yang kita punya.”&lt;br /&gt;Gagas kelihatan agak kaget pada keterus-terangan Carol. Ia menolehkan wajahnya sedikit, walau matanya tetap memandang ke luar jendela.&lt;br /&gt;“Apa yang kita punya?”&lt;br /&gt;“Hey, kalau kamu tidak bertemu perempuan sundal itu kita sudah bersama sekarang.”&lt;br /&gt;“Jangan memanggil dia sundal”&lt;br /&gt;“Ya, maaf. Tapi jangan bilang kamu nggak merasakan apa yang saya rasakan, jangan bilang kamu tidak menikmati semua percakapan kita. Percakapan yang membuat kita selalu pulang larut malam dan terlambat berangkat menarik becak. Kita punya banyak waktu susah dan senang bersama. Tujuan hidup kita sama, dan aku bisa gila kalau gak dengar suara ketawamu.”&lt;br /&gt;Gagas masih tertegun, tapi air mukanya berubah.&lt;br /&gt;“Kamu cuma kangen ibu kamu. Kamu pasti kepingin bisa pulang.”&lt;br /&gt;Gagas tidak berkata apa-apa. Dia terdiam lama, bahkan ketika mereka sudah berganti kereta. Carol pun memilih menahan diri. Mereka asik dengan pikiran masing-masing. Barisan orang pulang kerja menyerbu gerbong mereka.&lt;br /&gt;“Hati-hati dompetmu.”&lt;br /&gt;Carol memegang dompet di tas punggungnya. Dia menoleh, Gagas sedang menatapnya.&lt;br /&gt;“Hati-hati bibirmu.”&lt;br /&gt;Gagas memegang pipi Carol, lalu mencium bibirnya. Carol kaget, tapi dia membalas ciuman itu.&lt;br /&gt;“Gas, maaf ya aku bilang kamu kangen pingin pulang. Kapan-kapan aku ikut kamu liburan ke sana. Sekarang, yuk kita makan malam di… apa nama restoran kecil itu? Warteg?”&lt;br /&gt;Gagas tersenyum dan mengangguk, mereka berciuman lagi.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Kereta berhenti, rel kereta api dan stasiun yang mereka lalui kini melayang di atas jalan. Gagas dan Carol berjalan turun tangga sambil berpegangan tangan. Di anak tangga terakhir, tepat di depan warteg, Gagas memperlambat jalannya.&lt;br /&gt;Di pintu masuk warteg, Asih sedang duduk sambil memegang kopernya. Asih melihat Gagas, lalu melompat dan memeluknya.&lt;br /&gt;“Aku kabur Mas, aku gak mau ikut ke Jenewa. Aku mau di sini sama Mas Gagas.”&lt;br /&gt;Semua terpaku. Bahkan pegangan tangan Gagas dan Carol belum terlepas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Queens, NYC, 12 Januari 2006&lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;birthday present for Dhyta&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-113713172823775046?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/113713172823775046/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=113713172823775046' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/113713172823775046'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/113713172823775046'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2006/01/pembantu-dan-tukang-becak-fiction_12.html' title='Pembantu dan Tukang Becak (fiction)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-111692203412747117</id><published>2005-05-24T01:02:00.000-07:00</published><updated>2005-06-25T18:25:56.760-07:00</updated><title type='text'>Welcome to the Global Village (essay)</title><content type='html'>KosMag Magazine, NYC, issue 2, May 2005&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.kosmag.com/"&gt;http://www.kosmag.com/&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marshal McLuhan is right; we do live in a global village. People in a village in India or Malaysia can talk about Prince Charles’ latest marriage like he’s one of their neighbors. They can watch the whole event “with their own eyes” on television, and gather gossip about this trans-oceanic neighbor’s impending marriage from that magic box and tabloid page 6 news. With globalization, the whole world is given a chance to be a part of Prince Charles’ marriage; global media provides people in the world new identities and new boundaries.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The main problem with this new global media culture is power imbalance. Mass media, the most powerful cultural agent, always acts as a propaganda machine for the whole capitalist industry. Indeed, they are supported by and depend on fashion and household industry, food chains, sports, apparel, and other consumer impulses to fund film and television programs. Not only does mass media create global culture but it creates global consumers. It creates myths about these products and consumption, making people in the world attach new meanings to stuff they buy and the money they spend. A diamond ring is not merely a stone with metal around your finger, it is a sign of wealth, beauty, loyalty, and eternity. Having a cell phone symbolizes reliability, connectivity. Not being able to discuss the latest box office smash –or the royal marriage- around the water cooler can make one feel out of the loop. Wearing expensive clothes simply makes people confident. And damn, consuming always makes me feel good.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And who can blame Hong Kong hip-hop artists with oversized costumes doing what they like if the image can make money? Can we really tell perennial couch potatos how unproductive their lives have become by channel surfing from one gossip show to soap operas? But then, who is considered responsible for resisting these vehicles for capitalist propaganda?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The dynamics of supply and demand within global culture can be surprising. Hollywood movies have difficulties reaching Indian audiences, where the preference lies with Bollywood musicals. Similarly, there are almost no imported programs in prime time Indonesian television, even though producing local programs is at least four times more expensive than buying the imported ones. On the other hand, mainstream industry is losing when it comes to competing with newer forms of underground-non-industrial media. In 1997, I heard ska for the first time at an underground stage in a Jakarta ghetto. Around the same time the economic crisis crippled Indonesia and it was years before I finally saw an “original” ska music video on Indonesian MTV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Our global community has to be understood in terms of how, regionally, the dominant economy is latent to be the dominant culture. We can say Hollywood dominated the world, but Bombay’s Bollywood is more powerful in South Asia and Egypt’s social industries dictate much of the media culture in the Middle East. Just like New York and Los Angeles culture represents the United States’ global cultural face, a Jakarta dialect is considered the coolest everyday language by youth in Indonesian big cities. A friend of mine from Jakarta went to college in another town and got a side job as a radio DJ. Because he speaks in a Jakarta dialect, he became more and more popular and ended up taking over the station.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Since competition exists within industries, it is hard to predict what is going to be popular among whom. Native celebrities might be more popular than Hollywood actors in smaller towns, domestic brands can be more popular than “expensive” Levi’s, but at the same time, these local “brands” might be following trends coming from international influences. On the other hand, it is hurtful to see how multinational companies co-opt the “ethnic” without crediting local artisans or giving much thought to context and usage. But this tide also has a flip-side. When some of my colleagues visited a remote village in Indonesia that can only be reached by walking five hours from the closest river in the middle of Borneo, they asked if some local artists could give them tattoos of traditional patterns. This seemingly harmless request reflected a classic division between generations. Traditional tattoos could only be found on elder members of the village while the younger generation relied on “western” tattoos. The tattoo artists in the closest city decorated their client’s bodies with “classic” symbols like the Buddhist swastika, yin yang signs, anchors or “ethnic” patterns from Hawaii, Aboriginal tribes, or Irish celtic symbols. Some people in that village even had tattoos of airplanes or words like, “I love you”. Not until members of the younger generation saw that people from the outside valued their traditional patterns did they begin exploring their own identity.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;While large corporations take local images out of context, they also make efforts to tailor their products to successfully market to specific communities. To be successful in Asia, American fast food chains adapt and offer familiar flavors to reach the Asian consumer tongue. In addition to the American triumverate of ketchup, mustard, and mayonnaise, all fast food chains in Indonesia serve hot chili ketchup as the most crucial condiment along with rice options. Pizza Hut and Burger King offer pizza, pasta and burgers using “local” ingredients and recipes. Coca-Cola has renamed their original product as “classic” when they had to differentiate the taste –and the ingredients– for a more and more segmented market. All western restaurants in predominantly Muslim populations have to have a halal sign, pork-free and special handling of the meat in accordance to Islamic teaching, to serve the local community.&lt;br /&gt;Some would say that these localized changes show that multinationals care about their consumers. Naah, the only thing they care about is money. Still, I don’t know whether McLuhan happy or upset with this situation. I still don’t care about Prince Charles Marriage, but I know shopping makes me feel good, and I always miss eating my KFC with rice and hot chili sauce.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-111692203412747117?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/111692203412747117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=111692203412747117' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/111692203412747117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/111692203412747117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2005/05/welcome-to-global-village-essay.html' title='Welcome to the Global Village (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-111208739608932776</id><published>2005-03-29T00:59:00.000-08:00</published><updated>2005-03-31T22:30:18.346-08:00</updated><title type='text'>selamat hari paskah (essay)</title><content type='html'>(for some mailing list/list serve/e-groups)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;meskipun saya bukan penganut yang terang-terangan dari agama-agama 'yang diijinkan beroperasi' di indonesia, tapi yaaah... masa nggak boleh? hihihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tanpa bermaksud mengurangi makna hari-hari besar ini bagi teman-teman yang merayakannya, harus diingat bahwa perayaan paskah, natal, atau valentine's day, yang semuanya berbasis pada peringatan kejadian besar dalam sejarah agama Kristen, bisa juga dilihat dari sudut pandang konsumerisme atau kapitalisme. Ini kelihatan terutama di kota-kota besar di pesisir amrik yang penduduknya banyak yang malas ke gereja tapi tetap membeli coklat berbentuk telur paskah, membeli hadiahdan pohon natal, dan bunga mawar merah dan ke restoran pada malam valentin. Pokoknya toko-toko rame deh (apa lagi ada teman Kristen yang bilang hari valentin itu sebetulnya cuma nebang nama, padahal orang pingin merayakan awal mating season burung-burung).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman sekelasku yang keturunan yahudi malah ikut membeli pohon natal dan meletakkan hadiah natal dalam kaus kaki buat pacarnya. Dia mengklaim natal bukan event-nya orang Kristen lagi. Paskah ini aku dapet banyak coklat berbentuk telur dari semua bule yang ketemu di hari itu, dan kita bisa melihat perayaan hari valentin bahkan dilakukan siapa saja di kota besar di indonesia. Selama ada yang bisa dijual, ritual dan peringatan sakral pun bisa dipaksa menjadi profan. Bukan hanya hari besar agama, Helloween, Thanksgiving, dan Independence Day, semua perayaan dimanfaatkan, tradisi dijadikan alat penggenjot penjualan. Promosi dan sale besar-besaran memaksa orang untuk ikut ambil bagian. Kapitalisme memang hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(sebetulnya, di tangan lain (on the other hand), merayakan sesuatu tanpa alasan yang jelas itu wajar aja juga sih, apalagi kalau kasusnya orang-orang yang gak punya kepercayaan apa-apa lagi itu. Semua orang perlu perayaan, semua orang perlu ritual-nya masing-masing, seperti apa pun bentuknya. Ada yang selalu menunggu 'Desperate Housewives' hari minggu, ada yang rutin buka situs porno, ada yang rajin membuka blog cowok -trus ketahuan yang punya blog lagi- hehehe.. Semua wajar kok, tapi itu semua soal lain. Kita kan lagi ngomongin makna hari besar keagamaan.)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pergeseran perayaan hari besar agama ini dari sakral menjadi profan juga sudah terjadi di konteks hari lebaran, yang kebetulan juga punya tradisi pakai baju baru. Untung Matahari Departement Store atau Pasaraya belum terjun ke bisnis kambing kurban. Or should I put it this way: untung belum ada orang yang menyumbang kambing gara-gara nonton iklan: "kambing gagah agar anda tampak keren dan dermawan di hari raya, everything is about image".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi, saya sangat bersukur punya teman-teman yang masih bisa merasakan esensi dari suatu perayaan hari besar, bukan sekedar karena tradisi dan ikut-ikutan, apalagi menjadi korban iklan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(hehehe.. walau saya salah-gunakan argumen anti tradisi ini juga kalau dibangunin pagi-pagi untuk solat hari raya: "males ah, ngantuk, itu kan cuma tradisi. solat wajib aja gak pernah, masak yang nggak wajib dibela-belain...?")&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat paskah semuanya&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-111208739608932776?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/111208739608932776/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=111208739608932776' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/111208739608932776'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/111208739608932776'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2005/03/selamat-hari-paskah-essay.html' title='selamat hari paskah (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792426566318991</id><published>2004-10-28T13:51:00.000-07:00</published><updated>2005-02-08T23:26:24.353-08:00</updated><title type='text'>Ramadan in NYC (essay)</title><content type='html'>(assignment for an awkward international student class, well, it was OK though)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This is the first time for me to have a Ramadan fast outside Indonesia. It is good, actually, to have this different experience. Fasting is always a good challenge for me, and doing it in a place where you don’t have an ‘infrastructure’ for it is just adding the challenge even more. It is hard to keep your fasting continue, for everyday in the whole month, from sunrise to sunset, we have to drop our desire to eat, drink, have sex, we have to control all of our emotion from being angry or upset, and avoiding bad thinking. It is basically a meditation process, when we are expected to contemplate about what we have been doing in the past one year, be focus in doing good deeds to others, while we are obliged to continue our everyday activities like usual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;In Jakarta, you can see families gather at home just before sunset to open their fast together. When the sunset time comes, mosques sign the fasting time is over by sounds of big drum, loudspeaker, or in some places with a canon, and we have to open our fast immediately. They would start with some sweets and cookies, and after about thirty minutes after their stomach had the softer food, they start to eat real dinner. It is a community moments. When we live outside family house or when we can not go home in time for sunset, there are people who open their fast everywhere. Restaurants offer special menu, the appearance of seasonal food and drinks kiosks on the streets, or free foods and drinks in mosques. We are also suggested to have a breakfast before sunrise. Again, we usually do that with our family or housemates. It is like a whole month fest.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I am not considering myself as a religious person, as once or twice here I opened my fasting with beer (alcohol is forbidden for all Moslem ever) and continued the night with other kinds of drink. But doing this daytime meditation is somehow fun. Here, the challenge is more. While I can enjoy my family cooking if I go home to my family house, here I have to cook (yes I cooked!!) and prepare everything by myself. I can go and open my fast in restaurants, like I usually did in Jakarta, but here, nobody share the same moment with me. I even have to wake up in 4.30 AM and heat the food by myself. I am not complaining here, I’m saying it is even more fun!!! I face more challenge to do all those things here. For some reason, I don’t really want to go to local mosque. Well, maybe later, but celebrating I am doing a religious ritual is not the main reason I enjoy this whole new experience. I love the idea of the communal fest, but here, in the capital of dream of the world, I rejoice who I am and what I am. If there is really God out there, he let me ritualize being me – for a whole month.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792426566318991?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792426566318991/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792426566318991' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792426566318991'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792426566318991'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2004/10/ramadan-in-nyc-essay.html' title='Ramadan in NYC (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110787907366411533</id><published>2004-08-08T07:55:00.000-07:00</published><updated>2005-03-31T22:35:45.433-08:00</updated><title type='text'>day 1 (essay)</title><content type='html'>(for some mailing list/list serve/e-groups)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir... Engkau bebas tiada ikatan...&lt;br /&gt;Musafir... Berkelana sepanjang masa...&lt;br /&gt;Musafiir... Apakah yang kau cari...&lt;br /&gt;Musafiir... Ke mana jalan hidupmuuuu....?&lt;br /&gt;(Panbers... atau the Rollies ya?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari mana datangnya suara lagu berirama Melayu itu? Di sini? In the middle of downtown Philladelphia yang walaupun baru saja hujan tapi panasnya luar biasa? Ooh... mungkin itu karena saya masih pakai raincoat dan backpack yang berat ini makin keras menarik-narik pundak minta turun. Tapi dari mana asalnya lagu itu...? Di sekitar saya cuma ada seorang gembel bule&lt;br /&gt;dan temennya, afro-american. Nah lhoo... tuh kedengeran lagi. Saya dengerkan baik-baik dan ternyata... lagu itu keluar tanpa sadar dari mulut saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acara hari minggu paling ideal: mencari-cari internet cafe dengan backpack berat (yang ternyata setelah lihat di peta) hampir jalan kaki separuh kota. Hahaha... hari yang indah, burung-burung bernyanyi, sirine polisi meraung-raung, dan kebanyakan toko tutup. Salah saya sendiri, nggak sempat ngeprint alamat Pre-academic program ini sebelum berangkat sehingga sampai di sini nggak tau alamatnya dan bingung musti ke mana. Tanya orang2, semua bilang nggak ada yang namanya internet cafe di sana karena orang kayak mereka punya akses internet sendiri di rumah. Yeah sure. Toh ketika setelah jalan 2 jam, dapet juga dan ternyata gratisan (asal kalo sopan beli makanan dan minuman lah), toh orang banyak yang ngantri. Segera setelah makan dan buka TOA di email, cabut ke alamat yang dituju. Lucunya ya itu tadi, dari tadi saya jalan di jalan itu, ternyata jalan itu menuju ke tempat yang dicari, walau saya udah lebih separuh jalan on foot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehehe... kenapa nggak sempet buka email? Terutama karena saya percaya bakalan bisa buka email di apartemen Sheila di NY, sehari sebelumnya. Ternyata waktu sampai di JFK dan menunggu 3 jam dan tidak ada seorang pun yang jemput, saya baru sadar bahwa telah terjadi miscommunication. Sheila lagi ada di DC dan dia tidak buka email di sana, jadi belum tahu saya jadi datang lebih cepat ke NY duluu!!! Mati gue. Tapi nyantai, orang tenang jago berenang, orang kalem jago nyelem. Setelah dapet koin quarter dan bisa nelepon dia, saya ambil van bandara untuk ke alamat apartemennya. Bareng-bareng orang lain, sangat reliable dan cukup murah dibanding taksi: $19 dan kita diantar sampai alamat yang dituju, kasihlah tip 10% atau $1 per koper besar yang kita bawa, ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelnya... atau senengnya... saya diantar terakhir, jadi bener-bener dikasih kesempatan tour of Manhattan!!! Huahaha... gedung-gedung itu bener2 ada ternyata.. tapi jalan2 lebih kecil dari perkiraan saya pas nonton film, jadi saya agak-agak berasa di dufan selama di NY... nyata tapi kayak nggak real. And it was Saturday night!! Lampu nyala-nyala, di mana-mana&lt;br /&gt;orang hang out, cewek-cewek nyeberang jalan dengan dada bergetar setiap melangkah dan baju warna-warni typical summer, cowok-cowok metroseksual yang wangi jemput cewek atau cowoknya, atau sisa-sisa biker atau jogger keluar dari central park sambil ketarik-tarik anjingnya yang segede Scooby Doo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe... tapi roomate Sheila yang cewek Hawaii itu agak bete waktu bukain pintu buat saya. Iyalah saya nyampe akhirnya jam 11 malem, huahaha... dia juga ngakunya nggak tau di mana stasiun -atau tepatnya halte ngetem- bus China Town. Jadilah minggu pagi saya jalan kaki sambil nanya2 orang arah ke sana, and grrreat &gt;:( orang-orang Cina itu pada nggak tau lho!!&lt;br /&gt;And I believe them, they can hardly speak English so why bother going to another city in the first place? Untungnya, ternyata lagi-lagi, saya berjalan ke arah yang benar (Jawa banget ya mikirnya untung terus) sehingga akhirnya ada yang tau tempatnya, mungkin karena udah nggak jauh dari tokonya. Jadilah saya naik $12 bus from Chinatown NY to Chinatown Philly. Naik Greyhound it will be $25-40.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;U-Penn is the overall rank #3 university in US right now. Coba ke sini deh kalo mau. They are member of Ivy league, a very prestigious club with 7 oldest University in US. U-Penn sendiri kampus tertua ke4 di US, pendirinya Benjamin Franklin, dan banyak, sekali historical building di sekolah ini. Pokoknya ini sekolah bagus!!! Herannya, walau kota dan kampusnya bagus, saya gak abis pikir kenapa banyak gembel dan sirine meraung-raung non-stop. Maybe the economic is not so good afterall.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Well, that's the story. Ambillah yang baik-baik, jangan tiru yang jelek-jelek. Buat yang mau brangkat jangan lupa (pinjem kata-kata orang-orang tua sebelum saya brangkat) "jangan lupa sembahyang, jangan cari orang bule" (maksudnya hispanik atau asia timur boleh dong?). Jangan lupa, nikmati lagi lagu-lagu dangdut dan Melayu. I kinda miss those things right now.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musafir... Engkau bebas tiada ikatan...&lt;br /&gt;Musafir... Berkelana sepanjang masa...&lt;br /&gt;Musafiir... Apakah yang kau cari...&lt;br /&gt;Musafiir... Ke mana jalan hidupmuuuu....?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Panbers... atau the Rollies ya?)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110787907366411533?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110787907366411533/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110787907366411533' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110787907366411533'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110787907366411533'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2004/08/day-1-essay.html' title='day 1 (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110819393434400243</id><published>2004-06-07T23:36:00.000-07:00</published><updated>2005-02-11T23:40:50.793-08:00</updated><title type='text'>Mana Bintangmu Mana Bintangku (essay)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Her World Indonesia, Agustus 2004&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Mana Bintangmu Mana Bintangku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada teman yang memutuskan menikah tidak lama setelah berkenalan dengan pasangannya. Mengagetkan, karena selama ini dia dikenal ultra selektif dan menghindari menjalin hubungan serius. Ketika ditanya alasannya, dia menjawab selama ini dia menunggu seseorang berbintang libra. Ia percaya pada astrologi, dan menurutnya zodiak mereka berdua sangat cocok. Serta merta semua teman laki-laki yang mendengar tertawa terbahak-bahak, walau dia berkeras itulah alasannya memutuskan menikah. Mungkin anda merasa hal ini tidak terlalu aneh untuk ditertawakan, tapi bayangkanlah kalau teman saya itu bukan perempuan. Ya, dia laki-laki, dan si pengantin perempuan kebetulan juga sangat percaya ramalan bintang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astrologi dianggap bukan merupakan penjelasan yang rasional mengenai tindakan seseorang. Makanya si pengantin laki-laki ditertawakan teman-teman. Apalagi, katanya laki-laki itu rasional dan perempuan emosional. Tapi saya bukan sedang ingin membahas stereotip kampungan itu. Saya malah penasaran, kalau betul astrologi tidak rasional, kenapa dia bisa terus bertahan? Mengapa tindakan manusia ada yang rasional dan ada yang tidak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulunya manusia sangat tergantung pada kondisi alam. Mereka makan dari apa yang tersedia di alam, mau berburu, atau mengumpulkan tumbuhan yang bisa dimakan. Ketika peradaban sudah lebih maju, manusia mulai bisa mengakali alam dengan menanam sendiri hasil bumi mereka. Namun, tentu saja segala kegiatan perladangan masih sangat tergantung pada alam. Hutan harus dibuka, harus dibakar agar bisa ditanami. Kalau sudah sering ditanami, kesuburan tanah berkurang, hasil bumi tidak maksimal lagi. Maka, manusia harus berpindah-pindah tempat tinggal agar selalu mendapatkan hasil bumi yang baik. Lalu manusia menemukan saluran irigasi dan pupuk alami agar tanah selalu gembur. Namun banyak hal masih bergantung pada keadaan cuaca. Jika hujan kurang, sumber air mengering, irigasi pun tersendat. Jika hujan terlalu banyak, tanaman terendam. Jika ada serangan hama, lenyap sudah panen semusim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keadaan yang sepenuhnya bergantung pada alam ini menegaskan posisi manusia yang tidak berdaya. Untuk itu mereka membuat penjelasan yang memuaskan, bahwa ada kekuatan lain, kekuatan besar yang mampu mengatur alam yang menentukan nasib mereka. Maka, sejak semula kemunculan manusia dan bertahan hingga saat ini, kepercayaan kepada roh halus, arwah nenek moyang, penunggu pohon, batu, sungai, pantai, gunung, jadi-jadian, atau kalong wewe menjadi sangat mudah dipahami. Beberapa orang yang berpikir lebih sistematis mengeluarkan acuan berupa primbon-primbon berupa catatan pola yang menjelaskan kondisi alam pada setiap munculnya bencana atau berkah. Salah satunya menghubungkan nasib manusia dengan posisi bintang yang terlihat dari bumi, itulah astrologi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesadaran rasionalitas seperti yang kita miliki sekarang mulai tumbuh di Eropa pada masa pencerahan. Saat itu, pengaruh kekuatan keagamaan dalam politik dan kehidupan sehari-hari masyarakat mulai berkurang. Ilmu pengetahuan dianggap memenuhi standar apabila telah melalui pengujian dan ada bukti yang muncul berulang-ulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muncullah batasan baru mengenai apa yang dapat diterima sebagai hal yang rasional dan tidak. Hantu, arwah, penunggu jembatan yang oleh orang tertentu katanya bisa terlihat tapi tidak bisa dilihat semua orang itu: tidak rasional. Primbon dan astrologi nyatanya sering tidak akurat, berarti ada masalah dengan cara orang jaman dulu mencatat, itu juga berarti: tidak rasional.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orang modern berarti menjadi orang yang bertanggung jawab. Kalau bilang sakit dan tidak bisa masuk ke kantor, harus membawa bukti surat dokter, boss tidak akan menerima alasan bolos karena disantet atau kesurupan. Kalau bilang harga belanja barang naik, harus bisa menunjukkan kwitansinya. Untuk tanggung jawab pada orang lain, standar rasionalitas ditetapkan berdasarkan standar yang sama. Untuk diri masing-masing, jelas standar ini lebih longgar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bebas memilih hidupnya seperti apa, mau percaya pada apa, mau melakukan apa. Teman saya tadi bilang, semua buku astrologi mengatakan zodiak libra tidak cocok untuknya. Anehnya, dia bilang, semua cewek yang ia taksir berbintang libra. Karena tidak pernah merasa cocok atau tertarik pada cewek-cewek dengan zodiak yang disarankan, ia merasa perempuan libra adalah perempuan yang akan membuatnya bahagia. Karena itu, ia fokus mencari perempuan libra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai sekarang ternyata manusia masih tergantung pada kekuatan lain dalam menjalani hidupnya. Orang masih percaya ramalan bintang, susuk, santet, pelet, hantu, atau nalurinya sendiri. Bahkan, kepercayaan pada agama yang tidak bisa dipertanggung-jawabkan secara rasional menurut ukuran modernisme barat, saat ini berperan besar sekali dalam menentukan nasib umat manusia. Ilmu pengetahuan modern belum bisa menjawab semua pertanyaan manusia, maka kepercayaan pribadi setiap orang memiliki rasionalitasnya sendiri-sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengejar sesuatu karena keyakinan yang terbentuk dari pengalaman, bukankah itu rasionalitas juga? Saya suka sekali es krim, dan karenanya pingin makan es krim setiap kali habis makan dan mau tidur. Saya tahu saya bisa jadi kebanyakan lemak. Kata ahli kesehatan, apa yang saya lakukan tidak rasional. Tapi kalau saya melakukan sesuatu yang membuat saya senang, itu rasional sekali kan? Kalau seseorang menuruti ramalan bintang karena selama ini dia rasa benar, wajar saja kan?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110819393434400243?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110819393434400243/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110819393434400243' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110819393434400243'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110819393434400243'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2004/06/mana-bintangmu-mana-bintangku-essay.html' title='Mana Bintangmu Mana Bintangku (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792328077625289</id><published>2004-05-31T14:25:00.000-07:00</published><updated>2005-02-11T23:41:12.773-08:00</updated><title type='text'>Ayah dan Anaknya (essay)</title><content type='html'>Her World Indonesia May 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak adalah titipan Tuhan, kata orang. Tapi kata orang tua, anak adalah mainan baru.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Ayah dan Anaknya&lt;/span&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya baru menjadi seorang ayah, dan ia sedang senang-senangnya. Ia tersenyum setiap saat, kadang tertawa-tawa sendiri dan berniat berhenti merokok karena ia percaya anaknya cemberut setiap saat mencium bau mulutnya saat digendong. Punya anak, bagi setiap orang dalam keadaan normal pasti membahagiakan. Namun, seperti diakuinya sendiri, kebahagiaan terbesar adalah karena anaknya laki-laki. Tentu saja kebahagiaan ini akan tetap sama jika anaknya perempuan. Namun, memang anak laki-laki seringkali menjadi bonus yang menambah kebahagiaan ayah-ayah mereka. Man and their sons, what is it with them? Ada apa memangnya dengan anak laki-laki buat ayah-ayah?&lt;br /&gt;Selain alasan-alasan kerepotan menjaga anak perempuan, biasanya ayah-ayah memberi alasan dengan anak laki-laki mereka bisa lebih bersenang-senang. Seorang teman bilang ia ingin anaknya laki-laki agar bisa diajak main bola. Seorang teman yang lain ingin segera mengajarkan cara menyupir mobil. Seorang kerabat membayangkan anaknya menjadi ahli aroma kopi, seperti dirinya. Semua bercerita dengan mata berbinar-binar, membayangkan waktu bermain-main dengan anak mereka.&lt;br /&gt;Memikirkan bahwa anak laki-laki adalah mainan baru ayah mereka agak mengerikan, walau pikiran seperti itu terus muncul. Apakah ibu-ibu juga ingin bermain-main dengan anak perempuan mereka? Ternyata iya juga. Rekan perempuan yang duduk di sebelah saya di kantor bilang jika nanti anaknya perempuan ia ingin mendandaninya dan mengajaknya bermain boneka, masak-masakan, dan ketika lebih besar tentu saja mengajaknya belanja dan masak betulan.&lt;br /&gt;Barangkali memang bukan sekedar permainan. Keinginan bermain dengan anak-anak mungkin memang bagian dari rencana pendidikan jangka panjang. Ayah ibu memiliki harapan yang pinginnya bisa dicapai oleh anak-anak mereka, dan mereka berusaha mendorong anak-anaknya mencapai harapan itu. Rajin olah raga, jago mengoprek mesin mobil, menjadi professional yang handal, mahir mengerjakan tugas-tugas rumah tangga adalah harapan yang biasa dibebankan kepada anak-anak kita.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan anak-anaknya? Anak-anaknya sih tinggal untung-untungan saja, selain tidak bisa memilih jenis kelamin apa, mereka juga tidak bisa memilih orang tua yang cocok dengan minat mereka (kalau-kalau mereka punya minat bawaan sejak dalam kandungan), atau setidaknya mereka harus pasrah menunggu minat apa yang diarahkan orang tua mereka. Paling-paling masalah yang lagi-lagi muncul adalah seberapa besar toleransi ayah ibu terhadap minat dan keinginan anaknya?&lt;br /&gt;Kenapa harus anak laki-laki kalau ingin ngajar nyetir? Padahal mahal sekali kalau semua perempuan harus punya supir sendiri. Kenapa harus merasa kehilangan bonus kalau ingin main bola bersama tapi yang lahir anak perempuan? Pasti ini sebabnya tim nasional sepakbola puteri Indonesia jadi bulan-bulanan di Sea Games kemarin. Dan kenapa pula kalau anak perempuan menjadi pencium aroma kopi, atau anak laki-laki jago masak sejak kecil?&lt;br /&gt;Peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat kita diharapkan berbeda, dan pembedaan ini memang masih keras. Dan semua orang sadar, masa-masa bayi hingga anak-anak akan menjadi sangat penting sebagai tahapan awal proses pencarian identitas diri yang mungkin berlangsung seumur hidup. Ayah ibu di sini masih panik mendengar anak laki-lakinya semakin rajin berlatih menari kontemporer untuk acara tujuh belasan. Mereka masih cemberut dan mengomel panjang pendek ketika anak perempuannya ikut menjadi kiper dalam permainan bola lima lawan lima bersama sepupu-sepupu laki-laki dalam acara pertemuan keluarga.&lt;br /&gt;Padahal, contohnya saja saya, yang berharap kemungkinan bagi saya bisa lebih terbuka. Saya sih senang-senang saja dengan apa yang saya lakukan sekarang, tapi mungkin saja saya bisa lebih bahagia kalau menjadi penata busana atau bekerja di salon. Atau mungkin juga saya malah lebih senang jika bisa menjadi petani atau nelayan. Sayang, tidak pernah ada yang mengajarkan bercocok tanam atau mengajak jalan-jalan menangkap ikan.&lt;br /&gt;Peran ayah ibu mengarahkan minat dan kemampuan anak memang masih diperlukan, tapi untuk anak saya nanti saya tidak mau kalau malah menyempitkan pilihan. Saya percaya minat dan spesialisasi harus dicari bukan karena pengalaman yang terus menerus di satu bidang kegiatan (apalagi dari jenis kelamin seseorang), tapi dari pilihan sadar setiap orang bahwa mereka tidak suka melakukan kegiatan-kegiatan lainnya. Bagaimana mereka bisa tahu mereka tidak suka, kalau mereka tak pernah mencoba? Setelah mencoba banyak hal, tentu pilihan pada minat dan spesialisasi akan didasari pada perasaan senang melakukan pilihan itu. Bersyukur sekali orang-orang yang dihargai keahliannya di satu bidang karena menggemari bidang itu. Senang sekali mencari nafkah sambil melakukan hobi kita.&lt;br /&gt;Cara mendidik anak, seperti cara kita membuat pilihan-pilihan hidup kita, adalah proses trial and error yang berlangsung terus menerus. Waktu teman saya pertama tadi bilang ia pikir-pikir untuk berhenti merokok, saya segera mendukungnya. “Hebat, kamu akan memberi anakmu lebih banyak pilihan.” Minimal kan dia bisa merokok sendiri kalau memang mau, tidak perlu dirokoki bapaknya. Maka ayah-ayah, ajak sajalah anak perempuan kalian bermain bola atau silat, atau ijinkan saja anak laki-laki ikut masak-masak dan main boneka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792328077625289?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792328077625289/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792328077625289' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792328077625289'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792328077625289'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2004/05/ayah-dan-anaknya-essay.html' title='Ayah dan Anaknya (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110791693091218052</id><published>2003-12-18T21:40:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:31:40.943-08:00</updated><title type='text'>Mari Menakuti Diri Bersama Televisi (essay)</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;font-size:100%;"&gt;&lt;strong&gt;Her World Indonesia Februari 2004&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Mari menakuti diri bersama televisi&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;a name="h1.1body"&gt;&lt;/a&gt;Wahai hantu-hantu. Kapan kau mati lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a name="h1.1content"&gt;&lt;/a&gt;Kemarin teman saya baru cerita, kalau Rio--anaknya yang masih SD jadi penakut betul. Tapi lucunya dia tidak mau ketinggalan acara lihat hantu setiap malam. Sementara pembantu mereka yang baru datang dari kampung, juga jadi ketakutan ditinggal di rumah sendirian. Konon ini gara-gara dia pernah nonton acara televisi yang menayangkan rekonstruksi pembunuhan di sebuah pasar.&lt;br /&gt;Sejak menjelang siang kita sudah disodori berita kriminal. Narkoba, penipuan, pemerasan, penggelapan, pencurian dengan kekerasan, pencurian dengan pemberatan, penodongan, pencopetan, penculikan, korupsi, kolusi, atau mutilasi. Semua dengan visualisasi blak-blakan, entah rekonstruksi atau liputan langsung di lapangan. Kerap kali mayat dengan darah menggenang atau pelaku yang babak belur dipukuli massa disorot jelas-jelas. Terkadang ketika si bonyok disorot kamera, tanpa ragu penegak hukum juga ikut main pukul.&lt;br /&gt;Menjelang tengah malam, nyali kita diuji lagi. Kali ini oleh hantu-hantu yang gentayangan ke ruang televisi kita. Jin, setan, dedemit, arwah penasaran, siluman, jadi-jadian, gendruwo, lelembut, pocong, kalongwewe, tuyul, leak, sundel bolong, kuntilanak, semua ada. Seperti kesuksesan formula berita kriminal, hantu sekarang juga punya jam tayang sendiri di semua stasiun televisi swasta. Tidak main-main, hantu juga punya nilai jual tinggi. Saking memikatnya “fenomena penampakan” para makluk itu, kini satu stasiun televisi tidak cukup hanya memiliki satu acara tentang hantu.&lt;br /&gt;Seperti orang-orang dewasa, si kecil Rio tak mau ketinggalan kesempatan ngobrolin ‘hantu yang muncul tadi malam’ dengan teman-teman di sekolah. Walau begitu, harga yang harus dibayar Rio berat juga. Sudah lama dia memilih rute yang lebih panjang tiap pulang-pergi sekolah. Karena di jalur biasa, dia harus melewati ‘rumah hantu’ yang katanya sudah pernah masuk tv. Ia juga tak mau ditinggal di rumah, dan kadang panik berlebihan kalau sadar ia sedang sendirian. Terima kasih acara-acara hantu-hantu. Rio kini diharapkan menjaga rumah sepulang sekolah, karena si pembantu takut. Terima kasih acara-acara kriminal.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Dalam film ‘Bowling for Columbine’, Michael Moore kebingungan karena bangsa Amerika punya angka kematian oleh senjata api yang tertinggi di dunia. Apakah penyebabnya lirik musik rock atau video game seperti selalu digembar-gemborkan orang? Atau sejarah kekerasan bangsa Amerika menunjukkan mereka sendiri memang bangsa yang kejam?Toh negara-negara lain juga memiliki hal-hal tersebut. Jerman dan jepang adalah bangsa yang gandrung oada musik rock dan video game, dan sejarah kekerasan bangsa mereka juga terkenal, ingat kamp konsentrasi Nazi atau budak romusha Jepang? Tapi kenapa sekarang angka kematian karena senjata api di kedua negara itu bisa tetap rendah? Yang paling aneh, Kanada yang kulturnya dekat dengan Amerika Serikat dan banyak rakyatnya memiliki senjata api, angka kematian karena senjata apinya kok rendah sekali?&lt;br /&gt;Moore sangat heran ketika tahu pintu rumah orang Kanada tak pernah dikunci. Mereka seperti tak punya rasa takut. Angka kejahatan di sana memang rendah. Ketika ditanya, mereka balas mengherankan orang Amerika yang tak bisa mempercayai tetangga padahal telah puluhan tahun tinggal bersama.&lt;br /&gt;Di akhir film, Moore menuding televisi dan media lain yang selalu menakut-nakuti orang Amerika. Walau kemudahan memiliki senjata dan tingkat kriminalitas tetap menjadi faktor terpenting, peran media memang sangat kuat. Ketakutan, kegelisahan, dan kecemasan yang berlebihan orang Amerika pada lingkungannya pasti terbentuk oleh sesuatu. Lalu, apakah acara televisi di Indonesia juga menjurus ke situ?&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Sebagai bisnis yang butuh keuntungan, pengelola stasiun televisi dan rumah produksi memang sangat mengacu pada rating. Rating ini menunjukkan banyaknya penonton yang menyaksikan acara mereka. Semakin tinggi rating berarti semakin banyak penonton suatu acara, maka semakin mudah mencari pemasang iklan.&lt;br /&gt;Di sisi lain, program “reality show” ini banyak mendapat kritikan. Semisal dua produser sukses acara tv, Aaron Spelling (BH 90210, Melrose Place) dan David E. Kelley (Ally McBeal, The Practice) yang menganggap acara sejenis itu membodohi orang Amerika. Semua percaya semuanya nyata. Padahal, si penegak hukum yang kita lihat main pukul, misalnya, mungkin memang overacting karena ada kamera di dekatnya. Namun, orang sudah terlanjur percaya dan rating acara ini tinggi.&lt;br /&gt;Maka, tak heran jika lebih banyak berkembang acara yang tidak mendidik dan membiarkan orang tenggelam dalam ketakutan. Dari sini juga kita bisa bercermin melihat wajah sendiri, masyarakat kita, yang masih sering mencari jalan pintas kriminal, punya orang-orang sadis, yang penegak hukumnya masih suka main pukul, dan masih lebih percaya pada kekuatan supranatural daripada kekuatan diri mereka sendiri. Masalahnya, memang orang nonton karena ingin bercermin? Walau takut, orang tetap menonton karena rasa takut memberikan sensasi. Teorinya, kalau mau takut tapi terlalu takut untuk takut sungguhan, jangan lompat dari air terjun, naik saja kereta luncur di taman ria, jangan cari setan di kuburan, tonton saja film horor atau acara hantu-hantuan, penasaran pingin tau seperti apa mayat terpotong-potong, lihat saja acara kriminal. Semuanya tak betul-betul dialami langsung. Orang ternyata kepingin takut, asal dengan dosis yang tepat.&lt;br /&gt;Ninuk Kleden-Probonegoro, peneliti seni pertunjukan dari LIPI, juga menguatkan pendapat ini. “Mula-mula memang ngeri, tapi sekarang ini acara (hantu-hantuan) itu nggak ada mistik-mistik dan sakralnya lagi, semua sudah profan, semata-mata hiburan. Buat saya orang menonton acara seperti itu sudah seperti menonton lenong saja,” katanya, sambil mengingatkan bahwa fenomena populer kembalinya dunia mistik bukan hanya terjadi di Indonesia, tapi di seluruh dunia. Ketakutan pun menjadi barang dagangan yang laku dijual.&lt;br /&gt;Tapi kalau Moore gelisah karena acara kriminal di Amerika ia anggap menyebabkan tingginya angka kematian dengan senjata api, saya gelisah karena orang Indonesia sudah overdosis dan ketagihan dengan rasa takut. Mereka keasikan ditakut-takuti, khawatir berlebihan, dan selalu menyalahkan faktor di luar diri mereka untuk setiap kegagalan. Mereka tumbuh menjadi bangsa pengecut, yang bahkan tak berani bermimpi.&lt;br /&gt;Tunggu dulu, televisi juga punya sinetron yang menjual mimpi, gosip selebritis. Apa itu tidak menggugah orang untuk sukses seperti mereka? Ya, sinetron tentang orang kaya memang banyak, dan ratingnya juga tinggi. Tapi seperti kata pembuatnya, sinetron semacam itu ditujukan untuk melupakan kesulitan hidup sehari-hari penontonnya. Acara gosip pun hanya menggali masalah pribadi, tak peduli pada keahlian si seleb. Terakhir saya lihat, mereka sedang membahas alasan kenapa belum sempat menata rumah setelah 3 bulan menikah. Penting banget enggak, sih...&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada penggambaran orang kaya, tak pernah ditunjukkan usaha keras mereka memperoleh kekayaannya. Orang pun terbiasa melihat kekayaan yang instan. Tuh lihat, orang kaya juga enggak pernah kerja. Maka, kalau mau jadi orang kaya, cari cara yang gampang saja. Apa contoh yang paling mudah ditiru? Bisa dengan menipu, memeras, korupsi, mencuri, menodong, mencopet, atau memalak. Cara lain yang bukan kriminal juga bisa. Bisa memohon pada jin, arwah, memedi, tuyul, siluman, dan teman-teman lainnya.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Ketika saya tanya seorang teman, yang merupakan produser program hantu di sebuah stasiun televisi, ia menenangkan saya “Tenang...” katanya, “Nanti juga ilang. Orang bakal bosen sendiri...” Masalahnya, kalau kita pura-pura percaya pada hukum permintaan dan penawaran untuk acara televisi di Indonesia, berarti kita juga pura-pura tak tahu bahwa permintaan yang paling didengar bukan permintaan penonton, tapi permintaan pemasang iklan. Cukup banyak acara yang khusus dibuat atas pesanan pemasang iklan, atau dibintangi bintang iklan yang bersangkutan.&lt;br /&gt;Di sisi lain, rating penonton harus tinggi, agar si pemasang iklan tak pergi dan sukur-sukur bisa mendatangkan lagi iklan lain. Bagaimana cara membuat acara dengan rating yang tinggi? Gampang. Bikin acara yang mirip dengan acara lain yang sudah terbukti sukses. Pengiklan jadi agen penting dalam proses ini karena mereka bersama industri televisi membentuk standar apa yang harus dilihat oleh masyarakat. Selera penonton pun telah terbentuk oleh standar ini. Ini menjadi puisi kehidupan yang satir: Industri membutuhkan penonton, tapi penontonnya dibentuk oleh industri. Kapitalisme memang hebat.&lt;br /&gt;Lalu apa karena kesuksesan satu program semua harus dibuat seragam? Apakah penonton suka program nggak mutu karena kebutuhan mereka, atau karena mereka tak punya pilihan? Saat ini televisi adalah media paling dominan. Kekuatannya membentuk masyarakat besar sekali. Harus ada yang memulai membuat program berguna, atau kita berjalan makin cepat tapi cuma di tempat.&lt;br /&gt;Dalam bisnis televisi, rating dan iklan memang dijadikan tuhan. Tapi saya tak mau bisnis televisi hancur gara-gara pengiklan pergi. Saya yakin industri televisi akhirnya bisa percaya diri dengan kreatifitas baru dan meninggalkan ‘politik massa mengambang’ mereka. Akan ada banyak ide membuat program yang mematangkan karakter penontonnya, namun tetap menghibur. Masalahnya, berapa lama lagi kita harus menunggu?&lt;br /&gt;Kunci jawaban dari masalah ini dipegang oleh individu-individu di bagian kreatif industri televisi dan iklan. Saya percaya mereka tahu bahwa industri televisi Indonesia telah kehilangan jutaan penonton yang terdidik dan punya posisi tawar lebih tinggi. Penonton semacam ini memang masih terbatas, namun daya beli mereka tinggi, dan merupakan pasar penting. Dengan meningkatnya perekonomian dan perkembangan teknologi komunikasi, jumlah penonton seperti ini akan bertambah banyak. Apakah industri televisi dan iklan rela kehilangan pasar potensial ini?&lt;br /&gt;Jadi akhirnya saya bilang pada bapaknya Rio si anak yang jadi penakut: “Didik sajalah anakmu jadi orang pintar, yakinkan sekolahnya sudah mengajar dengan betul. Biasakan dia lihat film-film bagus dan film dokumenter pengetahuan, kan nggak susah dapetinnya?” kalau berhasil, mungkin ini bisa menjadi puisi kehidupan yang lebih indah: program bagus bikin anak pintar, dan anak pintar hanya mau menonton program bagus.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110791693091218052?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110791693091218052/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110791693091218052' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110791693091218052'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110791693091218052'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2003/12/mari-menakuti-diri-bersama-televisi.html' title='Mari Menakuti Diri Bersama Televisi (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110791635640820736</id><published>2003-07-17T18:29:00.000-07:00</published><updated>2005-02-08T23:32:52.513-08:00</updated><title type='text'>Anak Laki Nggak Cengeng (essay)</title><content type='html'>Her World Indonesia September 2003&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan perempuan terbesar, mereka nggak pernah bisa paham bahwa laki-laki itu manusia juga, punya perasaan juga. Bedanya, laki-laki dilarang nangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Boys don’t Cry&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dua hari yang lalu kami bertiga berkumpul. Seorang teman saya, laki-laki, menceritakan pacarnya yang hanya menangis tersedu-sedu ketika mengira dirinya sedang selingkuh. Susah sekali menjelaskan duduk perkara sebenarnya kalau sedu-sedan sudah menggantikan bahasa lisan. Aduuh, kenapa menangis itu selalu menutup pikiran perempuan?&lt;br /&gt;Teman yang lain perempuan, dan dia tentu saja sebal. Nangis itu alami buat semua perempuan yang merasa disakiti! Dan believe me, we know just everything about being hurt. Sakit bulanan, melahirkan... . Secara mental juga, kami ada di dunia ini untuk kalian sakiti, dasar laki-laki kurang ajar! Kalian mengaku-ngaku diri kalian lebih kuat, lebih jago nyetir, lebih rasional, mana? Hati pacarnya hancur malah bilang perempuan nggak punya pikiran!! Menangis itu tanda bahwa perempuan lebih kuat. Dasar kaum nggak punya perasaan!&lt;br /&gt;Jangan omong sembarangan ya? Si teman pertama jadi ikut tersinggung. Kamu kira laki-laki itu cuma gumpalan daging yang kebetulan gerak-gerak kesana-kemari? For your information, we do have feelings. Itulah kesalahan perempuan terbesar, mereka nggak pernah bisa paham bahwa laki-laki itu manusia juga. Punya otak punya hati juga.&lt;br /&gt;Ya dan dengan bodonya laki-laki pikir perempuan nggak punya otak, potong si perempuan. Artinya laki-laki nggak punya dua-duanya. Kalau punya otak kenapa mikir begitu, kalau punya perasaan kenapa nggak nangis aja?&lt;br /&gt;Ngaco, kalau dua-duanya nangis kapan selesainya masalah, kata si laki-laki.&lt;br /&gt;Si perempuan tertawa senang. Iya iya kamu punya perasaan. Waktu kamu dengan bodohnya bilang perempuan nggak punya pikiran, kamu pasti sedang panik dan takut kehilangan pacar yang kamu sayang. Dasar bego, udahlah nangis aja, apa gunanya punya kelenjar air mata? Abis nangis pasti lega. Iya, kalau sudah lega bisa lebih gampang ngomong sama dia. Dia lalu menyanyikan lagu kelompok Dewa yang menekankan pentingnya menangis bagi kesehatan jiwa.&lt;br /&gt;Tapi si teman pertama bertahan. Aaah… sudahlah, apa katamu tadi? Menangis itu kompensasi bagi kekuatan perempuan? Hehehe, jangan-jangan kalimat itu dikarang oleh laki-laki juga. Soalnya pada akhirnya, toh laki-laki juga yang diuntungkan. Kalau menangis wajar buat perempuan, artinya nggak apa-apa kalau laki-laki bikin perempuan nangis. Kalau memang perempuan mau sejajar dengan laki-laki, mustinya perempuan kayak laki-laki, nggak gampang nangis juga.&lt;br /&gt;Si teman perempuan melotot lalu mulai mengomel panjang pendek lagi. Karena kami memang selalu berkumpul untuk obrol-obrol dan ketawa haha-hehe maka saya pun cuma ketawa-ketawa. Haha-hehe.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Menangis memang ekspresi paling dasar dalam kehidupan manusia. Kita menangis jauh sebelum kita belajar tertawa, apalagi dari ekspresi yang lebih rumit, seperti tersenyum bijak, mengerutkan dahi, bergosip atau membuat lambang =) di sms kita. Dulu kita menangis seketika, dan seiring dengan semakin tingginya kemampuan untuk mengontrol emosi, kadar menangis kita pun turun drastis di masa remaja hingga dewasa.&lt;br /&gt;Apa yang menghubungkan perasaan manusia dengan isak tangis dan keluarnya air mata? Selain menangis masih ada jantung berdebar, keringat dingin, gemetar, gagap, merinding, kebelet pipis mendadak, tertawa dan lain-lain. Bagaimana fisik manusia bisa memahami perasaan yang berkecamuk dalam hati seseorang? Belum ketahuan apakah binatang mengalami juga jantung berdebar atau kebelet pipis, tapi saya belum pernah melihat ayam menangis atau anjing tertawa. Anjing pun berkata, aku juga belum pernah tuh melihat manusia menggoyang-goyang ekor kalau lagi senang.&lt;br /&gt;Apa menangis dan bentuk ekspresi refleks lainnya memang hanya bentuk reaksi fisik terhadap perintah otak saja? Lalu apa fungsinya? Kalau ditanya pada dokter, fungsi keluarnya air mata adalah membersihkan debu dan kotoran yang menempel di mata. Tapi hubungannya dengan kondisi mental seseorang? Bukankah sedih dan senang sama-sama bisa memunculkan tangis? Kenapa emosi bisa memunculkan ekspresi sekuat tangisan kalau tidak ada fungsinya?&lt;br /&gt;Saya percaya kalau orang bilang menangis melepas beban. Beban emosi yang tertumpah keluar saat menangis membuat perasaan lebih lapang (tapi kalau bahagia, untuk apa menangis? Apa emosi senang menjadi beban yang harus dilepas juga?). Sebetulnya semua orang yang tumbuh dewasa, apapun jenis kelaminnya, juga tidak diharapkan gampang mewek. Seiring dengan bertambahnya usia dan pengalaman hidup seseorang diharapkan memiliki kematangan emosional yang lebih baik. Ini berarti, kalau sudah besar orang tak boleh lagi merengek-rengek minta dibelikan es krim.&lt;br /&gt;Masalahnya laki-laki diharapkan budaya untuk bisa lebih menahan naluri ini. Mereka diharamkan emosional. Padahal, mereka juga ditempatkan sebagai penyangga keluarga. Kalau satu keluarga bangkrut, bukan si ibu yang dipertanyakan, tapi ayah. Tuntutan-tuntutan dari masyarakat lebih besar pada laki-laki. Beban yang tidak enteng, tapi bagaimana menuntaskannya? Semua masalah harus diselesaikan dengan kepala dingin, artinya semua masalah harus dipikirkan dalam-dalam. Bukan dengan menangis.&lt;br /&gt;Waduh, mungkin itu jawaban kenapa depresi lebih banyak menyerang lelaki! Karena itu laki-laki antusias sekali pada obat peningkat kemampuan seksual! Dan makanya mereka doyan ngebut di jalan! Dan aduh, pantas saja iklan obat rambut rontok selalu pakai model laki-laki!&lt;br /&gt;Wah, tengkyu! Mendingan saya nangis sekarang agar tak botak daripada menangis juga nanti gara-gara botak.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110791635640820736?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110791635640820736/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110791635640820736' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110791635640820736'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110791635640820736'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2003/07/anak-laki-nggak-cengeng-essay.html' title='Anak Laki Nggak Cengeng (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110879281870182068</id><published>2002-09-18T21:48:00.000-07:00</published><updated>2005-02-18T22:24:52.796-08:00</updated><title type='text'>Indonesian Comic Books (academic)</title><content type='html'>Article on an Indonesia's underground comics as a response of individual artists against the absurdity of Indonesia's political and cultural situations. From "&lt;em&gt;Jurnal Antropologi Indonesia"&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;In Indonesian, volume XXVI, No 69, September-December 2002&lt;br /&gt;in English, volume XXVI, Special Volume&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.jai.or.id/jurnal/2002/sv/08ti_sv.pdf"&gt;http://www.jai.or.id/jurnal/2002/sv/08ti_sv.pdf&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110879281870182068?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110879281870182068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110879281870182068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110879281870182068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110879281870182068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2002/09/indonesian-comic-books-academic.html' title='Indonesian Comic Books (academic)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110819324886151352</id><published>2002-08-08T23:15:00.000-07:00</published><updated>2005-02-11T23:27:28.983-08:00</updated><title type='text'>Bunga, Matahari dan Embun (poem)</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;I did this for a performance in some elementary school :p&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;it should be played by 4 players&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Bunga, Matahari dan Embun&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga 1:&lt;br /&gt;Matahari, kenapa kau baik sekali?&lt;br /&gt;Kau sinari aku setiap hari&lt;br /&gt;Sehingga aku tumbuh berseri&lt;br /&gt;Harum semerbak mewangi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinarmu tiada henti untukku&lt;br /&gt;pagi hingga senja selalu&lt;br /&gt;ku tak bisa hidup tanpamu&lt;br /&gt;Kenapa kau lakukan semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bunga2:&lt;br /&gt;Embun, embun yang lembut,&lt;br /&gt;Kau datang bersama kabut&lt;br /&gt;Di pagi buta kau kujemput&lt;br /&gt;basahi kelopakku keriput&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesegaran hakiki&lt;br /&gt;Di setiap pagi&lt;br /&gt;Kesetiaan sejati&lt;br /&gt;Kenapa kau lakukan semua ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari:&lt;br /&gt;Bunga, bunga kecil yang lucu,&lt;br /&gt;Aku tak pernah menghitung sinarku&lt;br /&gt;Aku hanya menjalankan tugasku&lt;br /&gt;Sebagai sahabatmu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kalau boleh kuminta sesuatu&lt;br /&gt;Kuingin nikmati kesegaranmu&lt;br /&gt;Bunga segar, indah yang riang&lt;br /&gt;Untuk semua yang memandang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Embun:&lt;br /&gt;Oh bunga, bunga yang segar&lt;br /&gt;Ku tidak ingat benar&lt;br /&gt;Apa ku selalu membasahimu&lt;br /&gt;Karena itu sudah tugasku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ku tak ingin minta banyak&lt;br /&gt;Tapi kalau tidak terlalu merepotkan,&lt;br /&gt;Wangimu yang semerbak,&lt;br /&gt;Mengharumkan seluruh alam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110819324886151352?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110819324886151352/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110819324886151352' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110819324886151352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110819324886151352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2002/08/bunga-matahari-dan-embun-poem.html' title='Bunga, Matahari dan Embun (poem)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792557228942956</id><published>2001-10-30T20:58:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:33:32.523-08:00</updated><title type='text'>Bahasa Visual (essay)</title><content type='html'>(lupa ini dibikin untuk apa, mungkin dikirim ke mana gitu tapi gak dimuat. Well, anyway...)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hamlet didn’t say that, believe me, I know Shakespeare well…”&lt;br /&gt;“He said that, believe me, I know Mel Gibson well.”&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Cher&lt;/em&gt; (Alicia Silverstone), &lt;em&gt;Clueless&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Ingat saat-saat indah ayah mendongengkan kancil? Atau pertama kali membaca serial ‘Si Imung’? Tradisi bercerita, dan mendengar cerita, yang berabad-abad dibangun dengan bahasa lisan dan tulisan, sekarang tidak lagi populer di antara anggota keluarga. Mau cerita kancil dan Imung? Ada kartun dan sinetronnya di televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses komunikasi visual, telah menjadi sebuah ajang penting dalam hidup modern sehari-hari. See look watch stare view observe witness lihat tonton tatap pandang saksi (pasti masih ada kata yang ketinggalan) semua berkaitan dengan proses persepsi yang melibatkan mata (eit… perceive sendiri sehari-hari juga berarti ‘melihat’, walau sebetulnya terkait juga dengan indera yang lain). Memang nggak segampang itu: selalu ada kombinasi. Televisi atau film yang visualnya sangat dominan, misalnya, tetap banyak mendasarkan penyampaian pesannya pada suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pun, dibandingkan dengan bentuk komunikasi lain: yang didasarkan pada sensor manusia: sonor, peraba, perasa, penciuman, dan yang dihasilkan kebudayaan manusia: bahasa lisan dan tulisan (eit lagi… tulisan sampai titik tertentu visual juga), bentuk ini semakin merajalela dan menjadi bagian penting dalam kebudayaan manusia. Poster-poster agitasi, lay out majalah, atau petunjuk instruksional pemakaian mesin cuci, semuanya dominan menggunakan gambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam proses terbentuknya kebudayaan sebuah masyarakat, komunikasi merupakan prasyarat penting (di sisi lain, cara komunikasi sangat ditentukan oleh kebudayaan yang mengaturnya). Di sini kita bisa melihat bahwa selain kebudayaan dalam konteks besar seperti kebudayaan etnik, ada konteks-konteks kebudayaan yang lebih kecil: dalam kebudayaan Jawa ada kebudayaan Yogya yang berbeda dengan kebudayaan Semarang, di dalamnya ada kebudayaan tukang becak Yogya, berbeda dengan kebudayaan mahasiswanya, lalu pasti banyak perbedaan antara kebudayaan mahasiswa psikologi UGM dengan seni rupa ISI, dan antara mahasiswa psiko antar angkatan dan klik pun ada perbedaan. Semuanya terbentuk karena bentuk dan proses komunikasi yang berbeda dalam komunitas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan kebudayaan manusia, munculnya bahasa dianggap sebagai revolusi komunikasi yang pertama. Setelah itu, muncul tulisan. Penemuan mesin cetak yang memungkinkan penyebaran pemikiran manusia melalui penggandaan tulisan merupakan revolusi ketiga. Tidak terlalu lama setelah itu, televisi dengan kemampuannya membentuk opini publik dalam skala global dan waktu singkat dianggap merupakan revolusi keempat. Dalam perang AS lawan Afghanistan saat ini, juga terjadi perang wacana antara jaringan tv barat versus wacana Arab yang berujung tombak pada liputan stasiun tv CNN dan Al Jazheera, membagi dua opini penonton di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Televisi, dan film, mengubah cara manusia memandang dirinya. Sejak adanya televisi, presiden Amerika tidak pernah lagi terlalu gemuk, karena yang tidak terlihat bagus di televisi tidak akan dipilih masyarakat. Kebudayaan visual pun dipersalahkan sebagai penyebab mandegnya proses pemikiran manusia, yang paling kelihatan adalah bagaimana kekuatannya menghilangkan kebiasaan membaca (Michel de Cherteau menyebutnya “the cancerous growth of vision”), dan mendidik kita semua untuk terbuai oleh budaya instan: jagoan muncul, penjahat muncul, masalah memuncak, jagoan membereskan, penjahat kalah. Ini semua membantu manusia untuk semakin frustasi menghadapi kehidupan nyata -bagaimana mungkin Tommy Suharto tidak pernah tertangkap?-, dan kembali mengurung diri dalam buaian dunia virtual yang menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau bahasa gambar sangat dominan sebelum ditemukannya huruf (ingat lukisan di dinding piramid atau relief candi-candi?), komik bisa dibilang merupakan titik awal kesadaran manusia akan keterbatasan bahasa verbal, lisan atau pun tulisan, dalam penyampaian pesan. Gambar menyampaikan ribuan kata. Antropologi talah lama menggunakan fotografi dan film untuk mengumpulkan data dan mempresentasikan hasil penelitian. Sebuah novel berjilid-jilid cukup menjadi film berdurasi 2 jam. Toh, itu tidak menghilangkan kekuatan bahasa verbal, terutama dalam menyampaikan pemikiran atau perasaan manusia, sesuatu yang tidak terjangkau oleh bahasa gambar. Ingat film-film yang diangkat dari buku harian orang-orang, bagian ketika orang yang bersangkutan mengungkap pikiran dan perasaanya dibuat dalam bentuk narasi, yang juga verbal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahasa gambar, seperti bahasa lisan dan tulisan, juga memiliki strukturnya sendiri. Dibangun perlahan-lahan oleh industri film, linguistik gambar bisa dibandingkan langsung dengan bahasa verbal. Rangkaian kata-kata “ibu-sedih-dimarahi-ayah” secara sintagmatik bermakna khusus karena setelah dirangkaikan, makna setiap kata melengkapi lainnya. Secara paradigmatik setiap kata bisa diganti: sedih diganti senang, dimarahi diganti disayang, atau bahkan sesuatu yang aneh secara kultural; kita bisa merangkaikan: “ibu-senang-dimasak-ayah”. Walau maknanya terasa mustahil, toh kalimat tersebut memiliki makna yang spesifik. Demikian juga bahasa gambar: Bayangkan urutannya: “gambar ibu menyapu-gambar ayah datang dan memarahi ibu sambil membuang sampah di lantai-gambar ibu menangis”. Secara sintagmatik menyampaikan makna “ibu menangis dimarahi ayah”. Jika gambar ayah datang diubah dengan membawa kompor dan penggorengan, lalu gambar ibu menangis diganti ibu tersenyum-senyum di atas penggorengan, maka maknanya pun berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya di televisi dan film, visual culture, muncul hampir setiap saat dalam kehidupan sehari-hari orang modern, dan telah menjadi representasi wacana manusia sehari-hari. Dalam lift, kabin ATM, keluar masuk kantor, tempat parkir, bandara, supermarket, kita selalu dipantau oleh kamera-kamera pengawas. Kamera ada di mana-mana, dalam insiden 911 bahkan tabrakan pesawat pertama terekam oleh 2 kamera! Ironisnya, sebegitu banyak kamera pengawas yang dipasang untuk ‘menolong kehidupan manusia’ tidak serta merta berarti bisa menolong kehidupan manusia. Penculikan Jamie Bulger, usianya 6-7 tahun, dari sebuah pusat perbelanjaan di Liverpool tahun 1993 bisa direkam prosesnya dari berbagai kamera yang tersedia, tanpa ada upaya pencegahan yang bisa dilakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Internet dan multi media saat ini telah memasuki dimensi lain dari proses komunikasi: interaktif. Email, mailing-list, dan game-game interaktif yang bisa dimainkan dari kamar masing-masing membentuk cara baru berkomunikasi instan tanpa harus mengadakan tatap muka. Penelitian antropologis Bayu Aji Wicaksono menunjukkan bahwa bentuk komunikasi ini seperti ini sama sekali tidak mengurangi potensi untuk membentuk kebudayaan dari orang-orang yang terlibat di dalamnya, malah bagi orang-orang dengan kecenderungan untuk berbicara dengan bahasa tulisan ketimbang lisan cara ini lebih efektif (2001). Dengan hilangnya prasyarat tatap muka, bentuk masyarakat juga tidak ditentukan lagi oleh batasan geografis. Munculah masyarakat ahli biokompresi nuklir dunia, atau masyarakat pemburu UFO, yang tidak pernah saling bertemu, tapi sangat intens saling berkomunikasi dan memiliki nilai serta normanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa kita ada di jalan yang salah? Atau ini cuma proses perkembangan peradaban manusia; dan kita sedang berada di titik penting lahirnya cara baru melihat diri kita sendiri? Clifford Geertz selalu berkata bahwa manusia terperangkap dalam jaring-jaring makna yang mereka bangun sendiri, dan kini jaring-jaring itu bisa dilihat.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792557228942956?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792557228942956/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792557228942956' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792557228942956'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792557228942956'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2001/10/bahasa-visual-essay.html' title='Bahasa Visual (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792684676163170</id><published>2001-05-16T23:24:00.000-07:00</published><updated>2005-02-08T23:34:41.076-08:00</updated><title type='text'>ALIAS -Ling Kelinting/Tinker Bell- (fiksi)</title><content type='html'>Ling Kelinting tampak kesal. Sepagian ini ia cemberut. Keningnya berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa ia tidak mencintaiku? Kenapa ia tidak memilihku, dan malah perempuan itu? Bisakah ia menari di udara sepertiku? Bisakah ia melepaskannya dari kesulitan? Heeei, siapa yang membantu dia dan adik-adiknya terbang dari kamarnya di London hingga ke tempat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia terbang, sayapnya yang kecil bercahaya sedikit lebih terang dari cahaya tubuhnya. Ia terbang dan terbang, secepat-cepatnya, hingga udara pagi dan titik-titik embun yang dingin menyegarkan tubuhnya. Titik-titik embun itu tentu kecil saja bagi manusia biasa, namun bagi Ling, setitik embun cukup untuk menghambat laju terbangnya. Ia tersenyum lagi memikirkan Peter Pan, kesayangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa aku tidak punya perasaan, sehingga aku tidak mempedulikan perasaannya? Tentu saja aku punya perasaan, aku mencintainya sangat. Maksudku, betapa egoisnya perasaanku, sehingga menyalahkannya karena memilih Wendy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia kini memilih berhenti di atas sebuah ranting pohon yang masih hijau. Ranting itu baru, daun-daun yang tumbuh si atasnya belum lagi berbentuk. Ia mencium bau yang segar. Tentu itu wangi daun yang baru tumbuh itu. Tatapannya kosong sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wendy Wendy Wendy. Seorang manusia biasa. Ada apa dengannya sehingga ia memilih manusia biasa? Yah, tentu saja, Peter Pan pun sebetulnya manusia biasa. Ia hanya memilih untuk hidup di sini, bukan di dunia normal tepat Wendy berasal, dan menolak untuk tumbuh. Tidak bisakah ia melihat itu? Ia menolak untuk tumbuh menjadi dewasa. Dalam waktu singkat, Wendy akan menjadi tua. Mereka tak akan bisa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menatap ke bawah, ke semak-semak dan bunga liar yang tumbuh di antara mereka. Matahari belum juga muncul dari Timur. Ia tak tahu harus berbuat apa, lalu hanya menutup matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooh begitu lagi. Siapa aku hingga menghakimi mereka? Aku kan bukan pacar Peter Pan. Aku tak berhak mengatur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil berpikir begitu, ia menggeleng. Ia menggeleng sambil terbang. Ia menggeleng begitu kuat sehingga serbuk-serbuk cahaya bertaburan. Beberapa ulat yang sedang asik makan daun terkena taburan serbuk-serbuk itu, dan mulai ikut berterbangan. Mereka tampak mulai kebingungan. Ling Kelinting melihat hal ini, lalu mengembalikan mereka ke tempat semula dengan tongkat ajaibnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi pula, walau kami dekat, dan ia sering mengatakan betapa pentingnya aku baginya, aku tidak yakin dia mencintaiku seperti aku mencintainya. Hei, beberapa kali aku menciumnya, dan ia menciumku. Apa itu semua ada artinya? Apa ia mencintaiku? Tidak. Ya. Tidak. Ya. Tidak ya tidak ya ya ya ya tidak. Aduuuh, betapa tersiksanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia meninggalkan pohon itu, lalu terbang di permukaan sebuah telaga. Kadang-kadang, beberapa katak yang masih terjaga hingga saat seperti ini mencoba menjilat karena menyangkanya seekor lalat. Atau melihat cahayanya yang terang, mungkin seekor kunang-kunang. Tapi pagi ini semua katak telah hilang. Mungkin mereka terlalu lelah bernyanyi sepanjang malam. Mungkin juga mereka sengaja membiarkan. Jelas, hari ini dia tampak muram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai, apa yang aku lakukan ini? Apa aku mulai menyalahkannya? Apa ia pernah mengatakan cinta? Tidak. Pernahkah ia memberi tanda-tanda suka? Tidak juga. Pernah memberi iming-iming, janji atau perhatian lebih kepadaku? Tidak tentu saja. Jadilah, aku harus berhenti menimpakan kesalahan kepadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu kepada siapa? Wendy? Tak membuatnya adil juga. Aku tak pernah tau persis bagaimana perasaannya. Sering terlihat Wendy tidak menyukai gaya Peter yang arogan dan urakan. Menolak untuk terus tumbuh dewasa? Tidak terdengar benar-benar merupakan tipe pilihannya. Ya, mereka bukan pasangan yang ideal, tapi kata siapa cinta harus muncul karena banyaknya hal yang sama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini ia mendarat di daun teratai. Beberapa ekor ikan berenang mendekatinya dan mengucapkan selamat pagi. Ia membalas ucapan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja untuk orang seperti Peter, Wendy sangat menarik. Ia keibuan, dan Peter tak pernah merasakan belai kasih sayang orang tua. Ia telaten, santun, namun jujur menyatakan pikiran dan perasaannya. Beberapa kali aku melihat gairah dalam mata Peter ketika memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ling menarik napas panjang. Ia membaringkan tubuhnya yang letih karena semua penerbangannya yang panjang hanya di pagi ini. Ia memejamkan mata, mencoba menikmati tidur sejenak di daun teratai yang dingin ini. Tidak, ia terlalu gelisah. Ia membalikkan tubuhnya, tengkurap, lalu memandang bayangan wajahnya di permukaan air dari sisi daun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah aku. Apa yang begitu menarik dari diriku bagi seorang Peter Pan? Dibandingkan tubuhku, ia raksasa. Tentu baginya aku hanyalah peri kecil yang kebetulan sering menolongnya. Tidak, lebih buruk. Aku hanya cahaya kecil yang berpendar berterbangan di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia tidak tahan dengan segala pikiran itu. Ia merasa lumpuh, tidak bisa berbuat apa-apa. Ia mencoba membuktikan dirinya tidak lumpuh. Ia berdiri, lalu terbang kembali. Ia menggeliat. Tubuhnya segar sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, ya ampun. Masalah komunikasi. Apakah ia benar-benar mengerti arti semua kelintinganku? Aku tak bisa bicara, dan walaupun kebetulan ia tak pernah salah mengerti aku di saat-saat menghadapi kapten Hook, aku tidak yakin ia memahami bahasaku sepenuhnya. Tak tahulah, kami tidak pernah betul-betul duduk berdua dan membicarakan ini semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia berhenti di sebuah taman bunga. Bukan taman sebenarnya, karena tidak ada yang merawat tumbuhan di sana. Secara alami, tempat ini begitu indah, bunga-bunga bermekaran, kupu-kupu berterbangan, dan semuanya mengucapkan selamat pagi. Ling mencoba membalas semua sapaan. Ia kenal hampir semuanya, walau usia kupu-kupu begitu singkat. Setiap hari ia memang menyempatkan diri datang ke sini, terutama saat ini, saat ia merasa butuh mencurahkan isi hati. Tapi tentu, bunga-bunga dan kupu-kupu ini tak akan mengerti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oooh, Peter. Kau begitu hidup. Menyenangkan. Jagoan. Tak mau kalah, arogan urakan dan gengsian, hi hi.. bukankah itu semua yang kuinginkan? Hmmmhh.. angan-angan. Membayangkan aku bersamanya hanya merupakan mimpi yang tak akan pernah menjadi kenyataan. Mimpi yang akan kubawa kemanapun ku pergi. Sambil selalu berharap kau mendapatkan kebahagiaan sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ling Kelinting menarik napas panjang. Ia mencoba tersenyum walau air matanya jatuh ke rumput, menyatu dengan embun-embun yang masih dingin di pagi itu. Bagaimana pun, tetes air matanya mudah dibedakan karena masih memendarkan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kumau hanya roman dengan orang tertentu, yang kucintai sepenuh hatiku. Terlalu banyakkah itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Matahari telah terbit sekarang. Cahayanya sedikit menghangatkan tubuhnya. Tetes air matanya jatuh kembali, kali ini mendarat di kelopak bunga dan memercik menjadi tetesan-tetesan lebih kecil, memendarkan cahaya yang lebih banyak, bagai percik-percik kembang api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menarik napas panjang lagi. Dalam hatinya ia merasakan kebahagiaan tak terkira.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792684676163170?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792684676163170/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792684676163170' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792684676163170'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792684676163170'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2001/05/alias-ling-kelintingtinker-bell-fiksi.html' title='ALIAS -Ling Kelinting/Tinker Bell- (fiksi)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792969801909902</id><published>2000-12-06T22:13:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:35:18.403-08:00</updated><title type='text'>Mercon (fiksi)</title><content type='html'>Bulan puasa selalu menyenangkan. Sekolah diliburkan seminggu, dan kami bisa bersama-sama terus. Bergembira saja, dan melakukan hal yang sama setiap harinya.&lt;br /&gt;Pagi-pagi sekali membangunkan orang untuk makan sahur. Selepas subuh bermain lagi, hingga mata terasa berat karena mengantuk. Biasanya kami tertidur bertiga, di rumahku, Agus atau Sigit. Siang-siang kami terjaga, dan bermain lagi hingga bedug maghrib terdengar. Suara bedug bagaikan aba-aba bagi kami, untuk berlomba lari pulang ke rumah, dan minum sepuasnya. Setelah itu, kami kembali bersama untuk shalat Tarawih di mushola.&lt;br /&gt;Setelah terbangun siang-siang, biasanya kami berenang. Kadang-kadang… hi hi hi… air sungainya tertelan. Kata Pak haji, kalau tak disengaja, itu tak membatalkan puasa. Setelah puas berenang, kami keliling kampung naik sepeda. Berenang dan main sepeda, memang bisa dilakukan setiap bulan, tapi rasanya tak seenak saat itu.&lt;br /&gt;Di bulan puasa ada permainan yang tidak terdapat di bulan-bulan lainnya. Mercon. Kami bermain mercon, segala jenis mercon. Di depan rumah, di pinggir sungai, membangunkan orang sahur, menakut-nakuti anak-anak perempuan, dan membatalkan puasa orang-orang.&lt;br /&gt;Saat itu di mana-mana terdengar bunyi mercon. Kata orang, dulu lebih banyak, dan sekarang ini dilarang. Entah siapa yang melarang, yang jelas setiap terdengar bunyi mercon, banyak orang yang menyumpah-nyumpah karena terkejut. Lucu sekali melihat mereka. Pak haji juga pernah kami bikin kaget setengah mati. Ketika ia marah-marah menghampiri, kami ingatkan bahwa ia sedang berpuasa, ha ha ha… .&lt;br /&gt;Di desa kami, mercon yang paling terkenal adalah mercon milik anak-anak dari dukuh satu. Mereka membuat mercon long, dari bambu besar, yang dilubangi dan diisi minyak tanah. Tak ada mercon di desa kami yang bisa menyaingi. Mercon karbit atau long dari dukuh lainnya tidak bisa berbunyi sekeras itu.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Minggu kedua puasa kami sekolah lagi. Aneh rasanya bersekolah tanpa bisa jajan. Suasana pun aneh. Anak-anak tidak berlarian seperti biasanya. Semuanya seperti berlangsung lebih tertib. Atau lebih lambat. Di hari itu tidak semua guru masuk mengajar. Yang masuk tidak bersuara keras. Mungkin mengantuk, mungkin lemas.&lt;br /&gt;Guru IPA mengajar kami di jam terakhir. Di bulan-bulan lain, ia adalah seorang guru yang galak, seperti di bulan-bulan lain kami semua adalah murid-murid yang nakal. Tapi kali ini, ia penuh senyum, sabar, dan sangat ramah. Ia masuk, melempar senyum, mengucapkan salam, mengabsen kami satu per satu, lalu memulai pelajaran.&lt;br /&gt;“Siapa yang pernah denger kata biogas?”&lt;br /&gt;Anak-anak semua diam.&lt;br /&gt;“Gas itu bentuknya seperti asap, bisa melayang di udara. Seperti minyak, gas bisa menyalakan api, buat masak misalnya. Kalau orang menambang minyak, biasanya juga dapat gas. Tapi biogas ini tidak diperoleh di tambang minyak. Biogas ini dihasilkan oleh reaksi kimia dari kotoran… .” pak guru tampak ragu-ragu melanjutkan kalimatnya.&lt;br /&gt;“Tinja ya pak?” Sigit menyela.&lt;br /&gt;Anak-anak tertawa.&lt;br /&gt;“Ya. bener. Maksud saya memang tinja. Tinja kambing, tinja sapi, kuda, ayam, atau ternak-ternak lain yang ada di kampung kita. Tinja manusia juga bisa.”&lt;br /&gt;Tawa anak-anak menghilang. Mata Sigit berbinar-binar. Ia memang selalu tertarik pada pelajaran IPA.&lt;br /&gt;“Kalau ndak percaya, silahkan dateng ke rumah saya pulang sekolah nanti. Kompor saya sekarang ndak pakai minyak tanah lagi.” Pak guru tersenyum melihat wajah murid-muridnya, “ya sudah, kita bahas gas ya, buka bukunya halaman tujuh puluh empat… .”&lt;br /&gt;Aku tak terlalu heran ketika Sigit membujuk aku dan Agus untuk bersama-sama ke rumah Pak guru, setelah bel pulang sekolah berbunyi.&lt;br /&gt;“Ayolah Rot, Gus, rumah Pak guru kan nggak jauh… .”&lt;br /&gt;“Kalau aku nggak apa-apa. Tapi Agus nggak bawa sepeda. Kasian dia.”&lt;br /&gt;“Sini, biar Agus naik sepedaku.”&lt;br /&gt;“Lho, kamunya?” tanya Agus.&lt;br /&gt;“Aku mbonceng pak guru, aku sudah bilang kok tadi.”&lt;br /&gt;“Lha pulangnya? Boncengan?”&lt;br /&gt;“Gampang… .”&lt;br /&gt;Sampai di rumah Pak guru kami ditunjukkan kompor ajaib itu. Pak guru membuat semacam bak yang ditutup rapat. Ia memasukkan kotoran-kotoran ternak milik tetangganya ke dalam bak itu. Sebuah selang menghubungkan bak itu dengan kompor di dapurnya. Sigit bertanya terus dan Pak guru menerangkan dengan sabar.&lt;br /&gt;Setelah puas, kami pulang berjalan kaki. Tak lama lagi maghrib. Aku dan Sigit mendorong sepeda, Agus berjalan di antara kami.&lt;br /&gt;“Mikir apa, Git?” tanya Agus.&lt;br /&gt;“Kupikir, kita bisa bikin mercon dari biogas.”&lt;br /&gt;“Ha? Gila kamu. Gimana caranya?” balas Agus lagi.&lt;br /&gt;Aku juga ingin mendengar caranya.&lt;br /&gt;“Sama aja kan? Kalau bisa diatur untuk bikin api sekecil itu, tentu bisa juga bikin ledakan besar. Aku yakin, kalau kotorannya banyak, kita bisa mengalahkan anak-anak dukuh satu. Asal tutupnya rapat.”&lt;br /&gt;“Kamu yakin?” Suara letusan yang mengalahkan suara mercon anak-anak dukuh satu terbayang di depan mataku.&lt;br /&gt;Sigit meyakinkan kami. Ia paham semua prosesnya. Kami pun berbagi tugas. Setelah itu kami semua terdiam. Menjelang sampai di rumah, suara beduk maghrib bertalu-talu. Kali ini tak ada yang berlari.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Esok harinya kami bekerja keras. Awalnya, Sigit meminta kami menggali lubang yang cukup dalam, kira-kira satu meter, di lapangan kosong dekat sawah depan rumah kami. Lubang itu cukup untuk menampung kami bertiga duduk di dalamnya. Setelah itu Sigit menutupnya dengan kayu penutup drum yang telah dipersiapkannya dari rumah. Kayu penutup itu telah ia lubangi di tiga tempat yang terpisah.&lt;br /&gt;“Kenapa lubangnya ada tiga?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Agar cepat mengisinya, semalam kupikir kita lombakan saja. Masing-masing memiliki sebuah lubang, siapa yang lebih dulu penuh menang.” Jawab Sigit santai. Sambil menyumbat ketiga lubang itu dengan sebatang kayu yang dililit dengan karet bekas ban. Ia selalu menyiapkan segalanya. “Jadi kamu mengisi lubang yang ini, kamu yang ini dan aku yang ini.”&lt;br /&gt;Maka mulai keesokan harinya aku selalu memasang mata setiap melewati kandang kerbau, sapi atau kuda. Akhirnya kupilih kandang sapi dan kerbau milik Pak haji untuk kubersihkan setiap hari. Ia tampak heran dengan kesediaanku, dan di akhir minggu, ia memberikanku uang saku. Tentu saja ia tak tahu bahwa kotoran ternaknya selalu kubawa dengan karung untuk dimasukkan ke dalam lubang yang kami gali.&lt;br /&gt;Ibuku juga heran karena setiap hari aku pulang dengan pakaian yang kotor. Tapi, kemudian ia membiarkanku karena mengira aku bekerja untuk mendapatkan uang saku.&lt;br /&gt;Agus mungkin yang paling malas di antara kami. Lubang bagiannya tidak sepenuh milikku dan Sigit. Ternyata ia hanya mengumpulkan kotoran yang ia temui di jalan. Setelah menyadari kekalahannya ia mengganti siasat. Ia mulai mengkhususkan diri pada kandang ayam dan itik yang belum sempat tergarap. Aku juga beberapa kali memergoki dia buang hajat di lubangnya. Aku dan Sigit tidak mau kalah. Di akhir minggu kami buang hajat bersama-sama.&lt;br /&gt;Lebaran seminggu lagi. Sekolah kembali libur. Sigit ternyata berlebaran di rumah eyangnya di Salatiga, sedangkan aku di rumah Bude di Wonogiri. Hanya Agus yang tetap di kampung. Sanak keluarga akan berkumpul di rumahnya.&lt;br /&gt;Aku akan berangkat hari Minggu sore, dua hari sebelum lebaran. Sigit dan keluarga berangkat Senin pagi. Maka hari terakhir kami bersama-sama adalah hari Minggu. Setelah berunding, diputuskan bahwa mercon akan diledakkan hari Minggu pukul sepuluh pagi. Kini kami harus melengkapi bahan bakar.&lt;br /&gt;Tibalah hari besar itu. Shalawat sudah mulai terdengar. Langit cerah, suasana begitu menyenangkan. Bapakku mencuci mobil yang baru disewanya. Ibu Sigit menjemur pakaian di halaman. Agus dan keluarganya mengecat dinding rumah. Pak haji berkeliling dan membalas salam orang-orang yang berpapasan dengannya.&lt;br /&gt;Jam sepuluh kami berkumpul di depan lubang keramat. Inilah waktunya. Kami sangat tegang. Jantungku berdebar-debar. Terdengar Agus membisikkan doa.&lt;br /&gt;Sigit menyalakan korek api yang dibawanya dari rumah. Ia membuka salah satu sumbat. Korek itu dicemplungkan ke dalam. Tidak ada suara apa-apa.&lt;br /&gt;“Mungkin koreknya mati. Sini, aku yang masukkan.” Agus tidak sabar. Suaranya cemas. Aku lemas. Rasanya apa yang kami lakukan selama ini sia-sia saja. Anak-anak dukuh satu tetap memiliki mercon paling keras suaranya.&lt;br /&gt;“Jhebrrrruuuuuuuaaaaaaaaaaaatttt!”&lt;br /&gt;Bumi bergetar, pohon-pohon bergoyang-goyang, daun-daun berguguran. Aku tak bisa melihat apa-apa, karena mataku tertutup sesuatu dan terasa panas. Kusapu mataku, dan kulihat bajuku terbakar. Aku berguling di tanah. Orang-orang berteriak-teriak panik, berlarian berdatangan dari segala penjuru. Suaranya riuh rendah.&lt;br /&gt;Aku bangun. Telingaku masih berdengung. Kotoran di mana-mana. Mobil sewaan bapak, jemuran ibu Sigit, rumah Agus, rumahku, rumah Sigit, rumah Pak haji, dan rumah-rumah lain yang ada di sekitar situ. Bapak dan Ibu menjewer kupingku, lalu menyeretku pulang. Orang-orang berkerumun memandangi. Anak-anak dukuh satu bertepuk tangan.&lt;br /&gt;Hari itu aku tak jadi berangkat ke Wonogiri, karena sepanjang hari serta esoknya aku, Sigit dan Agus harus membersihkan segala kotoran. Tapi, ini adalah bulan puasa yang akan selalu kukenang. Kerja keras itu ternyata tidak sia-sia. Kami bangga dan sangat senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792969801909902?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792969801909902/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792969801909902' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792969801909902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792969801909902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2000/12/mercon-fiksi.html' title='Mercon (fiksi)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792937070096493</id><published>2000-06-12T16:07:00.000-07:00</published><updated>2005-02-08T23:35:51.786-08:00</updated><title type='text'>Tewut (fiksi)</title><content type='html'>Malam yang dingin, menjelang pukul dua belas. Cahaya pucat neon menyapu kantor yang kosong menambah dingin udara dalam ruangan. Bunyi berdengung -entah dari mana- dan bunyi tuts yang ditekan menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara lalu lintas malam, nun jauh di bawah sana.&lt;br /&gt;Pras kembali berpikir untuk berhenti saja. Pendingin udara brengsek! Ia menaikkan retsleting jaketnya. Matanya perih karena telah seharian bekerja. Saat-saat begini, kapuk dipan ruang istirahat yang sudah hampir rata dengan alasnya itu terasa sangat menggoda. Betapa lembutnya. Betapa hangatnya.&lt;br /&gt;Tidak. Hari ini gilirannya mengawasi angka-angka itu. Komputer. Internet. Monitor. Pekerjaannya di sebuah lembaga keuangan swasta memang mengharuskannya memantau perkembangan valuta, bursa efek, harga saham dan bunga bank di seluruh dunia, dari waktu ke waktu. Kalau terjadi perubahan yang signifikan, ia harus membuat laporan.&lt;br /&gt;Pras mencoba menguatkan dirinya. Sial sekali mendapatkan giliran di malam yang dingin ini, dan sial sekali harus mengelilingi dunia seorang diri. Darman dan Jamil mungkin sudah sampai di Kemang, memesan minuman, dan sudah memulai diskusi politik ronde kesekian. Semua orang memang harus bicara politik sekarang.&lt;br /&gt;Mungkin ada baiknya aku menyendiri saat ini. Sendirian, aku bisa punya waktu untuk memikirkan hidupku. Apakah aku memang harus pindah pekerjaan? Untuk apa? Pekerjaanku tidak berat. Membosankan? Ya, tapi sebanding dengan imbalannya. Lalu karir? Pantaskah pekerjaan ini untuk seorang sarjana ekonomi sepertiku? Ah, pada saat seperti sekarang ini, punya pekerjaan saja sudah bagus.&lt;br /&gt;Mengawasi data dari internet bisa sangat menyenangkan. Kadang, jika memang sangat bosan, kan tinggal membuka sumbat jaringan. Informasi. Itu sudah semua yang dibutuhkan.&lt;br /&gt;Jangan salah, ia tak pernah lalai bertugas. Hanya saja, angka-angka itu kadang begitu menjemukan. Kali ini pun begitu. Untuk melawan kantuk, ia menyalakan komputer lain, dan membuka pesan-pesan pribadinya. Tak ada yang baru. Kini ia bingung. Mau ngobrol, atau nonton? Ngobrol enak. Temannya pun banyak. Tapi malam begitu dingin. Akhirnya ia menuju jaringan pertunjukan bayaran. Cukup masukkan nomor rekening bank, ia bisa langsung menyaksikan wanita-wanita cantik bercengkrama telanjang. Ia tersenyum kecil. Siapa cewek baru berambut poni ini?&lt;br /&gt;“Liat apa, Mas…?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang.&lt;br /&gt;Pras kaget. Ia mencoba berdiri menutupi layar monitornya sambil menoleh ke belakang. Terlihatlah seorang laki-laki berpakaian rapi. Ia belum pernah melihat laki-laki ini. Usianya mungkin tidak terlalu terpaut jauh, dan wajahnya memancarkan keramahan dan ketenangan yang luar biasa. Tiba-tiba, Pras merasa sangat tenteram.&lt;br /&gt;“Aaah… , ndak mas, ini lho, cewek-cewek bugil. Malem-malem begini sepi, mas. Ngomong-ngomong, mau cari siapa tho, mas ?”&lt;br /&gt;“Anu, nama saya Tewut. Saya ada perlu sama mas Prasetyo. Satpam suruh saya cari ke sini.”&lt;br /&gt;“Lhaa… . Prasetyo itu ya saya sendiri. Ada apa, toh, mas ?”&lt;br /&gt;“Lhoo… , sampeyan ini mas Prasetyo ? Kebetulan sekali.” Tewut mencari posisi duduk, lalu duduk di sisi Pras, “Mas ini gagah betul. Maaf lho mengganggu malam-malam begini.”&lt;br /&gt;“Ndak apa-apa…”&lt;br /&gt;“Saya ini datang membawa kebahagiaan untuk mas.”&lt;br /&gt;Kebahagiaan ? Aku ? Orang ini aneh betul. Tapi aku kok percaya kepadanya. “Ehmm… kenapa saya ? Kebahagiaan apa ? Mas ini siapa toh ? Jangan maen-maen lho mas…”&lt;br /&gt;“Jangan kaget ya mas, saya ini gendruwo. Tugas saya memberikan kebahagiaan bagi orang-orang kesepian seperti mas ini.”&lt;br /&gt;Hening sebentar.&lt;br /&gt;“Hmm… .” Pras menarik napas dalam-dalam, beberapa kali, lalu menjawab, “Bagaimana kau bisa membahagiakan aku ?”&lt;br /&gt;“Mas Pras bersedia ikut saya…?”&lt;br /&gt;Pras mengangguk. “Bagaimana…”&lt;br /&gt;“Begini… .” Tiba-tiba monitor, tuts, dan suara dengung pendingin udara menghilang. Langit-langit yang pucat kini menjadi langit gelap. Sunyi. Bintang bertaburan. Nyanyian katak dan tarian kunang-kunang.&lt;br /&gt;“Ini kampung Drono? Ya. Ini kampungku.”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Malam yang dingin, mungkin sudah pukul dua belas. Cahaya pucat lampu neon yang keluar dari sela-sela pagar menambah dingin udara malam itu. Bulan tidak muncul. Gemerisik daun dan bunyi jangkrik yang sesekali terdengar menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara televisi penduduk yang belum dimatikan.&lt;br /&gt;Perjalanan mereka berdua dilanjutkan melalui persawahan hingga pinggiran sungai. Pras duduk di atas sebuah batu besar, dan memandang buih-buih putih terbawa aliran sungai di antara batu-batu. Sebuah tanggul buatan jaman Belanda di dekatnya membuat arus sungai mengeluarkan suara keras, dan suara jangkrik serta katak ikut hanyut di dalamnya. Tewut memberikan sebuah lampu senter. Tidak jauh dari tempat duduknya, tampak seekor ular kecil yang berjuang berenang melawan arus.&lt;br /&gt;“Mau ke mana ular itu?” Pras bertanya dalam hati.&lt;br /&gt;“Pulang. Bertahun-tahun kau ndak pernah pulang, mengapa? Ayo pulang sekarang.”&lt;br /&gt;“Nggak. Hari terlalu malam. Mari duduk di sini saja, berdiam-diam.”&lt;br /&gt;“Kalau itu memang membuatmu bahagia… .”&lt;br /&gt;Pras menarik napas sedalam-dalamnya. Air matanya menitik.&lt;br /&gt;“Kau menangis? Ada apa?”&lt;br /&gt;“Aku berjanji nggak akan pulang sebelum jadi orang.”&lt;br /&gt;“Kamu orang yang sempurna bagi gendruwo sepertiku.”&lt;br /&gt;Pras tersenyum. Tewut tersenyum. Senyum Tewut membuat tenteram.&lt;br /&gt;“Mari pergi. Ada tayuban di dukuh dua. Atau kau lapar?”&lt;br /&gt;Pras mengangguk.&lt;br /&gt;Langit tiba-tiba memerah. Angin dingin bertiup kencang. Pras dan Tewut duduk saling berhadapan. Seorang pelayan datang membawa meja, lalu mencatat pesanan. Pras memandang ke kanan. Matahari terbit dari balik deretan bukit. Di sebelah kiri, gunung bromo masih tidur berselimut kabut. Turis dan warga setempat lewat sambil memberi hormat.&lt;br /&gt;“Mengapa di sini?” tanya Pras, agak canggung.&lt;br /&gt;“Tempat ini indah sekali.”&lt;br /&gt;Tak ada yang bisa membantah hal itu.&lt;br /&gt;“Tewut, ngomong-ngomong, apa yang bisa kulakukan padamu untuk menebus ini semua?”&lt;br /&gt;Tewut tersenyum, “Ini tugasku. Kau hanya harus menikmati.” Matanya. Matanya yang membuat hati tenteram.&lt;br /&gt;Setelah makan mereka ke panti pijat, lalu ke Bali, dan tidur-tiduran di pantainya bersama orang-orang bule. Pras senang sekali. Tewut gendruwo yang sangat menyenangkan. Semua yang berpapasan tersenyum atau melambaikan tangan. Ia memang tidak kelihatan berbeda dengan manusia biasa, hanya saja setiap ia melangkahkan kaki Pras selalu mendengar suara ‘teuut…, teuut…, teeut… .’ Pras menduga dari situlah tewut memperoleh namanya. Sebetulnya Pras baru tahu jika gendruwo bisa melayani manusia. Ia pernah mendengar cerita jin dari lampu wasiat yang memberikan apa saja yang diminta manusia, tapi permintaannya dibatasi hanya tiga. Ia bebas. Tewut benar-benar memanjakannya.&lt;br /&gt;“Waaah… seger aku, Wut. Ke mana kita setelah ini ?”&lt;br /&gt;“Mau masuk keputrenan kraton ?”&lt;br /&gt;“Ha… ? Ada siapa di sana jaman sekarang ?”&lt;br /&gt;“Belum mengerti juga ? Ruang dan waktu bukan penghalang buat kita. Aku pilihkan tempat dan saat yang terbaik untukmu.”&lt;br /&gt;Maka Pras dan Tewut muncul di Kraton Solo pada akhir abad ke sembilan belas. Semua orang menyambut mereka, dan melayani dengan penuh suka cita. Mereka tinggal di sana selama berminggu-minggu. Pras betah sekali berada di sana, hingga suatu saat, ia teringat pada pekerjaannya. Pada ibunya.&lt;br /&gt;“Wut, mari pulang, Wut…”&lt;br /&gt;“Ndak mau tinggal di sini saja? Sudah tugasku membahagiakanmu.” Seorang wanita menghampiri, dan menciumi wajah Pras lalu dadanya.&lt;br /&gt;“Aku seneng. Terima kasih banyak. Tapi aku harus pulang, Aku punya pekerjaan.”&lt;br /&gt;“Apa kamu ndak berbahagia di sini? Mari ke bulan.”&lt;br /&gt;“Aku senang, Tewut, sahabatku, tapi bersenang-senang terus nggak membuat orang berbahagia.”&lt;br /&gt;“Kalau berhenti kamu ndak bisa kembali lagi. Padahal kamu ndak suka keseharianmu.”&lt;br /&gt;“Aku nggak bisa di sini selamanya. Orang nggak bisa melepaskan diri dari keseharian hidup. Aku juga nggak bisa.”&lt;br /&gt;“Kalau keseharian hidup ndak membahagiakanmu, mungkin kamu harus lepaskan semuanya.”&lt;br /&gt;“Apa namanya hidup tanpa kesehariannya? Memang seringkali menyebalkan, namun itulah segala yang kita miliki.”&lt;br /&gt;“Bersamaku kamu bisa lepaskan semua yang menyebalkan.”&lt;br /&gt;“Yang jelas aku ndak ingin melepaskan pekerjaanku.”&lt;br /&gt;Tewut menarik napas sebentar. “Kalau itu maumu… .” Maka mereka muncul di pojok dinding, di bawah tangga darurat, di bawah tanah gedung kantor Pras. Gemuruh mesin-mesin besar menambah gerah hawa ruangan. Di sekitar mereka tampak tulang-belulang dan serpihan sisa daging binatang entah apa. Pras kaget sekali. “Apa ini ? Kenapa kita di sini ?”&lt;br /&gt;“Kucing, tadinya. Kita selalu di sini. Kita ndak pernah ke mana-mana.”&lt;br /&gt;“Maksudmu aku makan kucing ini ? Selama ini ?”&lt;br /&gt;“Ya.”&lt;br /&gt;Pras terdiam. Ia menaiki anak tangga. Makan kucing tidak merisaukannya betul. Tapi kenyataan bahwa semua yang ia alami hanyalah permainan Tewut, menyakiti hatinya.&lt;br /&gt;”Aku betul-betul ingin membuatmu bahagia. Kalau kamu mau, kamu bisa tinggal selamanya di sana.” Tewut menyusul naik di belakangnya.&lt;br /&gt;“Aku ndak mau tinggal di … .” Pras tak meneruskan kalimatnya, tapi wajahnya marah sekali. “Kamu memberi kebahagiaan palsu… .”&lt;br /&gt;“Yang penting adalah apa yang ada di hatimu. Rasa senang itu tidak palsu, tapi sesuatu yang murni. Sejati.”&lt;br /&gt;“Panca inderaku ditipu. Perasaanku ditipu. Nggak ada yang murni soal itu. Semua orang ingin yang nyata, bukan hanya bayangan. Sesuatu yang benar-benar ada, bukan angan-angan.”&lt;br /&gt;“Kamu tidak pernah mau pulang. Kamu menghindari kenyataan.”&lt;br /&gt;Pras tidak menjawab. Mereka naik tangga sambil terdiam. Untuk beberapa lama.&lt;br /&gt;Akhirnya Pras berhenti. “Jelaskanlah padaku kesejatian.”&lt;br /&gt;Tewut terkejut. Ia masih terdiam. Air mata telah membasahi kedua pipinya.&lt;br /&gt;“Aku tidak memahami kesejatian. Keahlianku membuat tiruan.”&lt;br /&gt;“Justru karena kamu pemalsu yang ahli, maka seharusnya kamu sangat memahami kesejatian.”&lt;br /&gt;Tewut terdiam lagi.&lt;br /&gt;“Satu-satunya kesejatian yang kupahami adalah… sampeyan bapakku.”&lt;br /&gt;Sekarang Pras tak bisa berkata-kata. “… Hah… eh… aku belum punya istri… .”&lt;br /&gt;“Sampeyan betul bapakku. Kami gendruwo dilahirkan dari pria-pria masturbasi.” Ia mengusap air matanya.&lt;br /&gt;Pras tidak berkata apa-apa.&lt;br /&gt;“Kami adalah anak-anak yang tidak diinginkan. Tidak dipedulikan. Tidak dipikirkan. Sampeyan tahu bagaimana rasanya tumbuh sendirian? Tak punya ibu, dan bapaknya ndak peduli? Bahkan tahu punya anak pun ndak? Dengan bentuk seperti yang sampeyan lihat ini?“ Sambil berkata demikian, wujud Tewut perlahan-lahan berubah. Pakaiannya yang rapi menghilang. Otot-otot tangan dan kakinya membesar. Kulitnya menjadi gelap… gelap sekali. Wajahnya kini tidak beraturan, dan seluruh permukaan tubuhnya ditutupi benjolan dan cairan, di antara bulu yang tidak terawat.&lt;br /&gt;Pras sangat terkejut. Ia tidak kuat memandang tubuh Tewut. Bau busuk dari tubuh itu menusuk hidungnya dengan tajam. Ingin rasanya menangis.&lt;br /&gt;“Semua mahluk membenci kami. Di alam kami, gendruwo selalu dicurigai. Aku ndak pernah menyalahkanmu karena melahirkanku, tapi tolong hargai aku, seperti sampeyan menghargai manusia lain.”&lt;br /&gt;Pras belum bisa bicara. Sejak remaja, setiap waktu lenggangnya, ia memang jarang bisa menemukan hiburan lain… .&lt;br /&gt;“Eeh… maafkan aku. Hmmm… berapa umurmu ?”&lt;br /&gt;Tewut tersenyum sambil mengusap air matanya, “Sampeyan lupa aku ndak punya keterbatasan ruang dan waktu.”&lt;br /&gt;“Heh… iya betul… Apa yang kau inginkan sekarang ?” Pras memegang bahu Tewut.&lt;br /&gt;“Ndak banyak. Aku ingin bisa memanggilmu bapak. Aku ingin membahagiakanmu. Dan jangan mengajakku berdebat soal kesejatian, karena aku dilahirkan oleh kepalsuan.”&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Malam yang dingin, hampir jam satu. Cahaya pucat neon menyapu kantor yang kosong menambah dingin udara dalam ruangan. Bunyi berdengung -entah dari mana- dan bunyi tuts yang ditekan menjadi satu dengan keheningan semesta. Sayup-sayup terdengar suara lalu lintas malam, nun jauh di bawah sana.&lt;br /&gt;Pras memandang monitornya, sendirian. Angka-angka. Cewek-cewek telanjang. Ia matikan semuanya. Malam ini ia akan pulang. Benar-benar pulang.&lt;br /&gt;Depok, Januari 00&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792937070096493?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792937070096493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792937070096493' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792937070096493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792937070096493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/2000/06/tewut-fiksi.html' title='Tewut (fiksi)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792767160765395</id><published>1999-03-06T15:45:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:36:34.986-08:00</updated><title type='text'>Buaya dan Kancil (fiksi)</title><content type='html'>Pada saat-saat seperti inilah buaya merasa perutnya sangat lapar. Dinginnya air sungai menambah rasa nyeri di lambungnya. Jika hingga petang ini aku tidak juga mendapatkan makanan, mungkin aku tidak akan bisa melihat matahari esok, pikirnya.&lt;br /&gt;“Kancil memang binatang yang sangat kurang ajar,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. Selain menyiksa perutku, ia juga membuatku malu pada teman-teman. Di mana harga diriku sebagai buaya terkuat di hilir ?&lt;br /&gt;Buaya membiarkan arus sungai mendorong tubuhnya perlahan-lahan ke arah rumpun alang-alang di pinggir sungai. Ada sebuah bagian di tempat itu yang terkena sinar matahari langsung pada siang hari seperti sekarang ini. Ia harus naik ke darat dan merayap sedikit untuk menuju tempat itu. Biasanya ia tidak terlalu menyukai sinar matahari, namun entah mengapa saat ini sinar matahari terasa begitu menenangkan. Di sini, ia bisa berpikir dengan lebih jernih.&lt;br /&gt;Buaya sangat takut kini. Ia khawatir pada kelangsungan wibawa kaum buaya. Apa yang kupikirkan tadi, sehingga membiarkan kancil menipu dan mempermainkan buaya, yang terkenal kejam di seluruh penjuru hutan ini ? Kuakui kancil adalah seekor binatang yang licik, tapi bukankah buaya seharusnya cukup cerdik untuk menghadapi tipuan semacam itu ?&lt;br /&gt;Jauh di lubuk hatinya, buaya tidak menyalahkan kancil. Segala kejadian ini wajar dalam kehidupan memangsa dan dimangsa di hutan. Semua binatang akan menjadi korban atau pemenang. Yang merisaukannya kini adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul mengenai kekuasaan yang ia miliki di sungai ini.&lt;br /&gt;Ketika muncul di pinggir sungai pagi ini, ketenangan kancil memang sempat membuat buaya ragu-ragu. Tapi rasa sombong, sekaligus terharu melihat kerelaan kancil menyerahkan diri sebagai sarapan telah membuatnya lengah.&lt;br /&gt;“Wahai bapak buaya yang mulia, izinkanlah hamba menghaturkan sembah sujud mewakili seluruh kaum kancil di hutan ini.”&lt;br /&gt;“Hmmh …? Ya…ya…ya… ayo sini lehermu !”&lt;br /&gt;“Adalah suatu kehormatan untukku untuk menjadi santapanmu. Tentu bapak menyadari bahwa daging kancil adalah daging yang paling enak. Kelembutan dan aromanya, kerenyahan dan rasanya, tidak ada yang menandingi, bahkan oleh menjangan, celeng, domba, atau sapi sekalipun.”&lt;br /&gt;Hah… ? Apa betul ? “Apa lagi yang kau tunggu kalau begitu ? Ayo, lehermu…!”&lt;br /&gt;“Sabar bapak kami buaya, yang maha perkasa, sabar. Walau begitu enak namun tentu bapak bisa lihat ukuran kami begitu kecil. Perut bapak besar sekali. Mana cukup seluruh tubuhku ini memenuhinya ? Rahang bapak besar dan kuat. Tubuhku akan tercerna dengan sekali telan.”&lt;br /&gt;“Yaaah… lalu bagaimana ? Kau punya usul ?”&lt;br /&gt;“Begini bapak buaya. Ada lima ratus ekor kancil di sisi hutan sini. Semua mati-matian ingin menjadi santapan buaya. Namun apakah jumlah itu mencukupi semua buaya yang ada di sungai ini ?”&lt;br /&gt;“Haah…? Cukup cukup cukup. Tapi kenapa harus semua buaya ? Aku mampu menghabiskan semuanya. Sungguh.”&lt;br /&gt;“Kami tidak mau menjadi penyebab hancurnya masyarakat hewan mulia idola kami. Jika hanya bapak yang mendapat bagian, kolega bapak pasti akan iri. Mereka akan mengincar bapak. Jika mereka bekerja sama…”&lt;br /&gt;“Ya ya… aku mengerti. Tak usah kau teruskan. Lalu usulmu bagaimana, Cil ?”&lt;br /&gt;“Bagaimana kalau bapak mengumpulkan teman-teman bapak berjejer hingga ke seberang sungai. Aku akan menghitungnya. Jika cukup, aku segera membawa seluruh kancil dari hutan ke sini, dan bapak dan semua teman bapak akan berbahagia di hari ini.”&lt;br /&gt;Pada saat itu buaya tidak sempat memikirkan konsep sumber daya yang berkelanjutan. “Kau adalah wujud nyata dari pengabdian yang sesungguhnya. Aku bangga padamu, Cil. Aku boleh memanggil kamu dengan ‘Cil’ bukan ? Ngomong-ngomong kenapa kamu tidak pilih harimau, singa, serigala atau ular saja ? Apa yang membuatmu memilih buaya ?”&lt;br /&gt;Kancil kelihatan kaget dengan pertanyaan itu. “Hah ? Hmm… . Kupikir karena buaya hidup di air dan darat sekaligus. Hal itu adalah sebuah perwujudan dari keseimbangan yang sejati.”&lt;br /&gt;“Ternyata kau juga pribadi yang menyenangkan untuk bicara masalah-masalah eksistensial semacam itu. Sayang sekali dagingmu enak untuk dimakan. Ayo, naik punggungku, kita kumpulkan semua buaya yang ada di sini.”&lt;br /&gt;Maka buaya dan kancil memanggil dan meyakinkan semua buaya yang ada. Karena buaya lain sangat menghormati buaya pertama, usaha pengumpulan itu tidak berlangsung terlalu lama.&lt;br /&gt;“Hebat ! Sungai selebar ini bisa tertutup oleh seluruh buaya yang ada. Perkiraanku, mungkin ada seratus lebih buaya. Tapi untuk memastikan, akan kuhitung semuanya. Bisa saya mulai sekarang bapak ?”&lt;br /&gt;“Tentu. Silahkan dimulai.”&lt;br /&gt;Maka kancil melangkahi deretan buaya itu. Ia menghitung setiap buaya yang ia injak. Menghitung dan menghitung hingga akhirnya sampai di seberang sungai.&lt;br /&gt;“Berapa banyak, Cil ? Cil ? Kancil ?” Suaranya nyaris tidak terdengar di sisi sungai yang satu.&lt;br /&gt;“Wahai kancil yang bijaksana, berapakah jumlah kami semua ?”&lt;br /&gt;“Ha…ha…ha…ha…ha… . Buaya-buaya bodoh, dan kau adalah yang terbodoh. Ha…ha…ha… . Apakah di dunia ini ada mahluk yang lebih bodoh daripada kamu ? Guoblok. Ha…ha…ha… . Aku memang ingin menyeberang. Sungai ini lebar dan arusnya cukup kuat. Tanpa kalian aku tidak bisa sampai di sini. Terima kasih atas kebaikan hati kalian semua. Atau aku harus bilang, kebodohan kalian semua ? Ha…ha…ha… , selamat tinggal.”&lt;br /&gt;Kata-kata terakhir kancil masih terngiang-ngiang di kepala buaya hingga saat ini. Ia memejamkan matanya. Hancurlah kewibawaan yang telah dibangunnya dengan bersusah payah selama ini.&lt;br /&gt;“Bagaimana saya bisa membedakan yang mana kaki kancil dan yang mana batang kayu ?” seekor buaya muda pernah bertanya sambil terisak-isak, “saya ditipu, ampuni saya karena saya percaya pada kancil yang licik.”&lt;br /&gt;Ketika itu bapak buaya menjawab, “bagaimana kijang-kijang yang kita makan selama ini bisa membedakan yang mana tubuh buaya dan yang mana batang kayu terapung ? Mereka yang keliru akan mati, dan yang waspada akan lolos. Ini bukan masalah bagaimana kau bisa membedakan yang mana musuh atau makananmu. Ini masalah bagaimana cara bertahan hidup. Ini masalah menjadi pemenang atau korban. Kau telah ditipu kancil, dan kau telah menjadi korban.”&lt;br /&gt;“Bagaimana saya bisa bertahan hidup, bapak ? Bagaimana agar saya bisa menjalani sisa hidup tanpa menjadi korban? Saya takut.” Tanya buaya lain yang masih kecil.&lt;br /&gt;Buaya ingat betul apa jawabannya waktu itu. “Rasa takut adalah musuh terbesar kita. Kau harus memeranginya dengan belajar. Kau harus mencari tahu. Jika kau tahu apa yang harus kau lakukan, kau tak akan merasa takut.”&lt;br /&gt;Kini ia sendiri yang menjadi korban. Ia tak lagi pasti apa yang ia ketahui dan tidak. Ia tidak lagi pasti akan segala hal.&lt;br /&gt;Hingga terdengar suara auman, dekat sekali di telinganya yang kecil.&lt;br /&gt;“Ghrrrrrrr… abang buaya… .”&lt;br /&gt;Harimau ! Banyak harimau ! Bersama kancil. Apa lagi yang ia inginkan sekarang ini ? Ketakutannya muncul lagi. Muncul dalam bentuk yang paling melumpuhkan.&lt;br /&gt;“Ghrrrrrrr… apakah ehm… jumlah seluruh buaya yang ada di sini cukup banyak ?&lt;br /&gt;“Kenapa bertanya ?”&lt;br /&gt;“Kancil ini bilang bahwa hutan di seberang sungai sana banyak domba-domba gemuk berkeliaran. Aku dan teman-teman ingin memburu mereka, lalu berbagi dengan seluruh buaya yang ada. Bukan begitu kancil ?&lt;br /&gt;Kancil mengangguk. Wajahnya kelihatan tegang.&lt;br /&gt;Buaya tiba-tiba merasa begitu yakin pada dirinya.&lt;br /&gt;“Kau pasti ingin menghitung jumlah buaya dulu, bukan ?”&lt;br /&gt;“Ya. Grrrrrrrrhauuummm… .”&lt;br /&gt;“Itu bisa kuatur. Tunggu di sini.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian rombongan buaya telah berderet hingga ke seberang sungai, dan rombongan harimau mulai menghitung mereka. Ketua rombongan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada kancil, dan meminta ijin untuk memanggilnya ‘Cil’.&lt;br /&gt;Buaya tersenyum menang ketika harimau terakhir menginjak tubuhnya. Beberapa saat kemudian terdengarlah bunyi berdebur di tengah sungai. Deburan ini disusul oleh suara auman dan raungan sahut menyahut. Seluruh buaya mendapatkan santap siang yang nikmat.&lt;br /&gt;Bapak buaya memandang kancil yang sejak tadi terpesona memandang semua kejadian itu. “Mengapa kau kelihatan heran?”&lt;br /&gt;Kancil tidak menjawab selama beberapa lama. Ia menarik napas, lalu tersenyum. “Aku kecil, aku lemah, dan aku bersyukur karena keterbatasanku. Aku selalu merasa takut, dan rasa itu yang membuatku tetap hidup.”&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792767160765395?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792767160765395/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792767160765395' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792767160765395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792767160765395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/1999/03/buaya-dan-kancil-fiksi.html' title='Buaya dan Kancil (fiksi)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792842079750224</id><published>1999-03-05T21:44:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:37:36.343-08:00</updated><title type='text'>Mudaiyah (fiksi)</title><content type='html'>&lt;div align="left"&gt;Kupilin kumisku, kulilitkan peluit di pergelangan tangan, dan kulangkahkan kakiku keluar dari lorong. Lapangan rumput ini semakin baik keadaannya dibandingkan saat terakhir aku ke sini. Tribun yang tidak terlalu besar disesaki penonton, yang mungkin kurang banyak memiliki alternatif hiburan. Bendera dan spanduk beraneka warna berkibar-kibar. Rumput hijau, langit biru, udara segar dan sorak sorai penonton yang membahana. Sore yang indah untuk sebuah pertandingan sepakbola.&lt;br /&gt;“Heeeei… wasiiiiit ! Awas kooweeeee !!” Hmmm…, aku berusaha menahan senyum. Sudah ada yang memanggil-manggil. Mereka semua pasti sayang padaku.&lt;br /&gt;Di dalam lorong tadi kapten kedua kesebelasan sudah sempat kukuliahi sedikit. Kupastikan mereka mengerti, dan bisa menghargaiku. Musim kali ini memang agak berbeda dengan musim-musim sebelumnya. Terbatasnya dana. Jadwal yang berubah-ubah. Tidak terlalu masalah buatku memang. Sebuah pertandingan selalu menjadi saat-saat yang menyenangkan. Betapa pun jeleknya cuaca. Betapa pun kotornya permainan.&lt;br /&gt;Penjaga garis sedang memeriksa telapak sepatu pemain. Penonton betul-betul memenuhi seluruh stadion. Pengawas pertandingan berbicara mengenai segerombol penonton yang berusaha menerobos masuk. Mungkin sudah waktunya stadion ini diperbesar kapasitasnya.&lt;br /&gt;Sriyono ! Dia di sini ! Di stadion ini !&lt;br /&gt;“Yon !” kusapa dia, “Apa kabar ?”&lt;br /&gt;“Burhan… ! Oh, maaf. Siap, letnan !” Ia berdiri tegak dan memberi hormat.&lt;br /&gt;“Aah… , sudahlah, aku nggak pakai seragam, kok.”&lt;br /&gt;Ia tersenyum, “Kenapa nggak bilang dulu mau ke sini ?”&lt;br /&gt;“Aku nggak tau kamu masih di sini.” Ya. Ia masih di sini. Pangkatnya kini pembantu letnan dua. Dua puluh tahun yang lalu kami sama-sama ditempatkan di sini setelah lulus sekolah calon bintara. Saat itu, belum banyak kasus pencurian kayu jati di daerah ini. Tiga tahun bersama, hingga aku dipindahkan ke kota lain. Sangat mungkin catatan karirku inilah yang membuatku dipilih memimpin pertandingan hari ini, tapi hingga saat ini tak ada yang memintaku melakukan apa-apa.&lt;br /&gt;“Kamu sendiri di mana sekarang ?”&lt;br /&gt;“Kerawang.”&lt;br /&gt;“Waah… kamu senang ya, sekarang ? Secapa itu bagaimana, Han ?”&lt;br /&gt;“Yaah… sama saja… .” Tak enak rasanya membicarakan hal ini dengan Yono.&lt;br /&gt;“Heh, Han, Mudaiyah di sini sekarang.”&lt;br /&gt;Apa ? Mudaiyah ? Di sini ? Sekarang ? “Siapa ?”&lt;br /&gt;“Jangan bilang kamu lupa Mudaiyah, Han. Itu dia.”&lt;br /&gt;Mudaiyah dulu tinggal di dekat posku yang terletak sebelas kilometer sebelah Barat stadion ini. Tidak terlalu ramai, tapi mungkin karena aku cocok dengan alam dan masyarakatnya, tempat itu selalu terasa indah. Dan Mudaiyah menyempurnakannya.&lt;br /&gt;Di sanalah dia, mengenakan kaus berwarna merah menyala, seperti warna tim tuan rumah, duduk di tempat duduk pemain cadangan. Wanita di pinggir lapangan memang bukanlah hal yang aneh bagi sepakbola di negara ini. Rambutnya kini dipotong pendek, dan berat badannya tampak bertambah. Tapi Mudaiyah tetap cantik seperti dulu.&lt;br /&gt;“Ayo, Pak. Kita mulai.” Para pemain sudah siap. Pertandingan akan dimulai.&lt;br /&gt;“Oke, Yon, saya masuk.” Oh, aku harus menanyakannya pada Yono. &lt;/div&gt;&lt;div align="left"&gt;“Bagaimana situasi di luar, Yon ?”&lt;br /&gt;“Hingga saat ini terkendali, Pak.” Tangan kanannya diangkat ke atas dahi. Sepak bola memang duniaku, namun keamanan adalah hidupku.&lt;br /&gt;Para hakim garis telah selesai memeriksa jala gawang dan bendera penjuru. Kedua kapten tim bersalaman, dan undian dengan uang logam dilakukan. Entah siapa yang memenangkan undian itu, mereka toh sudah besar dan mampu mengurus diri mereka sendiri.&lt;br /&gt;Iyah, Iyah, Iyah. Kalau saja saat itu aku bisa menikahimu… . Pertama kali kulihat dia, usianya masih delapan belas belas tahun. Saat itu ia menyuguhkan minuman pada kami yang sedang bertamu. Kulitnya menyilaukan, dan rambutnya yang bergelombang sebahu membakar hatiku. Dadanya yang penuh menusuk jantungku. Aku lumpuh. Untung Sriyono bisa melanjutkan pembicaraan dengan bapaknya.&lt;br /&gt;Peluit awal pertandingan kutiup keras-keras. Tim tuan rumah punya kesempatan untuk menyerang. Kelihatannya Mudaiyah bersemangat sekali. Hei, kenapa dia berhenti. Tunggu, ada masalah. Seorang pemain tuan rumah tergeletak di dekat kotak penalti lawan. Sial, aku tak lihat bagaimana kejadiannya. Kutiup peluit. Tendangan bebas. Pemain tamu protes. Kuhampiri penjaga garis yang sejak tadi mengangkat benderanya.&lt;br /&gt;“Bagaimana, lihat jelas ?”&lt;br /&gt;“Pelanggaran, pak.”&lt;br /&gt;Untung saja. Protes pemain tamu tak kugubris. Tendangan bebas ini adalah tendangan bebas. Dan kuberi tanda boleh langsung. Kucuri pandang ke sisi lapangan.&lt;br /&gt;Kutarik napas panjang. Kutiup peluit keras-keras. Bola ditendang, tapi kiper menangkapnya. Ia memegang bola dan memain-mainkannya sebentar sambil menunggu teman-temannya mengisi posisi. Tak terlalu lama, bola ditendang jauh ke depan. Melambung tinggi ke udara. Seperti angan-angan kami dulu.&lt;br /&gt;“Pak Burhan tunggu di dalam saja, sebentar lagi mungkin bapak pulang.”&lt;br /&gt;Waktu itu aku sama sekali tak ingin bertemu bapaknya. “Aku memang pingin ketemu kamu. Nggak apa-apa?”&lt;br /&gt;Dia tersenyum. Manis. “Waduuh… lagi berantakan, Pak.”&lt;br /&gt;“Aah…, nggak, rapi begini, kok. Kamu yang bereskan ?”&lt;br /&gt;Senyumnya tidak hilang, “Bukan, hi… hi…”&lt;br /&gt;“Kamu kok udah gede makan coklat ?”&lt;br /&gt;“Lho… . Nggak boleh, toh ?”&lt;br /&gt;“Ya boleh. Memang kamu suka ?”&lt;br /&gt;“Iya… .”&lt;br /&gt;Sejak itu aku selalu membawakan coklat untuknya.&lt;br /&gt;Kedua tim bermain keras. Kondisi lapangan yang bergelombang dan tidak rata memang membuat pemain sulit bermain cantik.&lt;br /&gt;Ia memang Mudaiyah. Senyumnya masih semanis dulu.&lt;br /&gt;“Mas Burhan lebih ngganteng kalo nggak pake seragam.”&lt;br /&gt;“Masa ? Biasanya cewe’ suka cowo’ pake seragam.”&lt;br /&gt;“Aku nggak, tuh… . Aku bukan cewe’ kayak ‘gitu. Aku suka ‘liat Mas Burhan pake kaos.”&lt;br /&gt;Permainan makin keras. Penonton pun ikut terpancing.&lt;br /&gt;“Mas, katanya mau kawin ? Aku nggak sabar, Mas… .” Ia memelukku dari belakang, menggigiti daun telingaku. Aku terkejut. Hampir saja skuter yang kukendarai terpelanting.&lt;br /&gt;“Ya… ya… . Aku belom bisa kawin. Mungkin tahun depan, itu pun komandanku harus setuju.”&lt;br /&gt;“Kalau aku hamil, bagaimana ?”&lt;br /&gt;Sekali lagi skuter-ku hampir terpelanting. “Hamil ? Kamu hamil ?”&lt;br /&gt;“Nggak, kok. Tapi kalau iya, bagaimana ?”&lt;br /&gt;“Waduuh… nggak tau. Tapi pokoknya kamu nggak boleh hamil.”&lt;br /&gt;“Hi… hi… hi… . Masa hamil nggak boleh ? Kalo udah kawin ?”&lt;br /&gt;Aku tersenyum, membayangan aku telah menikah dengannya selalu membuatku bahagia. “Boleh.”&lt;br /&gt;Oooo… pelanggaran yang sangat keras. Kali ini penyerang tim tamu tergeletak. Bek tuan rumah harus kuganjar kartu kuning. Tentu saja dia dan teman-temannya protes. Itu sih biasaaa… . Tendangan bebas. Penonton semakin riuh. Bola diambil penyerang lawan. Tendangan keras. Merobek jala gawang tim tuan rumah. Tim tamu bergembira. Terlalu bergembira, mungkin. Penonton mulai menimpuki lapangan. Ritual paduan suara pun mulai terdengar, “Wasit… goblok… ! Wasit… goblok…!” Kupingku sudah cukup tebal.&lt;br /&gt;“Mas Burhan harus pergi dari sini ? Kenapa ?”&lt;br /&gt;“Belum tahu, Jeng. Tapi kata Yono, minggu lalu ia melihat bapakmu bicara dengan pak komandan di kantor. Mungkin karena itu.”&lt;br /&gt;“Mbok ya aku diajak.”&lt;br /&gt;“Ya nggak mungkin, Jeng. Tunggulah aku di sini. Aku pasti kembali.”&lt;br /&gt;Setahun kemudian, kudengar Mudaiyah dikawinkan oleh orang tuanya. Maka ruang dan waktu yang menyebalkan itu membawa pargi Mudaiyahku. Tapi seorang kawan menolongku, dan memotivasiku untuk bisa melanjutkan pendidikan. Aku menikah dengan seorang gadis di sana, bekerja keras, dan berhasil masuk sekolah calon perwira. Sekarang anakku berusia empat belas tahun.&lt;br /&gt;Lho, ini ada apa lagi ? Sial. Kali ini aku betul-betul meleng. Mudaiyah memang begitu menggoda. Untuk dimiliki, disentuh, didengar, dan dipikirkan.&lt;br /&gt;Para pemain tuan rumah mengangkat tangan mereka sambil memandangiku. Ada apa ? Kuhampiri lagi penjaga garis.&lt;br /&gt;“Saya ketutupan. Penalti ?”&lt;br /&gt;“Ya, Pak.” Ia menurunkan bendera yang sejak tadi diangkatnya tinggi-tinggi, “handsball.”&lt;br /&gt;Baik. Kutunjuk titik putih, sambil meniup peluit. Sekarang pemain tamu protes.&lt;br /&gt;“Lho, kenapa ? Kenapa ?” tanya mereka.&lt;br /&gt;“Handsball.”&lt;br /&gt;“Hen ? Siapa yang hen ? Dia sendiri yang hen ! Kamu ini, kalo buta jangan jadi wasit !” Mereka semua mengelilingiku.&lt;br /&gt;Aku mundur. Ini gawat. Mereka terus menghampiri. Penjaga garis datang membantu. Ia pun kini dikelilingi. Aku berjuang mencapai tempatnya berdiri. Penonton bersorak-sorak gembira. Beberapa benda mendarat di sekitarku.&lt;br /&gt;“Siapa yang handsball ?”&lt;br /&gt;“Anu, pak, mereka tabrakan. Dua-duanya hen.”&lt;br /&gt;Waduh… ini masalah serius. Ini salahku. Apapun yang terjadi, seorang wasit harus selalu memperhatikan bola.&lt;br /&gt;“Siapa yang kena bola lebih dulu ?”&lt;br /&gt;“Kelihatannya bek-nya, pak. Betul, Pak.”&lt;br /&gt;Kelihatannya ? Sialan betul orang ini. Pemain tamu masih mendesakku. Beberapa bahkan mulai berani mendorong-dorong bahuku. Aku harus berkonsultasi dengan siapa ? Pengawas pertandingan adalah satu-satunya orang yang masih bisa kutanya. Aku berlari ke tribun Barat.&lt;br /&gt;“Anda ndak meliat sendiri ?”&lt;br /&gt;“Posisi saya ketutupan, Pak.”&lt;br /&gt;“Mosok wasit ketutupan? Gemana kamu ini? Dari sini, saya yakin penyerang tuan rumah hens lebih dulu. Situasi gawat, tapi itu yang bener. Terserah anda sekarang.”&lt;br /&gt;Enak betul dia, sekarang terserah aku. Sambil berjalan ke lapangan kembali, aku melirik ke tempat cadangan tim tuan rumah. Di sana, Mudaiyah, dengan segala keindahannya, menatapku. Ya, saat inilah ia menyadari siapa aku. Matanya melebar, dan mulutnya membuka. Aku tak tahu apakah jantungku berdetak lebih keras atau berhenti. Cantiknya.&lt;br /&gt;“Mas Burhan… ,” aku memang tidak mendengar suaranya, tapi aku tahu itulah yang dikatakannya.&lt;br /&gt;Tugas lebih dahulu. Kutiup peluit. Kutunjuk arah gawang tim tuan rumah. Tidak ada penalti. Pemain tamu bertepuk tangan.&lt;br /&gt;Tapi pemain tuan rumah kini balik berlari mengejarku. Aku mundur. Sialan… . Aku sangat siap berlari bolak-balik di lapangan. Namun berlari sprint menghindari kejaran adalah hal yang berbeda. Napasku sudah tersengal-sengal. Pemain cadangan pun mengejarku. Dan mereka lebih dekat. Aku mencoba menghindari dorongan dan pukulan mereka. Sriyono mencoba menghalau, tapi ia dan anak buahnya lebih sedikit dan tidak berdaya.. Para penonton melompati pagar pembatas. Lapangan kini dipenuhi manusia. Bersamaan dengan itu, pintu besar stadion terbuka, dan massa dari luar stadion serempak masuk. Mereka semua ikut menyerbu lapangan.&lt;br /&gt;Aku mencoba berlari kembali ke arah tribun. Di sana, Mudaiyah memanggil-manggil dengan panik. Akhirnya, sepasukan polisi yang tersisa di sana bisa melindungiku.&lt;br /&gt;Toh wajahku lebam dan kepalaku bocor terkena lemparan botol. Mudaiyah merawatku di ruang ganti dengan penuh kesedihan. Ia menangis. Aku tak pernah melihatnya menangis.&lt;br /&gt;“Jangan menangis. Mau coklat ?”&lt;br /&gt;Ia tersenyum. “Kamu nakal, kenapa nggak jadi penalti, toh ?”&lt;br /&gt;“Aku nggak konsentrasi tadi, mikirkan kamu.”&lt;br /&gt;Air matanya menetes. Ia tersedu sebentar, lalu pergi. Aku tak pernah melihat Mudaiyah lagi setelah itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792842079750224?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792842079750224/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792842079750224' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792842079750224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792842079750224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/1999/03/mudaiyah-fiksi.html' title='Mudaiyah (fiksi)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792892172383459</id><published>1999-02-04T17:19:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:38:07.973-08:00</updated><title type='text'>Ningsih (fiksi)</title><content type='html'>Ningsih&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa benar kali ini terbukti bahwa kanker otak disebabkan gelombang telepon genggam ? Lalu mengapa pemerintah merasa perlu menarik semua jenis ponsel dari peredaran ?&lt;br /&gt;Ponselku. Telepon genggam yang sangat aku sayang. Kuning warnanya, seperti pisang. Kubeli dengan uang tabungan dari gajiku bekerja selama delapan bulan. Sejak pagi ini aku tak bisa menemukannya, dan sungguh, kini aku tak tahu harus berbuat apa. Yang jelas, aku tak mau menyerahkannya pada pemerintah.&lt;br /&gt;Tak cukup kah peringatan pemerintah yang tertera di sisi ponsel selama ini ? Tertulis tegas dan jelas: PERINGATAN PEMERINTAH: GELOMBANG TELEPON GENGGAM MUNGKIN BISA MENGGANGGU KESEHATAN. Dicetak timbul, tulisan itu tak mungkin tak terbaca orang. Kalau ternyata penarikan kembali seluruh telepon genggam itu masih didasarkan pada faktor kemungkinan, maka tuntaslah sudah usaha pemerintah menjajah warga negaranya.&lt;br /&gt;Ponsel yang amat kusayang. Kudapatkan dia dari sebuah toko di daerah Roxy, delapan bulan yang lalu. Bekas artis, kata si penjual. Dia pasti bilang begitu pada semua orang seperti aku, pendatang baru. Kini, kuakui aku sangat tergantung pada benda sialan itu.&lt;br /&gt;Komunikasi. Kegiatan sederhana, tapi bertanggung jawab penuh pada pembentukan peradaban manusia. Dulu orang ber-auwo. Atau pukul bedug. Atau bikin asap api unggun aneka rupa. Itu saja. Sekarang, telepon genggam adalah kunci kehidupan.&lt;br /&gt;Di mana dia ? Terakhir kulihat dia seharusnya tadi malam. Tadi malam aku … tunggu… aduh, aku lupa… di mana sih aku meletakkannya ?&lt;br /&gt;Jangan sembarangan, ponselku itu bukan ponsel asal-asalan. Selain konon dulunya milik artis, kemampuannya tak perlu diragukan. Gelombangnya tersambung langsung ke satelit, dan sejak itu, semua pelosok dunia berada di genggaman.&lt;br /&gt;Selain fungsi telepon genggam, Ningsih -demikian aku memanggilnya- juga berfungsi sebagai fax-modem, dan mini note-book. Ia mampu menyimpan empat ratus nomor telepon. Kalau engselnya dibuka, kita bisa mengetik apa saja di tubuhnya. Kalau tiba-tiba mendapat inspirasi puisi, tinggal tulis di situ. Kalau mau ketikan itu dikirim ke telepon lain, tinggal pencet. Mau kirim pesan ke jaringan komputer di seluruh dunia, juga tinggal tekan. Mau menerima pesan tertulis ? Bisa juga, walau kesannya menjadi agak primitif.&lt;br /&gt;Ningsih juga mampu berfungsi sebagai kalkulator. Bingung dengan neraca bulanan ? Ningsihlah yang akan menyelesaikan. Penunjuk waktu ? Tentu saja ada. Ningsih juga berfungsi sebagai remote televisi, radio dan sound system, microwave, alarm mobil, dan printil-printil lain dalam kehidupan manusia. Dan kini, karena dia tak ada, aku tak bisa menyalakan apa-apa.&lt;br /&gt;Di mana, ya ? Di kolong meja tidak ada. Di dapur juga, pun di antara sandaran sofa. Kutelusuri juga gudang dan teras. Apartemenku sebenarnya tak terlalu luas. Tapi percuma, Ningsih lenyap tak berbekas.&lt;br /&gt;Aku ingat saat-saat menyenangkan bersamanya. Bermain ? Ningsih mampu melakukan semua game yang tersedia. Dari catur hingga ular tangga, tetris sampai liga sepak bola. Adikku yang duduk di bangku SMU kadang-kadang meminjamnya. Nada panggilnya bisa diprogram atau direkam. Ningsih memiliki seluruh lagu the Beatles di memorinya. Juga lagu-lagu Yuni Shara.&lt;br /&gt;Tunggu. Ha… ha… ha… tentu saja. Aku kan tinggal meneleponnya. Nanti dia bernyanyi, dan suaranya tinggal kuikuti. Repotnya, aku tidak punya telepon kabel biasa. Buat apa ? Aku akan minta tolong satpam meneleponnya dari telepon kartu di bawah sana.&lt;br /&gt;Aku menunggu di dalam. Seharusnya suaranya sudah terdengar sekarang. Mungkin harus dicoba kembali. Kusuruh pak satpam menelepon lagi. Tapi apartemenku tetap sepi dan sunyi, tak terdengar suara apa-apa. Kini yang bisa kulakukan hanyalah menunggu.&lt;br /&gt;Ningsih juga menjadi agenda harianku. Ia mengingatkanku pada janji-janji yang kubuat, dan mengatur pembuatan janji-janji berikutnya. Menambah sesuatu pada kemampuannya, ia jugalah yang memilih dengan siapa aku ingin bicara. Pada bulan yang ke enam, ia mulai berani mengatur kapan aku harus mengecat ruangan, merubah posisi perabot, atau mengecek air aki mobilku. Orang-orang lain mungkin menganggap hal itu keterlaluan, tapi bagiku itulah yang namanya kepedulian. Kupikir, mungkin seharusnya orang-orang mulai menggaji telepon genggam mereka, bukankah hubungan semacam ini sudah mengarah pada eksploitasi loyalitas bawahan ?&lt;br /&gt;Bagaimana pun aku tidak pernah menganggap Ningsih sebagai sekertaris atau pegawai biasa. Hubungan kami lebih dari itu semua. Ialah yang mencukurkan kumis dan janggutku dua hari sekali. Ia jugalah yang membangunkanku setiap pagi. Biasanya dimulai dengan mesra, tapi kalau aku tidak segera bangun ia ngambek. Sungguh. Aku tidak tahu apakah telepon genggam lain juga bisa ngambek kalau si pemilik mengacuhkan apa yang mereka lakukan.&lt;br /&gt;Hal yang paling mendekatkan aku dengan Ningsih mungkin adalah suaranya. Suara Ningsih kuatur agar mirip dengan suara Ningsih, pacarku yang dulu. Kini ia memilih untuk bekerja di kota kecil. Ia juga suka ngambek kalau aku tidak segera bangun pagi-pagi. Kalau sudah ngambek, ia tak mau bicara berhari-hari. Di masa-masa akhir hubungan kami, ia tak pernah ngambek lagi. Sebaliknya ia sangat kolokan, dan tergantung padaku dalam segala bidang kehidupan. Kadang-kadang aku lupa kenapa aku melepasnya dulu. Apakah cintaku masih ada ? Tidak, tidak. Pikiran semacam itu tak boleh kubiarkan.&lt;br /&gt;“…hilang permataku… hilang harapanku… yang kutunggu sejak dulu kalaaa…”&lt;br /&gt;Aha, itu dia. Aku tahu ia ada di sini. Ia tak ke mana-mana. Ia tak akan pernah ke mana-mana. Tidak ke pemerintah, pemberontak, siapa saja.&lt;br /&gt;“Bagaimana kamu bisa begitu yakin ?” Sahutnya.&lt;br /&gt;“Ooo… sekarang kamu membaca pikiran ?” Jawabku. Ternyata di antara halaman majalah di atas meja makan.&lt;br /&gt;“Maaf,” suaranya ditajamkan. Seksi. “Tapi antenaku masih sangat baik.”&lt;br /&gt;Aku tak bisa menahan senyumku. Ia memang sedang ngambek. “Kamu nggak akan ke mana-mana, sayangku. Ayo, dong, senyum. Yuk, nonton tivi. Tolong nyalain sinetron Indonesia.”&lt;br /&gt;“Kamu akan dipenjara bila tak menyerahkanku kepada pemerintah.”&lt;br /&gt;“Kenapa takut dipenjara ? Selain kamu, aku nggak punya siapa-siapa. Lagi pula, kalau aku dipenjara, apa kamu nggak mencintaiku lagi ? Kamu mau menunggu, kan ?”&lt;br /&gt;Ningsih diam saja. Akhir-akhir ini ia memang sangat perasa. Mungkin terlalu banyak mendengar lagu-lagu Yuni Shara.&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792892172383459?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792892172383459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792892172383459' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792892172383459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792892172383459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/1999/02/ningsih-fiksi.html' title='Ningsih (fiksi)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-10675221.post-110792648869404564</id><published>1999-01-06T21:19:00.000-08:00</published><updated>2005-02-08T23:39:01.083-08:00</updated><title type='text'>pas ditinggal teman (essay)</title><content type='html'>Langit begitu luas, dan ke sanalah teman-teman satu persatu meninggalkanku. Ke timur, ke utara, timur laut, barat laut, tenggara, tak habis-habisnya. Cepat sekali, menerjang waktu.&lt;br /&gt;Langit yang luas memang memberikan seribu satu pilihan tujuan. Dan semua teman-teman berjalan tanpa beban mengayun langkah menuju kebebasan. Kebebasan yang indah… kebebasan yang menyenangkan.&lt;br /&gt;Kupaksakan senyumku, dan kuucapkan kata-kata perpisahan indah, yang mungkin kutujukan untuk diriku sendiri. Gumpalan awan kelam dan langit hitam di gelapnya malam memintaku mengucapkan janji-janji. Maka, sambil berjanji akan menanti mereka kembali, kupaksakan senyumku sekali lagi.&lt;br /&gt;Indahnya perjalanan antar galaksi. Indahnya melihat daratan keberangkatan dari kejauhan. Oooo… pelabuhan impian. Tinggalkan sekarang, sekaligus jadikan tujuan. Pulang… pulang… pulang…&lt;br /&gt;Dan sambil mengawasi satu persatu temanku lenyap dari pandangan, gumpalan awan kelam dan langit hitam di kejauhan membisikan permintaan untuk mengemasi barang-barang. Tapi kenapa harus pergi jika nanti harus kembali ?&lt;br /&gt;Fajar menyingsing, gumpalan awan kelabu mulai berkilau keemasan dan langit hitam kini memerah terpanggang. Sambil tersenyum mereka menjawab bersamaan, mengingatkan bahwa kembali pulang tidak berdiri sendiri sebagai tujuan.&lt;br /&gt;Aku belum mengerti. Mungkin aku memang harus mulai mengemasi barang-barang. (Depok, Januari 1998)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/10675221-110792648869404564?l=menjadi.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://menjadi.blogspot.com/feeds/110792648869404564/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=10675221&amp;postID=110792648869404564' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792648869404564'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/10675221/posts/default/110792648869404564'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://menjadi.blogspot.com/1999/01/pas-ditinggal-teman-essay.html' title='pas ditinggal teman (essay)'/><author><name>menjadi</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
